Keajaiban Nyata Bagi yang Tak Pernah Tinggalkan Salat 5 Waktu

UMAT Islam diwajibkan menjalankan salat lima waktu sebagai bekal ke surga dan diselamatkan hidupnya saat di dunia. Tapi sayang, masih banyak orang mengabaikan keajaiban salat lima waktu di kehidupan sehari-hari.

Padahal ketika Anda rajin salat akan banyak mengalami keajaiban hidup yang sempurna semasa di dunia. Bahkan, pahalanya berlipat-lipat ganda kalau Anda menunaikan salat secara berjamaah.

Allah berfiman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS, An-Nisa: 103)

Suatu ketika dalam perjalanan mir’ajnya, nabi melewati suatu kaum yang sedang bercocok tanam, lalu menuai pada hari itu juga. Setiap kali mereka tuai, setiap itu pula tanaman tersebut tumbuh kembali, seperti sebelum menuai.

Lalu Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka itu ya Jibril? Jibril menjawab, “Mereka adalah kaum mujahidin fi sabilillah. Pahala yang diberikan kepada mereka berlipat ganda hingga 700 kali lipat.”

Kemudian, Rasulullah juga melihat seorang wanita tua. Pada kedua lengannya berderet perhiasan yang mempesona. Rasulullah bertanya lagi kepada Jibril, lalu Jibril menjawab, “Ia adalah dunia dengan berbagai perhiasan yang ada padanya.”

Selanjutnya, Rasulullah melihat orang yang sedang memukul kepala dengan batu hingga pecah. Dari pecahan kepala itu mengucur banyak darah. Ajaibnya, kepala itu kembali sediakala.

Ada pula sebagian orang yang kembali memukul kepalanya dengan batu hingga berdarah dan seterusnya, hingga berkali-kali. Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka ya Jibril? Jibril menjawab, mereka adalah orang yang bermalas-malasan dalam menunaikan salat wajibnya.”

Dari dua contoh kisah tersebut, apakah Anda masih tetap mengabaikan salat. Sementara salat lima waktu hukumnya wajib, kalau tidak dilakukan akan dapat dosa Allah.

Sumber: Okezone.com

Makna Sosial di Balik Isro’ dan Mi’roj

Selama ini, Anda mungkin bertanya-tanya apa makna dan asal usul Isra’ Mi’raj? Perayaan yang dilaksanakan setiap malam 27 Rajab ini ternyata memiliki sejarah Panjang. Secara singkat, Isra’ Mi’raj adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi sejarah Islam di dunia. Pasalnya, pada peristiwa inilah Rasulullah mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra’ Mi’raj sebetulnya memiliki makna sosial, hal tersebut disampaikan oleh Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia, Ustadz Fauzan Amin. Berkaitan dengan kejadian luar biasa ini, Fauzan mengutip firman Allah SWT, 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” Al-Isra ayat 1.

Dalam konteks tersebut, Isra’ Mi’raj mengandung pesan sekaligus makna yang sangat luar biasa (khariqun lil ‘adzah).

“Setiap orang mempunyai refleksi yang berbeda-beda, tergantung kedalaman melihat dari berbagai sudut pandang masing-masing kira-kira apa yang bisa di ambil hikmah dari kejadian di atas,” tutur Ustadz Fauzan Amin.

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan, perjalanan Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ada dua sesi. Dari Makkah ke Masjid al- Aqsho di Palestina, sementara sesi kedua dari Baitul Maqdis menuju langit.

Pada saat Nabi melakukan perjalanan dari Makkah menuju Palestina inilah Allah anugerahkan keberkahan di sekitar rute perjalanan istimewa tersebut. الذى بارَكْنا حَوْلَه. Hingga kini keberkahan itu bisa dirasakan oleh semua orang seperti di kota-kota di sekitar Makkah, Madinah dan Masjidil Al Aqsho.

“Begitupun saat Nabi Muhammad ‘naik’ dan bertemu dengan Allah adalah sebuah gambaran seorang yang sedang atau telah berada pada posisi atas, baik dalam hal rohani atau lainnya seperti status sosial, ekonomi, dan pangkat jabatan. Sedang turunnya beliau ke bumi adalah cerminan sikap tidak melalaikan dan mau berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kebetulan berada pada posisi bawah,” kata Ustadz Fauzan Amin.

Sumber: Okezone.com

Apa Itu MaʻRûf dan Apa Itu Munkar

Kedua kata maʻrûf dan munkar merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab. Kemudian keduanya diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga penulisan keduanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dibakukan menjadi makruf dan mungkar. Menurut KBBI makruf diartikan dengan perbuatan baik atau jasa. Sementara mungkar dimaknai dengan durhaka dengan melanggar perintah Tuhan.

Dalam memahami suatu makna alangkah baiknya kita telusuri ke dalam bahasa asalnya. Dalam bahasa Arab setiap kata yang berakar dari huruf ʻainrâ’, dan fâ’ mempunyai dua makna asal yaitu: pertama, urutan sesuatu yang saling menyambung satu dengan lainnya. Kedua, tenang dan diam. Dari makna kedua inilah muncul kata maʻrûf. Disebut demikian karena siapapun pasti akan merasa tenang dengan suatu ke-maʻrûf-an. Sebaliknya orang manapun pasti akan lari dari ke-munkar-an. Demikian terang pakar bahasa Arab, Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah.

Makruf adalah sebuah sebutan bagi tindakan yang baik menurut akal dan syariat. Sehingga siapapun pasti menerimanya. Ketenangan dan kedamaian yang dihasilkannya. Tidak ada siapapun yang bakal menolak dan membencinya. Itulah namanya makruf.

