Hukum Sholat Bercampur Laki Laki dengan Perempuan Bukan Mahrom

Pagi, saat subuh tiba, para pendukung salah satu calon presiden sudah meramaikan Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta Pusat. Mereka datang untuk mendukung paslon pilihan mereka dan menggelar beberapa aksi lainnya.

Dalam agenda kegiatan, tertera di sana salat Subuh berjamaah. Area GBK pun diubah menjadi “tempat” salat berjamaah dan saat salat berlangsung, terjadi hal yankg tak biasa. Laki-laki dan perempuan dalam satu saf. Hal ini membuat kegaduhan baik di media sosial maupun kehidupan nyata.

Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Fauzan Amin mengatakan “Salat dalam kondisi laki-laki dan perempuan satu saf itu tidak diperbolehkan dalam Islam, ini terkait dengan kekhawatiran munculnya syahwat di antara mereka dan ini juga mempengaruhi pahala salat yang mereka kerjakan, kecuali dalam kondisi darurat” terang Amin, Senin (8/4/2019).

Gus Amin juga menjelaskan “sebetulnya Allah SWT membeda bedakan status hambanya baik laki-laki dan perempuan itu adalah sama, namun hal itu tidak diberlakukan dalam salat.

Rasulullah mencontohkan kepada umatnya, dalam urusan menunaikan ibadah salat, untuk memisahkan diri dari selain jenisnya (jenis kelamin). Itu karena laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim adalah dua jenis insan yang diciptakan untuk bisa saling bersyahwat satu sama lain. “Maka, seyogyanya mereka dipisah dalam barisan shalat,” tegasnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf (barisan di dalam shalat) bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik saf bagi perempuan adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang paling depan (HR. Muslim 132, Tirmidzi, no. 224, dan Ibnu Majah, no. 1000)

Hadis ini merupakan aturan ideal untuk posisi saf lelaki dan perempuan, bahwa yang lebih sesuai sunah, saf perempuan berada di belakang lelaki. Semakin jauh dari lelaki, semakin baik.

Terkait dengan 5 hadis yang menjadi landasan Fauzan, Okezone coba menuturkan kembali hadis-hadis tersebut dan berikut penjelasannya;

1. Menurut keterangan Syaikhul Islam,

وقوف المرأة خلف صف الرجال سنة مأمور بها، ولو وقفت في صف الرجال لكان ذلك مكروهاً، وهل تبطل صلاة من يحاذيها؟ فيه قولان للعلماء في مذهب أحمد وغيره:

”Posisi saf perempuan di belakang laki-laki adalah aturan yang diperintahkan. Sehingga ketika perempuan ini berdiri di saf lelaki (sesejar dengan lelaki) maka statusnya dibenci. Apakah solat lelaki yang berada di sampingnya itu menjadi batal? Ada dua pendapat dalam madzhab hambali dan madzhab yang lainnya.”

Kemudian, Syaikhul Islam menyebutkan perselisihan mereka,

أحدهما: تبطل، كقول أبي حنيفة وهو اختيار أبي بكر وأبي حفص من أصحاب أحمد. والثاني: لا تبطل، كقول مالك والشافعي، وهو قول ابن حامد والقاضي وغيرهما

Pendapat pertama, solat lelaki yang di sampingnya adalah batal, ini pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr dan Abu Hafsh di kalangan ulama hambali.

Pendapat kedua, solat tidak batal. Ini pendapat Malik dan as-Syafii, pendapat yang dipilih Abu Hamid, al-Qadhi dan yang lainnya. (al-Fatawa al-Kubro, 2/325). As-Sarkhasi – ulama hanafi – (w. 483 H) mengatakan,

بأن حال الصلاة حال المناجاة، فلا ينبغي أن يخطر بباله شيء من معاني الشهوة، ومحاذاة المرأة إياه لا تنفك عن ذلك عادة، فصار الأمر بتأخيرها من فرائض صلاته، فإذا ترك تفسد صلاته

Ketika shalat, manusia sedang bermunajat dengan Allah, karena itu tidak selayaknya terlintas dalam batinnya pemicu syahwat. Sementara sejajar dengan perempuan, umumnya tidak bisa lepas dari syahwat. Sehingga perintah untuk memposisikan perempuan di belakang, termasuk kewajiban solat dan jika ditinggalkan maka solatny batal. (al-Mabsuth, 2/30).

