Semangat Mencintai Al-Quran

Alquran adalah mata rantai terakhir kitab-kitab suci yang diturunkan Allah swt kepada para utusan-Nya. Diturunkan kepada Rasul pemungkas, Nabi Muhammad saw, dengan bahasa Arab yang sempurna. Allah mewahyukan Alquran dalam 23 tahun, setara dengan masa belajar sejak TK sampai dengan doktor, yakni TK 2 tahun ditambah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 4 tahun, S2 2 tahun, dan S3 3 tahun.

Alquran adalah Kitab Petunjuk Tuhan sepanjang masa. Untuk mencapai petunjuk itu kita harus menafsirkannya melalui kode dan ‘saluran’ berupa bahasa Arab. Alquran adalah teks poetik terstruktur dengan banyak fungsi. Demikian, kata Navid Kermani.

Alquran adalah lautan tak bertepi, sumur tanpa dasar. Memahami Alquran ibarat menempuh perjalanan. Seseorang memerlukan bekal wawasan Alquran dan pengetahuan tentang rambu-rambu yang niscaya diperhatikan dalam menempuh perjalanan itu.

Sebagai sebuah proses, tafsir merupakan upaya memahami maksud firman Allah swt sesuai dengan kadar kemampuan manusia. Sedangkan sebagai produk, tafsir adalah buah pemahaman atas ayat-ayat Alquran yang diungkapkan dengan lisan, tulisan, sikap, maupun perbuatan, baik secara individu maupun kolektif.

Setiap orang berhak memahami Alquran dan mengungkapkan buah pemahamannya kepada orang lain. Sungguhpun demikian, untuk kemaslahatan umat, bila seseorang hendak menyebarluaskan penafsirannya atas ayat-ayat Alquran, seyogianya mendialogkan hasil pemahamannya tersebut dengan orang-orang yang diakui kepakarannya. Demikian pesan mufasir perempuan terkemuka, ‘Aisyah Abdurrahman bintusy Syathi`.

Menurut Ustadz M. Quraish Shihab, penyebab kesalahan penafsiran Alquran ialah, pertama, subjektivitas mufasir. Kedua, kesalahan metode penafsiran. Ketiga, kedangkalan ilmu alat bahasa Arab. Keempat, kedangkalan pengetahuan tentang pembicaraan ayat. Kelima, tidak memperhatikan konteks asbabun-nuzul. Keenam, tidak memperhatikan siapa pembicara dan kepada siapa pembicaraan itu.

Allah swt menggambarkan keluasan kandungan Alquran dengan firman-Nya sebagai berikut (ditulis maknanya). Katakanlah, “Sekiranya lautan tinta untuk menuliskan kata-kata Tuhanku, pasti lautan akan habis sebelum habis kata-kata Tuhanku, sekalipun mesti Kami tambahkan tinta sebanyak itu. (QS 18:109); Sekiranya pohon-pohon di bumi adalah pena dan samudera adalah tinta dan sesudah itu ditambah dengan tujuh samudera, firman Allah tidak akan habis ditulis. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS 31:27).

Allah swt mewariskan Alquran kepada orang-orang yang beriman sepanjang sejarah. Sikap dan respons mereka pun berbeda-beda satu dari yang lain, sebagaimana difirmankan dalam Alquran, Kemudian Kami wariskan Kitab (Alquran) itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat amal kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar. (QS 35:32).

Di antara ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut. Orang yang menganiaya diri sendiri ialah orang yang lebih banyak keburukannya ketimbang kebaikannya. Orang yang pertengahan ialah orang yang kebaikannya sebanding dengan keburukannya. Sedangkan orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang yang kebaikannya amat banyak dan jarang berbuat keburukan.

Mufasir lain menjelaskan, bahwa orang yang menganiaya diri sendiri ialah orang yang lebih banyak diberi daripada memberi. Orang yang pertengahan ialah orang yang suka diberi dan suka pula memberi. Adapun orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang yang lebih banyak memberi tinimbang diberi.

Seseorang dengan kritis mengajukan pertanyaan, mengapa orang-orang yang menganiaya diri sendiri justru disebutkan lebih dahulu, sedangkan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan disebutkan kemudian? Jawabnya, karena orang-orang yang menganiaya diri sendiri adalah mayoritas dari umat ini, sedangkan orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan adalah minoritasnya.