Makruf dalam al-Quran mempunyai beragam makna sesuai konteks pembicaraan masing-masing ayatnya, kata maʻrûf diartikan dengan empat makna, yaitu:

  1. Ganti (lihat QS al-Nisa’ [4]: 6 & 114)
  2. Berhias pasca habisnya masa iddah (lihat QS al-Baqarah [2]: 234)
  3. Memberi nafkah sesuai dengan kemampuan suami (lihat QS al-Baqarah [2]: 235 263 dan QS al-Nisa’ [4]: 5 & 8)
  4. Janji yang baik (lihat QS al-Baqarah [2]: 241 & 233)

Sebaliknya sebagai lawan dari kata maʻrûfmunkar mempunyai arti asal lawan dari pengetahuan yang dapat menenangkan hati. Munkar dan ingkar masih dari satu akar yang sama. Menurut al-Ashfihani asal makna keduanya adalah terlintasnya sesuatu yang tidak dibayangkan oleh hati. Dalam kaitannya dengan redaksi munkar, al-Ashfihani memaknai munkar sebagai suatu perbuatan yang dianggap buruk oleh akal sehat atau dinilai buruk oleh syariat meski dinilai baik oleh akal manusia biasa. Al-Munawi menambahkan bahwa mungkar adalah suatu tindakan atau ucapan yang tidak diridai oleh Allah swt.

Dari pemaparan makna makruf dan mungkar di atas semoga menjadi jelas bagi kita umat Nabi Muhammad saw. Sehingga kita bisa beramar makruf dan nahi mungkar dengan baik. Sebab Allah swt mencap kita umat Muhammad saw sebagai umat terbaik karena senantiasa menjalankan amar makruf dan nahi mungkar. Bukan umat yang merasa terbaik tapi belum melakukan yang terbaik bagi nama baik Islam dan umat Muslim di manapun berada. Semoga amar makruf dan nahi mungkar kita membawa ketenangan dan kedamaian bukan penolakan dan pengusiran. Amin. (Ali Fitriana)

Nilai Kemuliaan yang Hakiki dan yang Palsu Setelah al-Quran menggugurkan keutamaan dengan menggunakan nasab dan kabilah, ia mengarahkan pada standar nilai yang hakiki dengan mengatakan: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”.

Demikianlah al-Quran mencoret dengan tinta merah semua keistimewaan-keistimewaan fisik dan materi seraya memberikan kepastian terhadap permasalahan takwa dan takut kepada Allah dengan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih utama dan mulia dari takwa yang merupakan karakter jiwa dan batin yang harus menancap dalam hati dan jiwa sebelum hal apapun.

Dalam kitab tafsir al-Mizan deisebutkan bahwa ayat “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” menjelaskan apa yang menjadi kemuliaan di sisi Allah SWT, yakni sebagaimana yang telah dijelaskan di awal ayat bahwa manusia mereka semuanya sama tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya dan tidak ada yang lebih utama dari yang lainnya, dan bahwa perbedaan dari segi bangsa atau suku itu hanyalah agar mereka saling mengenal dan dengan demikian juga bisa menjadi masyarakat yang kokoh dan tolong menolong dan inilah tujuan dari penciptaan bangsa dan suku yang berbeda-beda bukan untuk membanggakan diri dengan nasab dan mengaku lebih utama karena hal-hal seperti kulit putih atau hitam sehingga sebagiannya memperbudak sebagian yang lainnya dan menyebabkan munculnya kerusakan di muka bumi dan kehancuran.

Pada ayat tersebut Allah SWT menjelaskan apa yang menjadi kemuliaan di sisi-Nya dan ini adalah hakikat dari kemuliaan. Yakni bahwa manusia tercipta untuk mencari suatu kemuliaan yang membedakannya (menjadikannya istimewa) dari yang lainnya, dan kebanyakan manusia karena keterikatan mereka dengan dunia memandang bahwa kemuliaan ada pada keutamaan meterial berupa harta, kecantikan nasab, kemuliaan leluhur dan lain sebagainya, sehingga mereka mencurahkan daya upaya mereka untuk mendapatkannya untuk kemudian membanggakannya atas yang lainnya.

Keutamaan tersebut semuanya adalah palsu dan tidak memberikan kemuliaan apapun bagi mereka kecuali kesengsaraan dan kehancuran.

Kemuliaan yang hakiki adalnah yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hakiki yakni kehidupan yang baik dan abadi di sisi Tuhannya dan kemuliaan ini adalah takwa kepada Allah SWT dan ini merupakan satu-satunya cara untuk sampai kepada kebahagiaan di akhirat dan kebahagiaan di dunia juga akan mengikutinya.

Allah SWT berfirman:

تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). (Qs. al-Anfal: 67)

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى

Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa

(Qs. al-Baqarah: 197)

Jika kemuliaan itu diukur dengan takwa maka paling mulianya manusia adalah yang paling bertakwa di antara mereka sebagaimana firman dari Allah. Dan tujuan yang dipilih oleh Allah dengan ilmu-Nya ini adalah tujuan bagi manusia yang tidak akan menemui benturan dan tidak akan ada saling dorong-mendorong antara pihak yang terlibat dengannya, berbeda dengan tujuan-tujuan dan kemuliaan-kemuliaan yang dituju manusia berdasarkan khayalan mereka seperti kekayaan, kepemimpinan, kecantikan dan lain sebagainya.

Dan firman Allah: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”adalah penekanan untuk ayat ini dan sebagai isyarat bahwa kemuliaan yang Allah pilihkan untuk manusia adalah kemuliaan hakiki yang Ia pilih dengan ilmu dan pengetahuan-Nya berbeda dengan kemuliaan yang dipilih oleh manusia untuk diri mereka sendiri yang merupakan khayalan palsu  dan hanyalah hiasan dunia belaka. Allah SWT berfirman:

وَما هذِهِ الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوانُ لَوْ كانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (Qs. al-Ankabut: 64)

Pada ayat ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan hidupnya manusia wajib mengikuti perintah Tuhan-nya dan memilih apa yang telah dipilih oleh-Nya dan Allah telah memilihkan untuk mereka takwa.