2. Imam Nawawi

وإنما فضل آخر صفوف النساء الحاضرات مع الرجال لبعدهن من مخالطة الرجال ورؤيتهم وتعلق القلب بهم عند رؤية حركاتهم وسماع كلامهم ونحو ذلك

“Diutamakannya saf akhir bagi para perempuan yang hadir bersamaan dengan lelaki dikarenakan hal tersebut menjauhkan mereka dari bercampur dengan laki-laki, melihatnya lelaki (pada mereka), dan menggantungnya hati para perempuan kepada lelaki ketika melihat gerakan lelaki dan mendengar ucapan lelaki dan semacamnya.” (Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, juz 13, hal. 127)

3. Imam al-Ghazali

ويجب أن يضرب بين الرجال والنساء حائل يمنع من النظر فإن ذلك أيضا مظنة الفساد والعادات تشهد لهذه المنكرات

“Wajib untuk menempatkan penghalang antara laki-laki dan perempuan yang dapat mencegah pandangan, sebab hal tersebut merupakan dugaan kuat (madzinnah) terjadinya kerusakan dan norma umum masyarakat memandang ini sebagai bentuk kemungkaran.” (Al-Ghazali, Ihya’ ulum ad-Din, juz 3, hal. 361)

4.Imam al-Mawardi

Dalam kitab al-Hawi al-Kabir beliau menjelaskan:

وإن كان معه رجال ونساء الامام فى الصلاه ثبت قليلا لينصرف النساء ، فإن انصرفن وثب لئلا يختلط الرجال بالنساء

“Ketika terdapat laki-laki dan perempuan yang bersamaan dengan imam dalam solat, maka imam menetap (di tempatnya) sejenak agar jamaah perempuan bubar terlebih dahulu, ketika jamaah perempuan sudah bubar maka imam berdiri (untuk bubar). Hal tersebut dilakukan agar tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan.” (Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, juz 23, hal. 497)

5. Menurut mazhab Hanafi

Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah:

وصرح الحنفية بأن محاذاة المرأة للرجال تفسد صلاتهم . يقول الزيلعي الحنفي : فإن حاذته امرأة مشتهاة في صلاة مطلقة – وهي التي لها ركوع وسجود – مشتركة بينهما تحريمة وأداء في مكان واحد بلا حائل ، ونوى الإمام إمامتها وقت الشروع بطلت صلاته دون صلاتها ، لحديث : أخروهن من حيث أخرهن الله (2) وهو المخاطب به دونها ، فيكون هو التارك لفرض القيام ، فتفسد صلاته دون صلاتها .

وجمهور الفقهاء : (المالكية والشافعية والحنابلة) يقولون : إن محاذاة المرأة للرجال لا تفسد الصلاة ، ولكنها تكره ، فلو وقفت في صف الرجال لم تبطل صلاة من يليها ولا من خلفها ولا من أمامها ، ولا صلاتها ، كما لو وقفت في غير الصلاة ، والأمر في الحديث بالتأخير لا يقتضي الفساد مع عدمه

“Mazhab Hanafiyah menegaskan, sejajarnya posisi perempuan dengan barisan saf laki-laki dapat merusak (membatalkan) solat mereka (para laki-laki). Imam Az-Zayla’i al-Hanafi mengatakan, ‘Jika perempuan yang (berpotensi) mendatangkan syahwat sejajar dengan lelaki dalam solat mutlak yakni solat yang terdapat rukun ruku’ dan sujud, dan keduanya bersekutu dalam hal keharaman dan melaksanakan solat di satu tempat yang tidak ada penghalangnya, lalu imam niat mengimami perempuan tersebut pada saat melaksanakan solat, maka solat lelaki tersebut batal, tapi tidak batal bagi perempuan.’

Hal ini berdasarkan hadits, ‘Kalian akhirkan mereka (perempuan) seperti halnya Allah mengakhirkan mereka.’ Lelaki pada hadits tersebut merupakan objek yang terkena tuntutan syara’ (al-mukhatab) bukan para perempuan, maka lelaki dianggap meninggalkan kewajiban menegakkan tuntutan tersebut hingga solatnya menjadi rusak (batal) namun tidak bagi solat para perempuan.

a

Tulisan ini telah di muat sebelumnya di:

Okezone.com & penasantri.com

Kembali ke Al Quran & Sunah Tanpa Faham Kitab Kuning, Mampukah Kita?

Bagi sebagian kelompok, sebagai pedoman menjalani kehidupan agar sesuai dengan apa yang dikehendaki syariat, umat Islam diharuskan untuk kembali ke Alquran dan hadis saja, tanpa harus membaca kita kitab karya para ulama’ yang justru di anggap semakin jauh jarak dengan zaman nabi maka akan semakin di khawatirkan orsinilitas teks ajaran islam.

Menurut golongan ini, hanya kedua dalil inilah yang bisa digunakan karena masih murni (ma’shum) tidak ada campur tangan siapapun. Berbeda dengan kitab kuning yang oleh mereka disinyalir tidak akan lepas dari pengaruh pengarangnya, baik dalam sisi latar belakang, pemikiran, kondisi sosial, bahkan situasi politik ketika sang musonnif memulai mengarang kitab.