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman, Rasul berkata, “Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah bersikap meninggalkan Alquran ini.” (QS 25:30). Ibnu Taimiyyah menafsirkan ayat itu demikian. Siapa yang tidak membaca Alquran ia telah meninggalkan Alquran; siapa yang membaca Alquran tetapi tidak memahami isinya ia telah meninggalkan Alquran; siapa yang membaca Alquran dan memahami isinya tetapi tidak mengamalkannya ia telah meninggalkan Alquran.

Rasulullah saw bersabda, “Alquran adalah jamuan Tuhan. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuan-Nya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya.”

Para ulama dan cendekiawan dari berbagai penjuru dunia memerikan Alquran sebagai berikut. “Alquran adalah pengantin wanita yang menyembunyikan wajahnya. Bila engkau membuka cadarnya dan tidak mendapatkan kebahagiaan, itu karena caramu membuka cadar telah menipu dirimu sendiri. Apabila engkau mencari kebaikan darinya, ia akan menunjukkan wajahnya, tanpa perlu kaubuka cadarnya.” (Jalaluddin Rumi).

“Ayat-ayat Alquran bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang telah Anda lihat.” (Abdullah Darraz).

“Ayat Alquran itu seperti buah kurma. Setiap kali kamu mengunyahnya, rasa manisnya akan terasa.” (Basyar bin as-Sura);“Tiada seorang pun dalam 1500 tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad: Alquran.” (H.A.R. Gibb).

“Rasakanlah keagungan Alquran sebelum engkau menyentuhnya dengan nalarmu.” (Muhammad Abduh); “Alquran adalah jaring untuk menangkap jiwa manusia. Seperti ikan, manusia berenang dari satu tempat ke tempat lain, dan Tuhan memasang jaring ke dalam mana manusia terjerat, demi kebahagiaannya sendiri.” (Fritjof Schuon).

“Alquran memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk interpretasi baru dan tidak tertutup dalam interpretasi tunggal.” (Mohammed Arkoun); “Tak seorang pun dalam Islam yang berhak mengklaim sebagai otoritas atas dan penjaga pemahaman yang tepat atas Alquran. Seluruh umat Islam bertanggung jawab terhadap pengabadian dan implementasi ideal-ideal Alquran.” (Muhammad ‘Ata al-Sid).

“Alquran memiliki keampuhan bahasa yang tak tertandingi karena bentuk atau gayanya dan isi pesan yang dikandungnya. Kekuatan penggerak bahasa Alquran terletak pada kemampuan menghadirkan ide-ide ketuhanan, kemanusiaan dan wawasan kosmik yang tak dapat diingkari.” (Komaruddin Hidayat).

“Persilakanlah Alquran berbicara – istanthiq Alquran.” (Ali bin Abi Thalib);  “Bacalah Alquran seakan-akan ia diturunkan kepadamu.” (Muhammad Iqbal); “Untuk mengantarkanmu mengetahui rahasia ayat-ayat Alquran, tidak cukup engkau membacanya empat kali sehari.” (Abul A’la Maududi).

“Alquran mengandung prinsip-prinsip umum sains; orang dapat menurunkan pengetahuan tentang perkembangan fisik dan spiritual manusia dengan prinsip-prinsip tersebut.” (Musthafa al-Maraghi); “Orang tak dapat memahami Alquran dan hadis kalau tak berpengetahuan umum. Bagaimana orang bisa mengerti bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh-Nya ‘berjodoh-jodohan’ [QS 51:49] kalau tak mengetahui biologi, positif dan negatif, aksi dan reaksi.” (Bung Karno).

Tak seorang pun tahu rahasia

Hingga seorang mukmin

Ia tampak sebagai pembaca

Namun Kitab itu ialah dirinya sendiri.

(Mohammad Iqbal)

Cintailah Alquran, niscaya Allah swt mencintaimu. Rengkuhlah Alquran, niscaya Pemilik Alquran merengkuhmu. Jadikan Alquran GPS hidupmu.