Bisa jadi banyak orang yang mengklaim bahwa dirinya telah bertakwa sedangkan nyatanya yang menyandang ketakwaan itu lebih sedikit maka al-Quran menambahkan di akhir ayat dengan kata-kata: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Allah mengenal orang-orang yang benar-benar bertakwa dan Dia mengetahui derajat ketakwaan mereka serta keikhlasan niat mereka dan kesucian mereka maka Dia memuliakan mereka sesuai dengan pengetahuan-Nya. Adapun para pengklaim palsu mereka juga akan dihisab dan dibalas atas kebohongannya.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan:

Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang dengan fitrahnya ingin menjadi wujud yang memiliki nilai dan kebanggaan, oleh karenya dia berusaha dengan segala eksistensinya untuk memperoleh nilai tersebut, hanya saja pengetahuan tentang standar dari nilai tersebut berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kebudayaan dan bisa jadi nilai yang palsu mengambil tempat yang lebih jelas sehingga tidak tersisa lagi tempat untuk nilai yang benar.

Karenanya sekelompok orang memandang bahwa nilai mereka yang hakiki adalah dinisbatkan kepada kabilah yang terkenal oleh karenanya demi mengangkat reputasi kabilah dan kelompok mereka, mereka menampakkan aktifitas-aktifitas umum untuk menjadi pemimpin karena keluhuran dan ketinggian pangkat kabilah mereka.

Perhatian terhadap kabilah dan kebanggaan yang dinisbatkan kepada hal tersebut merupakan hal yang tidak nyata di mana kabilah tertentu menganggap dirinya lebih mulia dari kabilah yang lain, dan sangat disayangkan malapetaka Jahiliyah ini kita temukan dalam banyak jiwa individu masyarakat.

Kelompok lain menganggap harta sebagai standar dari nilai kemuliaan  seseorang, mereka berusaha menumpuk-numpuk harta untuk mendapatkan kemuliaan tersebut, sedangkan kelompok yang lain menganggap bahwa politik dan sosial yang tinggi merupakan standar kemuliaan seseorang.

Demikianlah setiap kelompok memiliki jalan masing-masing, mereka mencari nilai-nilai tertentu dan menganggapnya sebagai standar kemuliaan seseorang. Karena semua hal ini bersifat materi dan palsu, Islam memberikan standar hakiki sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang yakni ketakwaan, kesucian hati dan keteguhan agama. Sehingga dia tidak memperhatikan tema-tema penting seperti ilmu pengetahuan dan kebudayaan jika hal itu tidak berada dalam jalur keimanan, ketakwaan dan akhlak.

Takwa kepada Allah serta memerangi syahwat dan berpegang teguh kepada kebenaran, kejujuran, kesucian dan keadilan adalah tolok ukur dari nilai kemanusiaan itu sendiri bukan yang lainnya, hanya saja nilai-nilai asli ini seringkali terlupakan oleh masyarakat dan digantikan oleh nilai-nilai palsu.

Dalam lingkungan orang-orang Jahiliyah yang meyakini bahwa nilai kemuliaan seseorang ada pada kebanggaan pada leluhur mereka, harta dan anak-anak mereka muncul para perampok dan perampas, sebaliknya dalam lingkungan orang-orang yang berlandaskan ayat “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” muncul orang-orang seperti Salman, Abu Dzar, Ammar, Yasir dan Miqdad.

Kedua: Hakikat dari ketakwaan seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa al-Quran memberikan keistimewaan terbesar untuk ketakwaan dan menganggapnya sebagai satu-satunya tolok ukur untuk mengenal nilai kemuliaan seseorang dan juga menganggapnya sebaik-baiknya bekal seraya mengatakan:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى

Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (QS. al-Baqarah: 197)

Adapun dalam surat al-A’raf al-Quran mengumpamakannya dengan pakaian:

وَلِباسُ التَّقْوى ذلِكَ خَيْرٌ

 Dan pakaian takwa itulah yang paling baik”. (QS. al-A’raf: 26) 

Sebagaimana al-Quran juga mengumpamakan dalam ayat lain bahwa takwa adalah salah satu dasar dakwah awal para Nabi dan  meninggikannya dalam beberapa ayat sampai-sampai al-Quran mengumpamakan Allah sebagai ahlu taqwa:

هُوَ أَهْلُ التَّقْوى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun. (QS. al-Mudatsir: 56)

Al-Quran menganggap takwa sebagai nur (cahaya) dari Allah (QS. al-Baqarah : 282) dan menggandengkan takwa dengan kebaikan (QS. al-Maidah: 2) dan keadilan (QS. al-Maidah: 8).

Sekarang kita harus melihat hakikat takwa yang merupakan modal maknawiyah paling besar dan kebanggaan bagi manusia. Al-Quran telah memberikan isyarat yang mengungkap hakikat takwa dan menyebutkan dalam sejumlah ayat bahwa hati adalah tempat bagi ketakwaan:

أُولئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوى

Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa”.(QS. al-Hujurat: 3)

Dan al-Quran menjadikan takwa sebagai lawan dari kefasikan:\

فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (QS. as-Syams: 8)

Al-Quran juga menganggap setiap amalan yang muncul dari jiwa yang beriman dan ikhlas serta niat yang jujur merupakan dasar ketakwaan sebagaimana ia mensifati masjid Quba (di Madinah) yang dibangun oleh orang-orang munafik yang berlawanan dengan masjid Dhirar:

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu solat di dalamnya”. (QS. at-Taubah: 108)

Makna Taqwa dari keseluruhan ayat-ayat di atas dapat kita pahami bahwa ketakwaan adalah kesadaran tentang tanggung jawab dan janji yang menetapkan keberadaan manusia, hal itu adalah hasil dari keteguhan iman dalam hatinya yang ia hindarkan dari kefasikan dan dosa serta mengajaknya untuk beramal soleh dan membersihkan amalan-amalan manusia dari berbagai kotoran dan menjadikan pikiran dan niatnya bersih dari berbagai noda.