Secara pelan tapi pasti, kelompok ini sudah berhasil meracuni pikiran kebanyakan masyarakat. Terlebih masyarakat awam. Coba saja pembaca renungkan. Di daerah saudara, lebih berkesan ‘spesial’ mana antara penceramah atau narasumber sebuah diskusi, ketika yang satu lebih banyak mengutip kitab kuning, dan satunya lagi mengutip langsung Alquran dan hadis?
Padahal ketika kita bicara kembali ke Alquran dan hadis, berarti kita sedang membicarakan pekerjaan yang amat sangat sulit: menjadi seorang mujtahid. Sulit karena sebelum menjadi mujtahid, seseorang harus menyiapkan banyak hal.

Karena jangankan kita sebagai orang yang awam, ulama sendiri pun, tidak semuanya dikategorikan mujtahid (mujtahid mutlak). Dalam hal kemampuan intelektual, sebagian dari kategori ulama adalah: Pertama, para ulama yang mampu menggali hukum langsung dari Alquran dan hadis dengan menggunakan teori ushul fikih yang dibuat sendiri, seperti para imam madzhab (Maliki, Hambali, Syafi’i dan Hanafi). Kedua, mereka para ulama yang sudah memenuhi persyaratan sebagai mujtahid, namun belum mampu membuat teori ushul fikih sendiri. Dalam menggali hukum, mereka ini memakai teori ushul fikihnya imam madzhab (Dari kalangan Malikiyah ada Ibnu Qasim, Hanabilah ada Abu Bakr Al Atsram, Syafi’iyah ada Al Buwaithi, dan dari kalangan Hanafiyah ada nama Abu Yusuf).

Selain kedua kategori ulama tersebut, ada beberapa kategori yang lain. Mulai dari mereka yang mencetuskan hukum yang belum pernah dijelaskan oleh imam madzhab dengan tetap berpegang teguh dengan undang-undang ushul imam madzhab, sampai pada kategori ulama yang hanya mampu menganalisa dan meneliti perbedaan tarjih (memberi penilaian kuat dan lemah) yang terjadi di kalangan mujtahid fatwa.
Adanya kategori ulama seperti ini, tidak lebih karena memang untuk memahami agama (mencetuskan hukum) langsung dari Alquran dan hadis itu butuh kemampuan khusus. Karena untuk memahami bahasa Arab dengan benar saja, butuh waktu lama. Karena Alquran dan hadis menggunakan bahasa Arab dengan mutu yang sangat tinggi, maka menjadi keharusan untuk terlebih dahulu memahami bahasanya. Untuk mendalaminya, ‘calon mujtahid’ itu setidaknya harus menguasai dahulu gramatika bahasa Arab, sastra Arab/ Balaghoh, logika bahasa, sejarah bahasa, dll. Hal ini penting untuk meminimalisir kesalahan mengidentifikasi makna yang dikehendaki syari’at dari sumbernya secara tekstual, juga untuk mengidentifikasi dalil-dali yang bersifat ‘am, khosh, berlaku hakiki, majazi, dan seterusnya.

Selain penguasaan memahami bahasa Arab, seseorang yang hendak menggali hukum langsung dari Alquran dan hadis juga, setidaknya dia harus hafal seluruh isi Alquran dan sekurang-kurangnya seratus ribu hadis. Belum lagi dia harus menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya, seperti asbabunnuzul dari setiap ayat dan juga asbabulwurud dari setiap hadis, juga penguasaan atas kaidah istinbath para imam mujtahid.
Lantas ketika faktanya demikian, solusi terbaik agar kita tetap berada pada rel agama tidak lain adalah harus mengikuti salah satu madzhab atau taklid saja. Bukankah pada umumnya orang itu tidak akan memilih yang sulit ketika ada yang mudah?

Kata taklid sendiri secara secara bahasa merupakan mashdar/ akar kata dari kata qallada yang berarti mengikatkan/ mengalungkan sesuatu di leher seseorang. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana yang dikatakan DR. Said Ramadhan al Buthi, taklid adalah mengikuti ucapan seseorang tanpa mengetahuihujjah/ dalil keabsahan ucapan tersebut, meskipun pengetahuan tentang hujjah atas keabsahan taklid itu sendiri dia mengetahuinya. Seorang muqallid (orang yang bertaklid) terkadang tahu dalil atas keabsahan taklidnya kepada orang alim (mujtahid), namun dia tidak tahu apakah dalil itu pula yang dipakai oleh mujtahid untuk mencetuskan hukum yang dia ikuti.

Taklid terhadap ulama yang memiliki ilmu agama adalah perintah dari Allah SWT. Sebagaimana firmannya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui,” (An Nahl 43). Ayat ini disepakati oleh para ulama sebagai dalil perintah agar orang yang tidak mengerti hukum mengikuti orang yang memahaminya, dalil dasar pertama kewajiban orang awam agar taklid pada mujtahid. Sesungguhnya taklid sendiri berlaku dalam berbagai persoalan. Misalnya saja taklid atau kepercayaan seorang pasien pada resep yang diberikan seorang dokter.