Tuhan dalam Gemuruh Politik

Sentimen dan isu agama mendapatkan saluran untuk tampil ke ruang publik secara leluasa ketika Indonesia yang masyarakatnya majemuk dan religius bertemu dengan sistem demokrasi yang liberal. Kelompok-kelompok radikal-ekstremis pun mendapatkan panggung legal untuk memperjuangkan agendanya.

Hubungan agama dan negara di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, berbeda dengan masyarakat Barat yang sekuler atau negara-negara kesultanan di Timur Tengah. Di sini kelahiran negara sangat berutang jasa pada gerakan dan perjuangan keagamaan, khususnya Islam, sehingga agama dan negara tak terpisahkan, sekalipun bisa dibedakan.

Pancasila adalah ideologi penghubung antara keduanya. Jika cermati, dalam kelima sila itu terdapat elemen dan spirit paham teokrasi, liberalisme dan sosialisme. Ketiganya disintesakan sebagai ideologi negara, suatu eksperimentasi historis-politis yang akan menjadi kontribusi Indonesia pada teori kenegaraan dan menjadi model dunia kalau saja berhasil.

Ketuhanan dan kebertuhanan

Dari segi bahasa, yang pertama merujuk pada sebuah pemikiran konseptual-filosofis, sedangkan yang kedua merupakan ”kata kerja”, wilayah praksis. Negara dan warganya secara konstitusional peduli dan meyakini adanya Tuhan, bukannya sebuah negara sekuler ataupun ateis. Adapun pemahaman dan praktik kebertuhanannya masuk pada wilayah pribadi dan komunal yang dilindungi dan difasilitasi negara.

Makanya di Indonesia terdapat Kementerian Agama yang membina pendidikan dan kehidupan beragama. Sedikitnya Rp 60 triliun dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disalurkan melalui Kementerian Agama, sebuah anggaran yang cukup besar. Belum lagi biaya kegiatan keagamaan yang dibelanjakan oleh BUMN dan departemen lain sehingga jumlah dana untuk kehidupan beragama di atas Rp 60 triliun. Kenyataan ini sudah mematahkan tuduhan bahwa negara dan pemerintah itu anti-Islam.

Akhir-akhir ini muncul pertanyaan bernada protes, mengapa jumlah agama yang diakui pemerintah hanya enam, mengingat definisi agama sesungguhnya cukup inklusif, tidak sebatas enam agama yang kesemuanya merupakan agama pendatang (asing). Ketika kita memunculkan istilah asing dan pribumi, akan menimbulkan implikasi baru yang cukup serius ketika dialamatkan pada agama. Konsep Tuhan, nabi, kitab suci, dan aturan peribadatan tidak bisa dimonopoli pengertiannya oleh komunitas agama yang kebetulan diakui pemerintah.

Bahkan, konsep ketuhanan dalam setiap agama dan kepercayaan pun berbeda. Begitu pun tentang konsep nabi dan kitab suci. Jadi, definisi dan penetapan sebuah agama merupakan produk politik yang berimplikasi pada anggaran belanja negara dan pejabat birokrasi untuk membinanya.

Penodaan agama 

Tidak hanya definisi agama, berbagai isu tentang penodaan, penistaan, dan pelecehan agama juga dipermasalahkan akhir-akhir ini. Tidak mudah memutuskan seseorang menodai agama mengingat di sana tidak ada kesepakatan bulat siapa yang memiliki mandat atau otoritas untuk bicara atas nama agama.

Setiap agama memiliki pluralitas mazhab dan ulama yang tingkat ilmunya dan sudut pandangnya berbeda. Persoalan menjadi semakin sulit andaikan penjelasan akhir harus datang dari Tuhan yang diyakini sebagai pencipta agama yang diturunkan untuk manusia lewat rasul-Nya. Jadi, jangankan meminta klarifikasi dan konfirmasi kepada Tuhan, sedangkan kepada rasul-Nya saja mustahil dilakukan.

Lalu, adakah berarti kita bisa seenaknya merendahkan dan mempermainkan agama? Ketika nilai-nilai agama dielaborasi dan dituangkan ke dalam formula undang-undang (UU) dan etika sosial, pengamanan dan tindakan hukumnya lebih mudah jika ada yang melanggar. Oleh karena itu, sekalipun agama diyakini datang dari Tuhan, tetapi implementasinya memerlukan instrumen negara.