*Fairozi, Pengiat ISQH Nasional, sedang menyelesaikan studi magister di Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Menelaah Makna Kafir dalam Al-Qur’an

Kafir-mengkafirkan bukan tema yang baru dalam perjalanan sejarah hidup manusia. Dulu berawal dari terjadinya arbitrase antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, tiba-tiba datang Kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali beserta pengikutnya karena mengambil suatu keputusan yang bukan hukum Allah.

Tragisnya, kelompok Khawarij kemudian menghalalkan darah Ali beserta pengikutnya. Karena, menurut mereka, manusia yang mengambil suatu keputusan di luar ketentuan Tuhan adalah kafir dan orang kafir itu halal darahnya untuk dibunuh. Pakar sejarah mencatat bahwa tumbuhnya benih ekstrimisme ada pada masa kepemerintahan Ali.

Kafir-mengkafirkan ini ternyata belum tuntas, walau dari waktu ke waktu terus diamputase hingga ke batang akarnya. Anehnya, bibit pengkafiran ini semakin berkembang hingga di era kontemporer sekarang ini. Seorang muslim seakan mudah mengkafikan saudaranya sendiri, kendati mereka sesama muslim.

Sejenak saya bertanya: Apa itu kafir? Secara gramatik, kata “kafir” merupakan isim fail (kata pelaku) yang terambil dari kata kerja “kafara”. Kata ini beserta kata yang seasal dengannya disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 525 kali. Dari banyak kuantitas istilah kafir ini, apakah semuanya memiliki makna yang berbeda?

Kata “kafir” memiliki beberapa arti, antara lain “menutupi”seperti yang tersebut dalam surah Ibrahim ayat 7: Dan (ingatlah) ketika Tuhan Pemelihara kamu memaklumkan: “Demi (kekuasaan-Ku), jika kamu bersyukur, pasti aku tambah (nikmat-nikmat-Ku) kepada kamu dan pasti jika kamu mengingkari (nikmat-nikmat-Ku), maka sesungguhnya siksa-Ku benar-benar sangat keras.” Seseorang diklaim kafir pada ayat ini karena “menutupi” nikmat Allah dengan cara tidak mensyukurinya dan kemudian diistilahkan dengan kufur nikmah (kafir atas nikmat).

Makna “menutupi” ini termasuk makna dasar yang beberapa makna yang lain biasanya dikembalikan kepadanya. Selain itu, makna “menutup” juga tercakup dalam ayat pertama surah al-Kafirun, yang berbunyi: Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): “Hai orang-orang kafir”. Kaum musyrikin pada ayat ini disebut kafir karena mereka menutupi hatinya untuk membenarkan Allah, para rasul serta semua ajarannya, dan hari kiamat. Kekafiran semacam ini disebut “kufr al-inkar” (kafir sebab ingkar).

Pada tempat lain, kata “kafir” dipahami dengan arti “para petani” atau kuffar. Disebutkan dalam surah al-Hadid ayat 20, yang berbunyi: Ketahuilah (hai hamba-hamba Allah, yang terperdaya oleh kenikmatan hidup duniawi) bahwa kehidupan dunia hanya permainan dan kelengahan, serta perhiasan dan bermegah-megah antara kamu (yang mengantar pada dengki dan iri hati) serta berbangga-bangga tentang (banyaknya) harta dan anak (keturunan); (kehidupan dunia) ibarat hujan yang mengagumkan kuffar, para petani tanaman-tanaman (yang ditumbuhkan oleh-)nya kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu engkau lihat ia menguning kemudian ia menjadi hancur.

Benar. Para petani disebut dengan kuffar pada ayat tersebut karena mereka menutupi atau menyembunyikan benih dengan tanah waktu bercocok tanam. Satu makna yang lain adalah denda atau kaffarah seperti yang tersebut dalam surah al-Maidah ayat 89 dan 95Sesuatu disebut kaffarah karena menutup pelanggaran salah satu ketentuan Allah dengan denda tersebut.

Makna “kafir” kemudian berkembang, seperti banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, adalah mendustakan kebenaran Allah, para rasul beserta semua ajaran yang mereka bawa, dan hari kiamat. Secara sederhana, kafir sepadan dengan syirik, sementara syirik adalah lawan dari iman. Menarik untuk dijawab subah pertanyaan: Apakah orang yang beragama di luar Islam disebut “kafir”, padahal mereka mempercayai atau beriman terhadap keesaan Tuhan? Dan tak kalah menariknya untuk ditanyakan pula: Benarkah orang muslim yang berbeda sekte disebut kafir, padahal mereka mempercayai Allah sebagai Tuhan mereka?

Al-Qur’an tidak mengklaim kafir orang yang beragama di luar Islam seperti Yahudidan Nasrani pada zaman dahulu, atau Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu pada era sekarang. Selagi semua agama tidak menutup hatinya untuk mempercayai keesaan Tuhan, mereka masih “muslim”, bukan “kafir”. Disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 62, yaitu: Sesungguhnya orang-orang yang beriman (kepada Nabi Muhammad saw.), orang-orang Yahudi (yang mengaku beriman kepada Nabi Musa as.), orang-orang Nasrani (yang mengaku beriman kepada Nabi Isa as.) dan orang-orang Shabi’in (kaum musyrik atau penganut agama dan kepercayaan lain), siapa saja di antara mereka yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Hari Kemudian (sesuai dengan segala unsur keimanan yang diajarkan Allah melalui nabi-nabi) serta beramal saleh, maka untuk mereka pahala mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka, tidak ada rasa takut menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 

Bila orang non-muslim sendiri belum diklaim kafir oleh Al-Qur’an, maka saudara semuslim yang berbeda sekte tentu masih muslim kaffah, sejati. Tidak benar suatu kelompok yang gemar mengkafirkan saudaranya sendiri, karena berbeda pemikiran atau pemahaman, sebab perbedaan itu adalah rahmat, bukan mendatangkan petaka. Dan, hati-hatilah bahwa “mengkafirkan” orang lain, sementara orang yang dikafirkan masih muslim, berakibat pada kekafiran sendiri. Naudzu bil-Llah.[]

Khilafah Produk Politik, Bukan Agama

Hanya mereka yang tidak mengerti al-Qur’an dan membaca sejarah Islam yang akan menyangkal judul di atas. Oleh karena itu, perlu ditegaskan bahwa kegandrungan sebagian masyarakat Muslim di Indonesia terhadap sistem khilafah sebagai bentuk pemerintahan Islam adalah fenomena baru.