Jika di amati, sejatinya mereka para kelompok yang menolak taklid itu membingungkan. La mereka ngomong apa, kelakuan mereka sendiri seperti apa. Terbukti ketika mereka mengungkapkan sebuah hadis, sering kali dibarengi dengan mengungkapkan bahwa hadisnya sahih karena telah di teliti dan di kritisi oleh ahli hadis (misalnya oleh Bukhari). Mungkin mereka tidak sadar atau lupa bahwa hal tersebut bagian dari bertaklid dalam bidang hadis. Mungkin juga mereka tidak tahu, Imam Bukhari adalah salah satu ulama pengikut madzhab Syafi’i.

Walhasil, di penghujung tulisan yang singkat ini, ada baiknya kita renungkan betapa sulitnya kita bersyukur menerima apa yang Allah SWT berikan pada kita. Kita selalu meminta lebih dan lebih dalam segala hal. Padahal sudah menjadi hukum alam bahwa manusia itu (terkait dengan tema ini) terbagi menjadi dua kelompok: pandai dan tidak. Dalam kaitannya dengan menggali hukum, pandai berarti mereka yang memiliki kemampuan menggali hukum dari Alquran dan hadis. Sedangkan selebihnya, adalah kita yang sejatinya tidak bisa apa-apa. Bagi kita dengan segala keterbatasannya ini, mari kembali kepada para ulama, kembali pada pondok pesantren, kembali pada kitab-kitab kuning yang mu’tabarah.

Wallahu A’lam…

Sumber: Ngaji Web

Keajaiban Nyata Bagi yang Tak Pernah Tinggalkan Salat 5 Waktu

UMAT Islam diwajibkan menjalankan salat lima waktu sebagai bekal ke surga dan diselamatkan hidupnya saat di dunia. Tapi sayang, masih banyak orang mengabaikan keajaiban salat lima waktu di kehidupan sehari-hari.

Padahal ketika Anda rajin salat akan banyak mengalami keajaiban hidup yang sempurna semasa di dunia. Bahkan, pahalanya berlipat-lipat ganda kalau Anda menunaikan salat secara berjamaah.

Allah berfiman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS, An-Nisa: 103)

Suatu ketika dalam perjalanan mir’ajnya, nabi melewati suatu kaum yang sedang bercocok tanam, lalu menuai pada hari itu juga. Setiap kali mereka tuai, setiap itu pula tanaman tersebut tumbuh kembali, seperti sebelum menuai.

Lalu Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka itu ya Jibril? Jibril menjawab, “Mereka adalah kaum mujahidin fi sabilillah. Pahala yang diberikan kepada mereka berlipat ganda hingga 700 kali lipat.”

Kemudian, Rasulullah juga melihat seorang wanita tua. Pada kedua lengannya berderet perhiasan yang mempesona. Rasulullah bertanya lagi kepada Jibril, lalu Jibril menjawab, “Ia adalah dunia dengan berbagai perhiasan yang ada padanya.”

Selanjutnya, Rasulullah melihat orang yang sedang memukul kepala dengan batu hingga pecah. Dari pecahan kepala itu mengucur banyak darah. Ajaibnya, kepala itu kembali sediakala.

Ada pula sebagian orang yang kembali memukul kepalanya dengan batu hingga berdarah dan seterusnya, hingga berkali-kali. Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka ya Jibril? Jibril menjawab, mereka adalah orang yang bermalas-malasan dalam menunaikan salat wajibnya.”

Dari dua contoh kisah tersebut, apakah Anda masih tetap mengabaikan salat. Sementara salat lima waktu hukumnya wajib, kalau tidak dilakukan akan dapat dosa Allah.

Sumber: Okezone.com

Makna Sosial di Balik Isro’ dan Mi’roj

Selama ini, Anda mungkin bertanya-tanya apa makna dan asal usul Isra’ Mi’raj? Perayaan yang dilaksanakan setiap malam 27 Rajab ini ternyata memiliki sejarah Panjang. Secara singkat, Isra’ Mi’raj adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi sejarah Islam di dunia. Pasalnya, pada peristiwa inilah Rasulullah mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra’ Mi’raj sebetulnya memiliki makna sosial, hal tersebut disampaikan oleh Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia, Ustadz Fauzan Amin. Berkaitan dengan kejadian luar biasa ini, Fauzan mengutip firman Allah SWT, 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” Al-Isra ayat 1.

Dalam konteks tersebut, Isra’ Mi’raj mengandung pesan sekaligus makna yang sangat luar biasa (khariqun lil ‘adzah).