Contoh paling mudah adalah lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), substansi dan fungsinya sangat religius karena semua agama antikorupsi. Para koruptor itu telah menghina agama, melanggar peraturan negara, merusak etika sosial, dan menyengsarakan rakyat.

Menghargai agama membutuhkan sikap empati pada pemeluknya. Begitu pun penistaan agama, biasanya pelakunya tidak punya empati bahwa yang dia ucapkan dan lakukan itu menyakiti perasaan pemeluknya. Oleh karena itu, penodaan dan penistaan agama lebih berkaitan dengan etika relasi antarpemeluk agama, bukannya manusia dan Tuhan. Dalam kaitan ini, menyampaikan ucapan selamat ketika teman beda agama merayakan hari besar agamanya, ucapan ini lebih bersifat menghargai persaudaraan sosial, bukan wilayah teologis. Apakah manusia akan mencaci atau memuji agama, tindakannya tidak akan memengaruhi kebesaran dan jabatan Tuhan.

Tepat isi deklarasi bersama antara Paus Fransiskus dan rektor Al-Azhar Mesir di Abu Dhabi bulan lalu, bahwa Tuhan tak perlu dibela. Yang dikehendaki adalah agar dengan agama seseorang bisa membela nasib manusia yang teraniaya dan mengentaskan dari derita hidupnya. Di sini terkandung pesan Tuhan bahwa agama itu sumber dan penebar rahmat bagi semesta. Agama itu penggerak kedamaian dan pilar peradaban, bukan gerakan yang penuh intimidasi dan menakutkan.

Politik atas nama Tuhan

Mengingat semangat beragama masyarakat Indonesia begitu tinggi, sementara itu para politisi tengah bekerja keras mengumpulkan suara untuk memenangi kontestasi pemilu dan pilkada, maka agama dipandang sangat instrumental jika dimanipulasi untuk kontestasi politik. Ketika kesadaran masyarakat sebagai warga negara (sense of citizenship) masih rendah, orang lebih mudah membangun afiliasi politik atas dasar kesamaan etnis dan agama.

Namun, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, diperlukan insentif lain untuk menarik mereka. Insentif lain itu, antara lain, adalah uang, kesamaan ormas, dan slogan ideologis-utopis untuk membangkitkan emosi serta militansi kelompok. Ideologi tanpa ikatan emosional dari pendukungnya akan mati pelan-pelan sehingga setiap perjuangan politik kekuasaan mesti ”menciptakan” musuh bersama untuk mengikat simpatisannya agar bekerja secara militan. Sikap militan dan radikal akan tumbuh jika faktor agama dan Tuhan dijadikan titik keberangkatan dan tujuan akhirnya (alfa-omega) karena agama menawarkan insentif keselamatan eskatologis berupa surga setelah kematian.

Tak ada konsep kalah dalam perjuangan ideologi keagamaan. Yang ada hanyalah kemenangan, jika tidak di dunia, ditemui di akhirat nanti.

Berpolitik mengatasnamakan kehendak Tuhan menimbulkan kesulitan untuk dilakukan verifikasi mengingat sosok Tuhan tidak terjangkau, jumlah agama banyak, dan dalam internal komunitas seagama juga banyak tokoh dan mazhab pemikiran yang tidak selalu sejalan terhadap satu masalah yang tengah dihadapi. Sering terjadi, seseorang melakukan tindakan kriminal yang bersifat horizontal dan menurut hukum agama jelas dosa, lalu yang bersangkutan menyelesaikannya dengan melobi memohon maaf kepada Tuhan melalui tindakan ritual. Bahwa berdoa dan beribadah itu baik, tetapi tidak menyelesaikan kriminalitasnya.

Sikap beragama semacam ini jangan-jangan ikut andil memperlemah etika sosial dalam masyarakat yang tinggi semangat agamanya sehingga pertumbuhan korupsi sejalan dengan semaraknya ritual keagamaan. Di sini Tuhan diposisikan untuk meringankan beban jiwanya dengan limpahan maafnya. Yang demikian tidak terjadi pada masyarakat sekuler. Perbuatan kriminal mesti diselesaikan dengan hukum positif di dunia ini, tidak usah menunggu pengadilan akhirat. Mungkin pola pikir (mindset)ini yang membuat beberapa negara sekuler tingkat korupsinya lebih rendah ketimbang masyarakat yang tinggi semangat agamanya.