Dari awal, bahkan sebelum kebebasan, ide khilafah itu sama sekali tidak menjadi pertimbangan kaum Muslim. Dua tahun setelah Khilafah Usmaniyah dibubarkan pada 1924, kongres tentang khilafah digelar di Kairo dan Jeddah, yang juga dihadari oleh peserta dari Indonesia.

Seperti dituturkan oleh Prof. Hamka, salah seorang peserta kongres tersebut adalah bapaknya sendiri. “Peserta dari Indonesia sama sekali tidak antusias dengan sistem khilafah,” tulis Hamka dalam memoar mengenang orang tuanya, Ajahku: Riwajat Hidup Dr. H. Abd Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera (1958).

Peserta lain adalah Mohammad Natsir, seorang tokoh utama partai Islam Masyumi. Dalam bukunya, Islam dan Kristen di Indonesia (1969), Natsir juga menyinggung keikutsertaannya dalam kongres khilafah, tapi dia tidak tertarik. Ia lebih memilih ide Negara Islam, daripada khilafah.

Konsep Negara Islam yang ada dalam pikiran Natsir bukan teokrasi ala khilafah. Ia yakin bahwa betul bahwa Negara Islam itu tidak bertentangan dengan demokrasi. Makanya, dia mengatakan Negara Islam tidak teokrasi dan juga bukan sekuler, ada “Negara Demokrasi Islam”.

Artinya, sejak awal kelahiran Republik Indonesia, sistem khilafah memang bukan alternatif. Baru Muslim Muslim di Indonesia dibodohi dengan propaganda yaitu khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Selain tidak sesuai al-Qur’an, propaganda itu bersifat ahistoris.

Khalifah dalam al-Qur’an dan Tafsir Awal

Kata “khilafah” berasal dari akar kata yang sama dengan “khalifah”, yaitu “kh-lf”. Dalam literatur politik Islam klasik, pemerintahan khilafah dipimpin oleh seorang khalifah. Namun, jika dirujuk ke al-Qur’an, kata “khalifah” itu tidak memiliki konotasi politik.

Dalam kisah Adam yang berlangsung dalam surat al-Baqarah (2), ada dialog antara Tuhan dan malaikat yang berhubungan dengan seorang khalifah. Ketika Allah berfirman kepada malaikat, “Saya akan menciptakan seorang khalifah di atas bumi.” Respons malaikat, “Akankah Engkau menciptakan di atas bumi seorang yang akan melakukan kerusakan?” (QS 2:30).

Jelas sekali bahwa al-Qur’an tidak menggunakan istilah “khalifah” dalam definisi pemimpin politik. Lirik disimak bagaimana kata “khalifah” dipahami dalam tafsir awal mula.

Prof. Wadad al-Qadi dari Universitas Chicago, AS, melakukan studi tentang penafsiran khalifah di kalangan mufasir Muslim awal, terutama zaman pra-Tabari (w. 310/922). Mengapa literatur tafsir yang dipilih adalah karya-karya sebelum zaman Tabari? Sebab, Tabari itu cukup bermakna dalam rentang waktu menggunakan kata “khalifah” yang berkonotasi sebagai pemimpin politik. Dalam sumber-sumber yang dapat dipercaya, kata “khalifah” disematkan kepada pemimpin politik itu baru terjadi pada masa dinasti Umayyah, akan terjadi di akhir akhir tulisan ini.

Maka, fokus studi Prof Qadi tafsir-tafsir yang ditulis atau diproduksi pada zaman Umayyah, yang berkuasa antara tahun 661-750. Kesimpulan Qadi sangat menarik: kata menggunakan “khalifah” sebagai pemimpin politik dan tidak ada dalam sebagian besar karya pada masa pemerintahan Umayyah dan awal pemerintahan Abbasiyah. Sementara dalam tafsir-tafsir yang lebih awal, khalifah dimaknai tanpa konotasi politik apa pun.

Akar kata “kh-lf” bisa berarti “mungkin”, “orang yang datang setelah yang lain”. Para mufasir bingung dan bagaimana memahami kata “khalifah Allah”: mengutip Allah? Tapi, pertanyaan yang lebih subtil adalah: Mengapa manusia begitu mulia membentuk “khalifah” di atas bumi?

Terkait pertanyaan itu, dua alternatif jawaban diajukan, yang berkorespondensi dengan kronologi penggunaan istilah “khalifah” secara politik. Dalam tafsir yang ditulis pada masa masa Umayyah bercampur khalifah tak lain sebagai gelar pemimpin politik, alasan yang diajukan adalah karena manusia memiliki kemampuan untuk mengelola atau mengembangkan alam. Para paruh akhir zaman Umayyah, manusia disebut khalifah karena kemampuannya untuk memimpin.

Khilafah sebagai Institusi Politik

Dari penelusuran penafsiran “khalifah” dalam literatur tafsir awal tampak lepaskan dalam pemaknaan kata “khalifah”. Ini juga bukti nyata bahwa tafsir kontekstual itu tidak terhindarkan karena tak ada pemahaman yang lahir di ruang hampa. Tapi ini disebut lain yang akan saya diskusikan dalam tulisan lain. Cukup katakan di sini, praktik politik dan mempengaruhi corak penafsiran al-Qur’an.

Dalam buku-kitab sejarah Islam, kata “khalifah” itu disematkan kepada para pemimpin politik pasca wafatnya Nabi Muhammad.Empat khalifah pertama disebut “khulafa ‘rasyidun”, para khalifah yang baik. Tapi sebenarnya kita tidak punya bukti dokumenter yang ditulis sezaman dengan khulafa ‘rasyidun yang menunjukkan bahwa mereka memang disebut khalifah pada zamannya. Mereka penyebutan sebagai khulafa ‘(bentuk jamak dari “khalifah”) lebih merupakan proyeksi ke belakang yang dilakukan oleh para penulis Muslim di era itu pemimpin politik yang disebut khalifah.