“Setiap orang mempunyai refleksi yang berbeda-beda, tergantung kedalaman melihat dari berbagai sudut pandang masing-masing kira-kira apa yang bisa di ambil hikmah dari kejadian di atas,” tutur Ustadz Fauzan Amin.

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan, perjalanan Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ada dua sesi. Dari Makkah ke Masjid al- Aqsho di Palestina, sementara sesi kedua dari Baitul Maqdis menuju langit.

Pada saat Nabi melakukan perjalanan dari Makkah menuju Palestina inilah Allah anugerahkan keberkahan di sekitar rute perjalanan istimewa tersebut. الذى بارَكْنا حَوْلَه. Hingga kini keberkahan itu bisa dirasakan oleh semua orang seperti di kota-kota di sekitar Makkah, Madinah dan Masjidil Al Aqsho.

“Begitupun saat Nabi Muhammad ‘naik’ dan bertemu dengan Allah adalah sebuah gambaran seorang yang sedang atau telah berada pada posisi atas, baik dalam hal rohani atau lainnya seperti status sosial, ekonomi, dan pangkat jabatan. Sedang turunnya beliau ke bumi adalah cerminan sikap tidak melalaikan dan mau berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kebetulan berada pada posisi bawah,” kata Ustadz Fauzan Amin.

Sumber: Okezone.com

Soal Pemilu & Cara Memilih Pemimpin Sesuai Tuntunan Nabi

Islam adalah agama yang sempurna, Islam tidak hanya mengatur tata cara ibadah saja, akan tetapi Islam juga mengatur juga soal “siyasah” atau politik. Mulai dari syistem Pemilu, kreteria pemimpin, hingga apa saja tanggung jawab seorang pemimpin atas rakyatnya.
Berikut dalil-dalil yang bisa kita jadikan pedoman dalam memilih pemimpin sesuai tuntunan Nabi Saw:

  1. Rasulullah saw memilih orang yang di pandang layak menjadi pemimpin, memiliki skill dan leadershif mumpuni untuk menjadi gubernur, panglima, utusan dst.
  2. Rasulullah saw tindak mengangkat orang yang meminta minta jabatan.
  3. Rasulullah saw tidak memilih orang lemah atau tidak mampu mengemban amanah.
  4. Jangan memilih orang yang tidak peduli pada Rakyat atau umat.
  5. Jangan memilih orang yang secara terang terangan memusuhi umat islam.
  6. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan umatnya untuk ta’at kepada pemimpin.
  7. Rasulullah saw mendoakan para pemimpin yang adil dan amanah.
  8. Allah menjanjikan pahala dan posisi yang baik bagi para pemimpin yang adil.
  9. Allah dan Rasul-Nya mengancam para pemimpin yang dzalim.
  10. Allah dan Rasul-Nya menganjurkan kepada umat untuk mengingatkan pemimpinnya yang zalim.

DALIL HADIS: 
1. Dimulai dari Nawaitu

وَعَنْ أَبي ِمُوْسَى عَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ اْلأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ، قَالَ : سُئِلَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُقَاتلُ شَجَاعَةً، ويُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذلِكَ فِي سَبِيْلِ الله ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Dari Abu Musa, yakni Abdullah Ibn Qais al-Asy’ari ra. berkata:
Rasulullah saw ditanya perihal seseorang yang berperang dengan tujuan menunjukkan keberanian, ada lagi yang berperang dengan tujuan kesombongan – ada yang artinya kebencian – ada pula yang berperang dengan tujuan pameran – menunjukkan pada orang-orang lain karena ingin berpamer. Manakah di antara semua itu yang termasuk dalam jihad fi-sabilillah? Rasulullah saw menjawab: Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah – Agama Islam- menjadi yang paling tinggi, maka ia disebut jihad di jalan Allah. (Muttafaq ‘alaih)

Fiqh  Hadis:

  • Mau jadi caleg atau Cagub, nawaitunya apa ?
  • Mau milih calon si anu ? Atau partai anu ? Nawaitu nya apa ?
  • Yang  dapat pahala hanya yang niatnya Lillaahi ta’ala.

 
Takhrij Hadis:

  • Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 120, 2599, 2894 dan 6904; Muslim, hadis no. 3524-3526. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Daud, hadis no. 2156; al-Tirmizi, hadis no. 1570; al-Nasa’i, hadis no. 3085; Ibn Majah, hadis no. 2773; Ahmad, hadis no. 18673, 18722, 18771, 18805 dan 18905.