Menghadapi pemilihan presiden (pilpres), April mendatang, Tuhan dan agama dilibatkan sedemikian jauh. Yang meramaikan dan membuat suhu politik panas tidak semata persaingan antarparpol, tetapi justru antarormas dan penceramah agama dengan melemparkan isu dan slogan keagamaan. Bahkan, Tuhan pun diajak berkoalisi dalam kontestasi pemilihan calon presiden. Pernah beredar pernyataan, partai Tuhan tengah bersaing melawan partai setan. Pilpres ini layaknya sebuah perang jihad yang akan menentukan nasib Islam ke depan.

Ada pula koalisi parpol dan ormas yang mengadakan doa akbar yang tujuannya memohon kepada Tuhan untuk kemenangan jagonya. Padahal, kedua pihak yang berkompetisi ini mengaku agama dan Tuhannya sama. Mungkin hanya di Indonesia fenomena ini terjadi, menambah cerita bagi anak cucu kelak.

Oleh KOMARUDDIN HIDAYAT

Dakwah Itu Bukan Mendoktrin

Dakwah itu dilakukan untuk tujuan kemuliaan dan syiar agama Islam. Tanpa adanya dakwah tidaklah mungkin agama Islam menyebar ke seantero penjuru dunia. Sudah menjadi tanggung jawab umat Islam untuk terus melakukan dakwah, hal ini sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Imron Ayat 104 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.


Dilihat dari ayat tersebut maka dakwah merupakan tanggungjawab bagi segolongan atau sebagian umat Islam, karena tanggungjawab dakwah ditujukan kepada segolongan umat islam, maka beberapa ulama menghukumi bahwa berdakwah itu hukumnya adalah fardu kifayah. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dalam surat Al-Imrom ayat 104 tersebut menyatakan bahwa kewajiban dakwah ini diwajibkan kepada segolongan umat Islam saja..? hal ini karena tujuan dakwah adalah demi tercapainya kemuliaan dan syiar agama Islam maka dakwah harus dilakukan oleh orang-orang yang menguasi ilmu Agama, baik syariat dan keimanan. 

Seperti yang kita ketahui tidaklah semua orang memahami ilmu agama secara mendalam, oleh karenanya maka tugas dakwah yang menjadi perantara kemulian agama Islam ini harus dilakukan oleh mereka-meraka yang telah mampu dan mempunyai kapasitas serta otoritas membicarakan dan mendakwahkan ajaran Islam. Berangkat dari keterangan yang demikian maka bagi orang yang merasa ilmu agamanya masih kurang dan ingin mendakwahkan ajaran agama Islam maka hal yang wajib mereka lakukan adalah belajar serius ajaran agama Islam. Belajar dengan serius mengenai ajaran Islam juga merupakan dakwah Islam yang sangat dianjurkan. Jadi jangan dikatakan yang berdakwah adalah mereka yang pandai berorasi didepan panggung dengan retorika dan dalil agama yang memukau. Belajar dengan tekun juga merupakan dakwah islam yang paling utama dan dianjurkan.

Semakin banyak orang yang belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh maka kemuliaan dan kejayaan agama Islam akan datang dengan sendirinya, karena peradaban dan kemajuan Islam akan diperoleh dengan hal tersebut, akan tetapi semakin banyak pendakwah yang bermunculan belum tentu mengantarkan kepada kemuliaan agama Islam. Kenapa hal ini bisa terjadi..? yang jelas adalah pendakwah yang tidak menguasai ajaran agama Islam tidak akan membuat syiar Islam semakin berkembang justru malah bisa menghancurkan Islam itu sendiri, hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi “apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuranya. 

Jika yang melakukan dakwah bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya, kata kehancuranya dalam sabda nabi tersebut bisa diartikan kehancuran tatanan kehidupan, sedangkan kehancuran yang dimaksud oleh Nabi dalam sabdanya tersebut adalah kiamat. Dengan demikian rusaknya tatanan kehidupan didunia mempercepat datangnya kiamat. 