Disebut kita tahu, kitab-kitab yang menyebut Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali sebagai khulafa ‘itu ditulis pada zaman Abbasiyah.Barangkali Abdulmalik bin Marwan, pemimpin dari dinasti Umayyah, yang pertama disebut sebagai khalifah. Ini terbukti dari mata uang koin yang dikeluarkan oleh Abdulmalik. Khalifah Umayyah ini melakukan reformasi uang dan mencetak uang dalam beberapa versi, dari yang semula mata uang Persia hingga akhirnya mengeluarkan koin dengan gambar dirinya dengan tulisan di bagian pinggir: khalifah Allah.

Lama, para pemimpin kaum Muslim itu disebut “amirul mu’minin” (perangkat kaum beriman). Apa yang dilakukan Abdulmalik itu tidak mengagetkan dan menyebar dengan proyek “Islamisasi” dan “Arabisasi” yang gencar dilakukan di zamannya. Kontribusi khalifah Abdulmalik bagi formasi islam seperti kita saksikan sekarang sangat besar. Kata “khalifah” dan “khilafah” pun menjadi kosa kata politik yang terwariskan hingga saat ini.

Namun demikian, khilafah Umayyah justru dianggap tidak cukup Islami oleh dinasti yang menggulingkannya, khilafah Abbasiyah.Revolusi Abbasiyah yang memungkinkan berbagai intrik politik yang kotor, manipulasi, dan pembodohan yang mungkin tidak ada dalam sejarah. Dan juga pertumpahan darah.

Tapi alih-alih dari khilafah ke jalur yang diarahkan oleh empat khalifah pertama, para pemimpin Abbasiyah pada sistem pemerintahan dari Sasanid Persia. Misalnya, dalam struktur pemerintahan yang digunakan oleh Wazarah, yang mungkin selevel dengan kantor Perdana Menteri. Para teoritisi politik Muslim diusulkan, sistem Wizarah yang baru terbit pada zaman Abbasiyah, dan dipinjam dari Persia. Maka, penulis teori politik Islam seperti al-Mawardi atau Abu Ya’la telah merumuskan tugas-tugas “wazir” yang terkait dengan tata cara negara tidak berbenturan dengan otoritas khalifah.

Pengadopsian model pemerintahan Persia juga tidak mengagetkan karena banyak khalifah berasal dari birokrat Persia, seperti Ibnu Muqaffa atau Nizam al-Mulk. Dan pengadopsian itu memang wajar karena khilafah memang tampil politik dan bukan agama.

Bukan saja sistem khilafah tidak termasuk rukun Islam dan rukun iman, juga tidak ditemukan dalam al-Qur’an atau praktik Nabi. Sejarah juga membuktikan bahwa khilafah itu produk politik (dan sudah terbukti gagal). Jadi, tolong jangan identikkan khilafah dengan Islam!

oleh: Prof. Mun’im Sirry, Ph.D.

Terminologi Kafir

Belakangan ini kita dihebohkan oleh ungkapan yang terlalu vulgar, diekspos secara serampangan dan ditujukan kepada sembarang orang. Kafir, begitulah ungkapan itu. Seolah-olah kata tersebut memiliki makna tunggal, yaitu keluar dari Islam.