2. Ketika Sudah Jadi, Jangan berhianat

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ  اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً مِنْ اْلأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اْلأُتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي قَالَ  فَهَلاَّ جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلاَثًا . رواه البخاري

 Dari Abi Humaid al-Sa’id ra :
Nabi saw pernah mengangkat Ibnu Lutbiyah, yaitu seorang laki-laki dari al-Azdi (menjadi seorang pegawai), untuk memungut zakat, kemudian dia datang kepada Nabi saw dan menyerahkan zakat yang di pungutnya, lalu dia berkata, Ini adalah zakat yang aku setorkan kepada anda, dan ini adalah pemberian orang kepadaku. Kemudian beliau bersabda:
Mengapa dia tidak duduk saja di rumah ibu bapaknya sambil menunggu apakah ada orang yang hendak mengantarkan hadiah kepadanya ataukah tidak.

Dan demi Dzat yag jiwaku di tangan-Nya, tidak seoragpun yang mengambil sesuatu dari zakat kecuali dia akan datang pada hari kiamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik.

Kemudia Beliau mengangkat tangan Beliau sehingga terlihat oleh kami ketiak Beliau yang putih dan (berkata,):Ya Allah bukankah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan ….sebanyak tiga kali”.


Takhrij Hadis:

  • Al-Bukhari, hadis no. 2407

 
3. Rasulullah saw tidak mengangkat orang yang minta Jabatan

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلاَّكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَقَالَ اْلآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ. فَقَالَ إِنَّا وَاللهِ لاَ نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

Dari Abu Musa berkata: Saya dan dua orang anak pamanku menemui Nabi saw, salah seorang dari keduanya lalu berkata: Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang telah diberikan Allah Azza Wa Jalla kepadamu. Dan seorang lagi mengucapkan perkataan serupa, maka Beliau bersabda:

Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan bagi orang yang meminta dan yang rakus terhadapnya.

Takhrij Hadis:

  • Sahih Muslim, hadis no. 3402

 
4. Alasan Rasulullah saw tidak membolehkan meminta jabatan
Meminta akan dibiarkan, diminta akan ditolong

عن عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلْ اْلإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ.

Dari Abdurrahman ibn Samurah berkata: Nabi saw bersabda:Wahai Abdurrahman ibn Samurah, Janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika engkau diberi (jabatan) karena meminta, kamu akan ditelantarkan, dan jika kamu diberi dengan tidak meminta, kamu akan ditolong, dan jika kamu melakukan sumpah, kemudian kamu melihat suatu yang lebih baik, bayarlah kaffarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik.

Takhrij Hadis:

  • Sahih al-Bukhari, hadis no. 6132; Muslim, hadis no. 3401

 
5. Jangan memilih Wakil yang lemah

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Dari Abu Dzar berkata, saya berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat)? Abu Dzar berkata: Kemudian beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya bersabda: Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar.

Takhrij Hadis:

  • Sahih Muslim, hadis no. 3404 dan 3405.

 
6. Jangan memilih orang yang memusuhi umat Islam

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا

Dari Ibn Umar ra bahwa Nabi saw bersabda: Barangsiapa membawa pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami.


Takhrij Hadis:

  • Sahih al-Bukhari, hadis no. 6366; Sahih Muslim, hadis no. 143.

 
7. Fasilitas Buat Pemimpin Yang Adil
7.1. Doa mereka jadi mustajab

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Dari  Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: Tiga orang yang do’a mereka tidak tertolak, yaitu; seorang yang berpuasa hingga berbuka, seorang imam (penguasa) yang adil dan do’anya orang yang di dzalimi. Allah akan mengangkat do’anya ke atas awan, dan membukakan baginya pintu-pintu langit, seraya berfirman: Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski beberapa saat lamanya.

Takhrij Hadis:

  • Hadis hasan, diriwayatkan oleh al-Tirmizi, hadis no. 3522; dan Ibn Majah, hadis no. 1742. al-Tirmizi berkata: Hadis ini hasan.

 
7.2. Pemimpin yang adil akan ditolong Allah

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنْ شَيْءٍ فَقَالَتْ: مِمَّنْ أَنْتَ ؟ فَقُلْتُ : رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ . فَقَالَتْ :كَيْفَ كَانَ صَاحِبُكُمْ لَكُمْ فِي غَزَاتِكُمْ هَذِهِ فَقَالَ مَا نَقَمْنَا مِنْهُ شَيْئًا إِنْ كَانَ لَيَمُوتُ لِلرَّجُلِ مِنَّا الْبَعِيرُ فَيُعْطِيهِ الْبَعِيرَ وَالْعَبْدُ فَيُعْطِيهِ الْعَبْدَ وَيَحْتَاجُ إِلَى النَّفَقَةِ فَيُعْطِيهِ النَّفَقَةَ. فَقَالَتْ: أَمَا إِنَّهُ لاَ يَمْنَعُنِي الَّذِي فَعَلَ فِي مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ أَخِي أَنْ أُخْبِرَكَ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Dari Abdurrahman ibn Syimasah berkata: Saya mendatangi ‘Aisyah untuk menanyakan tentang sesuatu, maka dia balik bertanya: Dari manakah kamu?. Saya menjawab: Seorang dari penduduk Mesir. Aisyah berkata: Bagaimana keadaan sahabat kalian yang berperang bersama kalian dalam peperangan ini?” dia menjawab: Kami tidak pernah membencinya sedikitpun, jika keledai salah seorang dari kami mati maka dia menggantinya, jika yang mati budak maka dia akan mengganti seorang budak, dan jika salah seorang dari kami membutuhkan kebutuhan hidup maka ia akan memberinya. ‘Aisyah berkata: Tidak layak bagiku jika saya tidak mengutarakan keutamaan saudaraku, Muhammad ibnAbu Bakar, saya akan memberitahukanmu sesuatu yang pernah saya dengar dari Rasulullah saw. Beliau berdo’a ketika berada di rumahku ini:

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.

Takhrij Hadis:

  • Sahih Muslim, hadis no. 3407.

7.3. Akan dinaungi dari terik panas Padang Makhsyar

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Bundar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Khubaib bin ‘Abdurrahman dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.

Takhrij Hadis:

  • Sahih al-Bukhari, hadis no. 620; Sahih Muslim, hadis no. 172

 
7.4. Akan mendapatkan mimbar dari cahaya

عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ:  قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Dari Abdullah ibn ‘Amru berkata: Rasulullah saw bersabda:Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Ar Rahman ‘azza wajalla -sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan semua-, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepada mereka.

Takhrij Hadis:

  • Sahih Muslim, hadis no. 3406

7.5. Akan menjadi orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan Allah
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

Dari Abu Sa’id berkata: Rasulullah saw bersabda:Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang zhalim.

 Takhrij Hadis:

  • Hadis hasan, diriwayatkan oleh al-Tirmizi, hadis no. 1250; dan Ahmad, hadis no. 10745 dan 1109.

 
8. Ancaman Kepada Pemimpin yang Zalim

عن مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزَنِيَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Dari Ma’qil bin Yasar Al Muzanni berkata: Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:Tidaklah seorang pemimpin yang Allah serahi untuk memimpin rakyatnya, ketika meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah akan mengharamkan surga untuknya.

Takhrij Hadis:
Sahih Muslim, hadis no. 3409 dan 3410

oleh: Bidang Kajian Hukum Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia

Takhrij

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Kenikmatan dunia membuat manusia sering lupa diri akan kewajibannya untuk melakukan pelbagai macam kebaikan. Dunia diciptakan memang tanpa batas, tetapi manusia diciptakan Allah SWT. Dengan berbagai batasan-batasan dan juga keterbatasan. Oleh karena itu, agar manusia tidak melampaui batas tersebut, maka manusia diperintahkan untuk melakukan Ibadah kepada Allah SWT. dan juga kebaikan-kebaikan terhadap sesama manusia dan juga alam. Ada banyak macam cara yang bisa dilakukan sebagai realisasi perintah tersebut, salah satu diantaranya yakni sedekah. Menurut KBBI, sedekah berarti pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat sesuai dengan kemampuan pemberi. Bisa disimpulkan dari pengertian diatas bahwasanya hakikat dasar sedekah adalah memberi. Namun banyak dari kita yang masih mempunyai mindset bahwa memberikan sedekah harus berupa uang. Akibatnya, kita sering kali menunda-nunda untuk melakukan sedekah akibat tidak adanya uang yang dikeluarkan sebagai suatu persyaratan untuk melakukan sedekah. Padahal kalau ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata sedekah tidak hanya dengan uang saja. Islam memang agama yang tidak pernah memberatkan bagi para penganutnya. Ternyata ada 5 alternatif lain dalam melakukan sedekah yakni : mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya, kalimat yang baik, langkah yang ditempuh menuju shalat, dan  membuang gangguan dari jalan adalah termasuk sedekah. Poin-poin tersebut disandarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim

            Maka hadis diatas yang mendasari pemakalah untuk melakukan takhrij atau penelitian hadis mengenai apakah kedudukan hadis tersebut shohih atau hasan atau juga dloif. Dengan demikian kita bisa mengetahui apakah hadis tersebut layak untuk dijadikan dasar untuk melakukan sedekah selain uang.

1.2 Rumusan Masalah                  

  1. Bagaimana kualitas sanad dan matan pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah?
  2. Apakah ada keterkaitan dengan Al-Qur’an pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah?
  3. Apakah ada keterkaitan dengan hadis lain pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah?
  4. Apakah hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah layak untuk dijadikan hujjah bagi umat islam?