Dakwah memanglah sesuatu yang mulia dalam agama Islam. Sehingga banyak umat Islam yang bergegas untuk melakukan dakwah. Hal terbaik sebelum melakukan dakwah adalah belajar mengenai ajaran Islam, jangan karena kecongkakan dan karena sudah menjadi terkenal tidak mau belajar, jika para pendakwah hanya berdakwah denagn modal yang demikian

[kepopuleran]

tanpa disertai modal pengetahuan agama dan modal kemauan untuk terus belajar maka sudah bisa dipastikan dakwahnya bisa sesat dan menyesatkan umat, bukannya mencerahkan malah mengkhawatirkan umat, bukannya memberi pemahaman agama malah mendoktrin ajaran agama. 

Ada indikasi mencolok yang menunjukkan bahwa, Islam di Indonesia semakin mendapatkan tempat yang luas di kalangan masyarakat, dari kelompok remaja mau pun kelompok tua. Mushala dan masjid dibangun di mana-mana dan selalu dipadati oleh kaum muslimin. Kelompok pengajian, majelis ta’lim dan kajian Islam muncul bagaikan cendawan di musim penghujan. Namun semua itu tidak berarti adanya perkembangan dan pengembangan agama Islam. Karena berkembangnya jumlah pemeluk agama Islam yang menunjukkan adanya kepedulian masyarakat terhadap agama tidak atau belum berarti bahwa ajaran agama Islam secara substansial juga berkembang.

Oleh karenanya tujuan utama dakwah yang sesungguhnya adalah meningkatkan pemahaman agama Islam yang utuh dan tuntas serta menjadikan nilai-nilai spiritual Islami sebagai rujukan baku dalam kehidupan, bukan malah tujuan dakwah untuk mencari kepopuleran dan keuntungan dunia, dakwah itu dikatakan berhasil bukan hanya dinilai dari jumlah pengikutnya yang membludak ketika diadakan pengajian akan tetapi dengan dinilai juga dari perubahan masyarakat menuju perilaku yang islami dan tercapai masyarakat yang makmur dan sejahtera. 

Dakwah secara bahasa adalah mengajak, mengundang dan mendorong, sudah bisa dipastikan bahwa jika mengajak orang tentunya dengan menggunakan cara yang baik, jika kita mengajak orang dengan kekerasan sudah tentu orang yang diajak akan lari meninggalkan kita. Logika yang sederhana ini harusnya selalu terpatri dalam diri pendakwah. Jika pendakwah melakukan dakwah dengan kekerasan dan mengkafirkan sesama umat muslim maka logika mereka [pendakwah dan pengikutnya] sama-sama tumpul, akal sehatnya tidak berjalan. Orang yang tanpa bekal agamapun paham dan tahu bahwa cara berdakwah dengan menyakiti sesama umat muslim adalah cara yang kurang tepat. 

Landasan utama dalam berdakwah adalah surat An-Nahl ayat 125 yang artinya Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik. Gusdur menafsirkan ayat tersebut bahwasanya kata Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, artinya dengan cara yang bisa diterima orang lain dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. 

Dengan berdasarkan pada ayat tersebut bahwasanya dakwah adalah mengajak kepada berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, melarang mengerjakan jelek agar bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan Akhirat. Dalam arti kata lain dakwah adalah ajakan atau usaha sadar untuk memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah dan menjauhi laranganya.

Dakwah itu sifatnya memotivasi, karena dakwah sifatnya memotivasi maka yang dilakukan adalah upaya untuk menumbuhkan kesadaran dan nalar kritis bukan malah meningkatkan ashobiyah [kefanitikan] terhadap suatu ajaran dan kelompok. Maka rasanya perlu dibedakan antara dakwah, di’ayah

[propaganda]

, dan indoktrinasi. Dalam di’ayah, yang dipropagandakan belum tentu sesuatu yang baik. Sedangkan dalam indoktrinasi terdapat unsur paksaan. Berbeda dengan dakwah, di mana sesuatu yang didakwahkan tentu baik dan tidak mengandung unsur paksaan, tetapi justru menumbuhkan kesadaran.