Saya rasa istilah ini sangat sederhana dan terlalu prematur jika disematkan kepada umat yang berlainan kepercayaan dengan kita. Karenanya, berangkat dari alasan itulah tulisan ini dibuat, agar kita tidak terjebak ke dalam istilah yang kita sendiri tidak memahaminya secara integral dan komprehensif. Nah, jika sudah terjerumus ke dalam wilayah di mana kita tidak memahami dengan baik sebuah objek, maka pada dasarnya kita telah menjadi musuh dari apa yang tidak kita ketahui itu, al-Naas a’daa’u ma Jahilu.
Apabila seseorang tidak atau belum mampu memahami suatu istilah yang sudah jelas terminologinya, agama menganjurkan kepadanya untuk diam dan tidak tampil ke tempat umum seolah-olah ia pakar pada bidang tersebut, atau kalau tidak ia harus bertanya kepada para ahli di bidang itu untuk selanjutnya dianalisa lewat diskusi-diskusi serius. Sehingga melahirkan sebuah pemahaman yang utuh,  siap diuji dan diverifikasi dengan berbagai pendekatan dan metodologi yang ada. Dalam hal ini al-Qur’an secara implisit menegaskan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isra, 17:36). 
Walaupun para ahli tafsir, baik dari kalangan dirayah dan riwayah masih berselisih pendapat soal makna ‘Ilmun sebagaimana yang dimaksud pada ayat di atas, apakah ia mempunyai arti dalam konteks pengetahuan agama saja atau bukan, yang jelas sejauh pegamatan saya, ayat ini bersifat global dengan latar belakang pemahaman yang menyertainya. Prinsipnya adalah bahwa apapun yang kita lakukan dalam hal ini amal perbuatan seyogyanya harus berpijak pada teori ilmu pengetahuan.
Kafir dalam Tinjauan Linguistis dan Historis
Sebagaian besar pakar linguistik mengatakan, term kafir mempunyai arti yang sangat luas, dengan cakupan yang bermacam-macam pula. Louis Makluf penyusun kamus al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam pada halaman 691 memberikan pengertian “menutupi dan menghalangi”. Meskipun pengertiannya tidak hanya ini saja tergantung bagaimana wazan yang mengiringinya. 
Sedangkan al-Jirjani dalam al-Ta’rifat halaman 194 memberikan pengertian kata kafir dengan kufranun dengan istilah sebagai orang yang menutupi nikmat Allah. Sederhananya, jika merujuk pada pengertian yang telah dipaparkan oleh Luois Makluf dan dan al-Jirjani, maka pengertian kafir ini tidak hanya dalam konteks keyakinan semata. Jika kata tersebut dipadankan dengan nikmat misalnya, maka pengertiannya adalah lawan dari orang-orang yang bersyukur yakni orang-orang yang kufur. 
Dalam hal ini Allah SWT menegaskan di dalam al-Qur’an:“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur (mengingkari nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS. Ibrahim, 14:07). 
Maka dengan demikian, timbul pertanyaan yang mungkin mampu menggugah naluri kita sebagai umat Islam, sudahkah kita bersyukur secara optimal atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita? Atau malah kita menjadi kafir karena kurangnya rasa syukur? Di sinilah kemudian struktur pada premis kafir itu dipertautkan, apakah kita menjadi muslim yang kafir atau kafir yang muslim? 
Jika kita merasa sulit untuk menjawab pertanyaan di atas, mengapa kita menggampangakan diri untuk mengklaim orang lain dengan sebutan kafir? Atau mungkin karena ada faktor lain yang melatarbelakanginya, semisal persoalan politik. Dan jika itu yang menjadi starting point-nya, maka akan ada penafsiran-penafsiran baru yang mengejutkan yang tidak ada di dalam tafsir manapun. 
Menurut Prof. Komaruddin Hidayat (1996:22), bahwa dalam perjalanan sejarah umat manusia, mereka selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan intelektual karena didorong oleh ketidaktahuan dan keingintahuannya. Berangkat dari ungkapan itulah maka saya menekankan perlu adanya rekonstruksi pemahaman terhadap suatu istilah, termasuk pengertian kafir itu sendiri. 
Saya pribadi mempunyai klasifikasi tersendiri dalam memahami istilah kafir yang tentu berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang lain. Setidaknya ada tiga istilah mengenai hal itu, yakni Kafir Teologis, Kafir Politis, dan Kafir Ekonomis. 
Menurut al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-A’raf ayat 172 bahwa semua umat manusia sebelum dilahirkan ke muka bumi, tepatnya ketika berada di alam ruh, mereka mengadakan perjanjian kepada Allah seraya berfiman: Alastu Birabbikum? “bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab: Bala Syahidna “iya kami bersaksi (bahwa Engkau Tuhan kami)”. Namun pada perjalanannya, terutama saat manusia sudah berada di muka bumi, mereka banyak yang ingkar atas perjanjian tersebut dan menutup hati dalam mengakuiAllah sebagai Tuhan mereka. Inilah yang kemudian dalam perspektif sebagaimana saya jelaskan di atas sebagai kafir teologis. 
Perlu dikatahui bahwa pada wilayah ini, manusia tidak punya hak, apalagi mampu mengklaim manusia lain sebagai kafir.Karena batas wilayah perjanjiannya bukan manusia kepada manusia, akan tetapi manusia kepada Allah selaku Tuhan. 
Namun kenyataannya pada saat ini, banyak  di antara manusia yang seakan-akan mewakili Allah dalam menghakimi orang lain sebagai kafir. Mereka tanpa sadar telah menelanjangi diri sebagai orang-orang yang tidak mengetahui sebagaimana dikatakan oleh al-Ghazali: “Innahu aa yadri annahu la yadri”.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya muncul istilah kafir politis, istilah ini lahir pertama kali tepat pada perhelatan kongres para sahabat di balai rung Bani Saidah pada hari di mana Rasulullah SAW wafat. Saat itu ada dua kelompok umat Islam yang saling berkompetisi kuat untuk merebut posisi pimpinan tertinggi umat Islam, yakni kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kedua kelompok ini sama-sama mempunyai political will atau kehendak politik yang berbeda, di mana kaum Muhajirin menginginkan Abu Bakar al-Shiddiq sebagai pemegang tampuk kekuasaan, sedangkan kaum Anshar menginginkan Saad bin Ubadah sebagai kandidat terkuat dalam memimpin umat Islam pasca Rasulullah wafat.
Inilah awal dari perselisihan umat Islam di bidang politik, karena memang pada saat Rasulullah wafat, beliau tidak memberikan isyarat mengenai siapa yang akan menggantikannya dan model sistem pemerintahan seperti apa yang akan dipergunakan oleh penerusnya. Merujuk pada teori konflik yang dicetuskan oleh Karl Marx, jika ada perselisihan dalam suatu komunitas tertentu, maka sudah bisa dipastikan bahwahal tersebut merupakan dampak dari kepentingan yang tidak sejalan. Dan rupanya benar, pemilihan khalifah di balai rung Bani Saidah berlangsung panas dan hampir menimbulkan peperangan, terutama perseteruan antara Umar bin Khattab mewakili Kaum Muhajirin dan Hubab bin Munzir mewakili Kaum Anshar. 
Walaupun dalam kontestasi ini, Abu Bakar al-Shiddiq keluar menjadi pemenang dan dibai’at umat Islam yang menghadiri kongres di balai rung Bani Sa’idah, namun hal itu rupanya tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan, sebagian kaum muslimin pada saat itu beranggapan bahwa proses pemilihan Abu Bakar bukan pada mufakat seluruh umat Islam, namun hanya berdasar pada suara terbanyak yang hadir pada kongres di balai rung Bani Sa’idah. 
Berangkat dari persoalan inilah kemudian sebagian umat Islam banyak yang ingkar dan akhirnya memilih murtad dan kafir. Sebagian lagi memilih untuk tidak mau membayar zakat sehingga kemudian diperangi oleh Abu Bakar al-Shiddiq karena dianggap telah kafir. Di sinilah kafir politis dan kafir ekonomis itu dipertautkan. 
Kafir Politis adalah istilah bagi mereka yang tidak sehaluan dengan political will Abu Bakar, sedangkan kafir ekonomis adalah istilah bagi mereka yang tidak mau mengeluarkan zakat atau pajak di masa Abu Bakar. Persoalannya sekarang adalah mampukah kita mensosialisasikan klasifikasi kafir itu kepada akar rumput masyarakat kita, sehingga mampu dipahami dengan baik dan benar? Atau hal itu hanya akan menjadi kenangan dari sejarah Islam masa lampau? Wallahu A’lam Bisshawab.
Mohammad Khoiron adalah pegiat Islamic Studies. Bisa ditemui di twitter: @MohKhoiron. [Sindikasi Media]