Dakwah yang ilmiah selalu memberikan motivasi dan meningkatkan daya kritis, artinya dakwah yang baik akan menumbuhkan akal sehat baik bagi para pendengarnya maupun pendakwahnya sendiri. Salah bukti tumbuhnya akal sehat adalah menerimanya pendakwah saran dan kritik dari pendengarnya ketika memang dakwah yang disampaikan dirasa kurang tepat, anti kritik dan merasa selalu benar adalah pola dakwah yang menumpulkan akal sehat apalagi jika pendakwah hanya jago dakwah mimbar dan selalu menghindari untuk dakwah yang sifatnya diskusi yang untuk kebaikan [mujadalah allati hiya ahsan].

Enam Keterasingan Beragama Yang Diperingatkan Nabi

Keterasingan adalah hal yang dianggap aneh apabila hal tersebut berada pada sesuatu yang bukan pada tempatnya. Oleh karenanya agar tidak terjadi keterasingan maka sesuatu konten harus disesuaikan dengan konteksnya. Keterasingan pada hakekatnya menimbulkan dua hal, yang pertama adalah membuat hal tersebut menjadi aneh, dan kedua adalah membuat hal tersebut menjadi berbeda dengan yang lainya.

Yang perlu disadari adalah bahwa terkadang keterasingan akan membuat orang selamat, hal ini dikarenakan karena dengan terasing atau lebih tepatnya mengasingkan diri akan membuat seseorang tersebut terhindar dari dosa dan maksiat kepada Allah. Bahkan dalam hal lain tak jarang pula keterasingan membuat seseorang jauh lebih produktif dalam hidupnya, misalnya dengan diasingkan banyak para tokoh lebih produktif dalam berkarya dan menulis buku. Keterasingan juga selalu melekat kepada orang-orang besar yang sangat berpengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya berapa banyak tokoh perjuangan Indonesia yang diasingkan ke pulau terpencil seperti Soekarno ke pulau Bangka, bahkan Syekh Yusuf Al-Makasari diasingkan sampai ke Cape Town, Afrika Selatan.

Keterasingan adalah keadaan awal dari sesuatu dan akhir dari sesuatu, kenapa bisa dikatakan seperti itu..? karena pada dasarnya hal yang pertama kali muncul atau diciptakan akan sangat asing bagi khalayak ramai. Dan pada dasarnya hal yang terakhir itu terasing pula dari keramaian karena sudah mulai terlupakan. Hal ini seperti yang disabdakan oleh Nabi “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing”.

Dikatakan dalam sabda nabi tersebut bahwa orang asing itu akan menjadi orang yang beruntung, kenapa hal demikian terjadi…? karena orang yang terasing akan selamat, baik dalam dunia maupun akhirat. orang yang jujur akan terasing dari banyaknya penyebar hoaxs, orang yang berpikir kritis akan terasing dari orang-orang yang seperti buih mengikuti arus. Dengan demikian menjadi terasing dalam hal kebaikan adalah suatu keberuntungan karena hal tersebut menjadi pembeda, namun demikian jangan sampai menjadi terasing dari apa yang telah di peringatkan nabi dalam sabdanya bahwa ada enam hal yang amat sangat terasing dari konteks dan tempatnya

Pertama adalah masjid akan menjadi tempat asing bagi orang-orang yang tidak pernah melakukan sholat didalamnya, terlebih lagi semakin masifnya pembangun masjid yang besar dan megah tanpa diimbangi pembangunan pengisi masjid tersebut, artinya berapa banyak masjid yang sepi dari para jama’ahnya.

Kedua Alquran akan menjadi asing jika berada pada orang yang tidak pernah membacanya, dalam artian Alquran akan menjadi artefak dan barang koleksi setiap rumah, artinya Alquran akan dijadikan pajangan bukan bcaan dan petunjuk hidup.

Ketiga Alquran akan menjadi asing apabila di jaga oleh orang yang munafik, hal ini dikarenakan betapa banyak orang yang yaqin dan percaya akan Alquran akan tetapi perilakunya jauh dari apa yang diyakininya dalam Alquran, atau apa yang diyakininya dalam Alquran tidak pernah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari

Keempat adalah perempuan sholihah akan menjadi asing ditengah kaum lelaki yang dholim, padahal dikatakan bahwa perempuan yang taat bagi Allah dan Rosulnya adalah pembagus bagi suatu perkara. Terus bagaiman jika perempuan sholihah tersebut berada pada lingkungan yang tidak tepat..?

Kelima lelaki sholih akan menjadi asing ditengah perempuan yang jelek akhlaknya. Dan yang terakhir atau yang keenam adalah orang pandai [Ulama’] akan menjadi asing ditengah orang-orang yang tidak pernah mendengarkan nasehatnya. Padahal nabi Bersabda bahwanya Allah tidak akan pernah melihat orang yang tidak mau mendengarkan nasehat ulama pada hari kiyamat dengan penglihatan kasih sayang. 

Dengan demikian menjadi terasing dalam hal kebaikan adalah sesuatu yang harus dipertahankan, akan tetapi jangan sampai menjadi terasing dari enam hal yang telah diperingatkan Nabi tersebut.

Pertemuan Grand Syaikh al-Azhar dan Majelis Hukama’ al-Muslimin di Jakarta

Grand Syaikh al-Azhar, Prof. Dr. Syaikh Ahmad ath-Thayyib, beserta Majelis Hukama’ al-Muslimin yang dipimpinnya tiba di Jakarta pada Minggu, 21 Februari 2016, malam dan disambut oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kunjungan ini untuk mempererat hubungan antara masyarakat Muslim Indonesia dengan al-Azhar, terutama di bidang pendidikan, kebudayaan, dan dakwah keagamaan.


Kunjungan selama enam hari ini dimulai dengan pertemuan Majelis Hukama’ al-Muslimin di Hotel Grand Hyatt setelah sebelumnya bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada 23 Februari 2016, Grand Syaikh dijadwalkan akan memberikan kuliah umum dan pertemuan dengan para alumni al-Azhar di Kampus UIN Syarif Hidayatullah. Setelah itu, Grand Syaikh al-Azhar ini akan meninjau Pusat Studi al-Qur’an pimpinan M. Quraish Shihab yang juga menjadi perwakilan Indonesia di Majelis Hukama’ al-Muslimin. Rombongan kemudian menuju Masjid al-Azhar, Kebayoran Baru.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang akan menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada Grand Syaikh al-Azhar dalam sidang senat terbuka pada Rabu, 24 Februari 2016. Keesokan harinya, beliau dan rombongan menuju Ponorogo untuk bertemu dengan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor. Selain menghadiri pembukaan perayaan 90 tahun pondok pesantren tersebut, Syaikh Ahmad ath-Thayyib juga akan meresmikan gedung Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor, dan kemudian akan kembali ke Mesir pada Jumat, 26 Februari 2016.

Tentang Syaikh Ahmad Ath-Thayyib

Prof. Dr. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyib lahir di Qena, Mesir, pada tahun 1946. Silsilah nasabnya sampai kepada Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Al-Asy’ari adalah mazhab akidahnya, Maliki mazhab fikihnya, dan Khalwati tarikat Sufi tempatnya bernaung. Sejak 2010, beliau adalah al-Imam al-Akbar Syaikh al-Azhar (atau biasa disebut Grand Syaikh), yakni pimpinan tertinggi institusi al-Azhar, Mesir, menggantikan Almarhum Prof. Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi. Penetapan jabatan yang setara dengan perdana menteri ini berdasarkan keputusan presiden dengan masa jabatan seumur hidup. Sejak 2014 lalu, Syaikh Ahmad ath-Thayyib memimpin Majelis Hukama’ al-Muslimin, sebuah organisasi internasional independen yang menghimpun para tokoh ulama lintas negara, berhaluan moderat, dan bertujuan mengukuhkan perdamaian di dunia Islam.

 Sebelumnya, Syaikh ath-Thayyib pernah menjabat sebagai Rektor Universitas al-Azhar (2003-2010), Mufti Negara (2002-2003), Anggota Lembaga Riset al-Azhar, Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah, dan Anggota Dewan Tertinggi TarIkat Sufi. Dekan Fakultas Studi Islam di Aswan dan Fakultas Teologi Universitas Islam Internasional di Pakistan juga pernah beliau duduki, selain mengajar di universitas-universitas di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.