Kaum Agama Mengharapkan Negara Aman

Hubungan agama dan negara merupakan hubungan yang bersifat fungsional, yakni satu sama lainnya saling membutuhkan dan saling berjalan sesuai fungsinya. Agama berperan untuk mengatur kehidupan masyarakat sehingga mereka dapat hidup bersama dalam kerukunan dan kedamaian serta saling berinteraksi untuk melangsungkan kehidupan yang sejahtera dengan nilai-niali agama. Dan negara yang merupakan suatu lembaga yang mencakup suatu wilayah dengan aturan-aturannya bagi masyarakatnya untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Imam Abu Hamid Al Ghazalli (w. 505 H) berpendapat bahwa hubungan antara agama dan negara ialah seperti hubungan dua orang yang bersaudara. Agama merupakan dasar (pondasi dalam kehidupan) sedangkan negara ialah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh dan suatu dasar yang tanpa penjagaan akan hilang.

Negara sangat berperan dalam keberlangsungannya suatu agama. Tanpa adanya negara keberadaan suatu agama akan memudar dan hilang. Negara akan menjamin keamanan dan menjaga hak dan kewajiban bagi setiap masyakatnya untuk beragama.

Pentingnya peran suatu negara bagi pemeluk agama telah disinggung dalam beberapa ayat Al Qur’an, di antaranya ialah surah Al Baqarah ayat 126 dan Ibrahim ayat 35.

Ketika Nabi Ibrahim As. meninggalkan istri dan anaknya (Siti Hajar dan Ismail) di suatu lembah, Beliau berdoa kepada Allah supaya menjadikan lembah tersebut sebagai negeri yang aman dan makmur bagi orang-orang beriman yang bertempat tinggal di negeri tersebut. Doa Beliau diabadikan oleh Allah dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 126

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Lembah yang dahulu didoakan oleh Nabi Ibrahim As. tersebut saat ini menjadi kota termasyhur yang paling banyak dikunjungi oleh umat manusia dari berbagai belahan dunia. Lembah itu yakni Makkah al Mukarramah.

Lembah itu menjadi negeri yang aman dikarenakan ditegakkannya hukum-hukum Allah oleh penduduknya dalam bimbingan Ismail As. dan anak cucunya. Namun, setelah negeri itu dijajah oleh kejahiliyahan bangsa Arab keamanan negeri itu hilang. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Saw. dengan agama Islam yang mengajarkan ketauhidan dan kedamaian, hingga akhirnya negeri itu menjadi negeri yang aman kembali di bawah panji Islam. 

Dan dari ayat di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa memohon keamanan dan kemakmuaran suatu negeri adalah perkara yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang tinggal di negeri tersebut. Sebagaimana memohon keamanan negeri adalah wajib, maka menjaga keamanan negeri juga adalah kewajiban.

Setelah meninggalkan istri dan anaknya di suatu lembah, Nabi Ibrahim As. kembali ke lembah tersebut untuk mengunjungi istri dan anaknya. Dalam kunjungannya Ibrahim As. berdoa kepada Allah Ta’ala agar negeri yang ditempati oleh istri dan anakya (Makkah) menjadi negeri yang aman dan menjauhkan Beliau As. beserta anak cucunya agar tidak menyembah berhala.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.”

Menariknya dalam ayat ini, doa Nabi Ibrahim As. didahului dengan memohon agar negeri yang akan ditempati oleh anak cucunya menjadi negeri yang aman, baru setelah itu Beliau As. memohon agar dirinya beserta anak cucunya dijauhkan dari menyembah berhala.

Nabi Ibrahim As. paham bahwa keamanan negerinya sangat dibutuhkan oleh anak cucunya ketika mereka melaksanakan peribadatan menyembah Allah Ta’ala. Negeri yang aman akan membuat penduduknya mudah dalam beribadah. Rasa aman dari ketakutan akan membuat seseorang merasakan ketenenangan dalam hidupnya sehingga ia lebih mudah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dalam surah Al Quraisy disebutkan faktor sebabnya Allah Ta’ala disembah oleh kaum Quraisy, yaitu karena Allah telah memberi makan dan memberi keamanan kepada kaum Quraisy. Maka wajib bagi seorang pemimpin suatu negeri untuk berusaha memberikan kesejahteraan dan keamanan kepada rakyatnya segagaimana Allah memberikan makan dan rasa aman kepada hamba-Nya.

Imam Thababa’i menafsirkan surah Ibrahim ayat 35 dengan memberikan penjelasan bahwa permohoman Nabi Ibrahim As. tentang keamanan negeri Makkah dengan istilah amn tasyri’iy, yakni permohonan agar Allah menetapkan hukum keagamaan yang mewajibkan orang mewujud, memelihara, dan menjaga keamanannya.

Prof. Quraish Shihab memberikan komentar mengenai ayat ini, bahwasanya ayat ini bukan saja mengajarkan agar berdoa untuk keamanan dan kesejahteraan atau kemakmuran kota Makkah, tetapi juga mengandung isyarat tentang perlunya setiap muslim berdoa untuk keselamatan dan keamanan wilayah tempat tinggalnya, dan agar penduduknya memperoleh rejeki yang melimpah.

Orang yang beragama dapat membantu berusaha menciptakan keamanan dan kesejahteraan bagi negaranya dengan cara berdoa dan menerapkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupannya berbangsa dan bernegara serta menjalin hubungan persaudaraan yang baik antar sesama warga negara.

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi bangsa Indonesia suatu negara yang aman sentosa dan makmur sejahtera.

Mari menjaga amanah Allah ini dengan selalu meningkatkan persaudaraan dan persatuan.