1.3 Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui bagaimana kualitas sanad dan matan pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah
  2. Untuk mengetahui apakah ada keterkaitan dengan Al-Qur’an pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah
  3. Untuk mengetahui apakah ada keterkaitan dengan hadis lain pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah
  4. Untuk mengetahui apakah hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah layak untuk dijadikan hujjah bagi umat islam?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Analisis sanad

            Sanad hadis dinyatakan mempunyai kedudukan yang sangat penting, sebab utamanya dapat dilihat dari dua sisi, yakni dari sisi kedudukan hadis dalam sumber ajaran islam dan dilihat dari sejarah hadis.

2.1.1 Metode Transformasi

            Dalam pembahasan ini, hadis yang akan dianalisa adalah hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667

وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ ، قَالَ : هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ ” ، قَالَ : تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، قَالَ : وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

Artinya :

            Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ bahwa telah menceritakan Abdurrazzaq bin Hammam kepada kami Ma’mar dari Hammam ibn Munabbih berkata : Ini dari apa yang diceritakan Abu Hurairah dari Muhammad Rasulullah SAW.  Dan menyebutkan beberapa hadis darinya, dan  Rasulullah SAW bersabda:”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.”(HR.al-Bukhari ,no.2989 dan Muslim, no 1667)

   Metode transformasi hadis yang digunakan dalam hadis diatas adalah metode Al-sima’  karena terdapat kata  حَدَّثَنَا yang memiliki arti : Telah menceritakan kepada kami.

Metode Al-sima’ ini dilakukan dengan cara seorang murid mendengarkan bacaan atau kata-kata dari gurunya, baik didektekan maupun tidak, baik bersumber dari hafalan maupun tulisannya.

Menurut para ahli hadis, cara ini adakah cara terbaik (tertinggi) dari cara-cara yang lain karena kemungkinan kesalahan sangat kecil. Di samping itu,, pada masa Rasulullah saw. para sahabat banyak yang menggunakan cara ini saat menerima hadis dari Rasulullah saw. setelah para sahabat mendengarkan penjelasan dari Rasulullah saw., mereka melakukakn konfirmasi dengan mencocokkan antara seiorang sahabat dengan sahabat lainnya.

2.1.2 Biografi Perawi

            Hadis diatas diriwayatkan sebanyak 7 orang yang tertulis dalam kitab shahih Bukhari dan Shohih Muslim. Mereka diantaranya adalah : Muhammad bin Rafi’, Abdurrazzaq bin Hammam, Ma’mar, Hammam bin Munabbih, Abu Hurairah, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Berikut biografi ketujuh perawi hadis tersebut yang disajikan dalam bentuk poin-poin :

            a.   Muhammad bin Rafi’

  • Nama Lengkap : Muhammad bin Rafi’ bin Sabur
  • Nama  Panggilan (Kuniyah) : Abu Abdullah
  • Negara : Yaman
  • Tahun Wafat : 245 H
  • Golongan : Tabi’in kalangan pertengahan
  • Guru : Hammad bin Usamah bin Zaid, Umar bin Sa’id bin Ubaid, Syababah bin Suwar, Abdurrazzaq bin Hammam bin Nafi ,dan lain sebagainya.
  • Murid : imam Muslim, Ahmad bin Al Mubarak, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Muslim bin Hajjaj, Muhammad bin Sa’dan, adalah sosok yang tsiqah.
  •  b.  Abdurrazzaq bin Hammam
  • Nama Lengkap : Abdurrazzaq bin Hammam bin Nafi
  • Nama  Panggilan (Kuniyah) : Abu Bakar
  • Negara Asal : Yaman
  • Tahun Wafat : 211 H
  • Golongan : Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa
  • Guru : Abubakar bin Ayyas bin Salim, Abu Sa’id bin Habib, Ma’mar bin Rasyid, dan lain sebagainya
  • Murid  : Abu Al-Arqam, Abu Masy’ar, Ahmad bin Tsabit, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Abu Daud dan Ibnu Hibban mengatakan bahwa beliau adalah sosok yang tsiqah. Sedangkan menurut An-Nasa’i adalah Tsabat

c.   Ma’mar

  • Nama Lengkap : Ma’mar bin Rasyid
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abu ‘Urwah
  • Negara Asal : Yaman
  • Tahun Wafat : 154 H
  • Golongan : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
  • Guru : Abu Utsman, Abu Umar, Tsa’labah bin Zaid Manat, Hammam bin Munabbih, dan sebagainya
  • Murid : Ahmad bin Hamid, Abu Abdul Ghaffar, Ahmad bin Al-Furat bin Khalid, Abdurrazzaq bin Hammam, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Yahya bin Ma’in, Al ‘Ajli, dan Ya’kub bin Syu’bah menyatakan bahwa beliau adalah sosok yang tsiqah.

d.  Hammam bin Munabbih

  • Nama Lengkap : Hammam bin Munabbih bin Kamil bin Syaikh
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abu ‘Uqbah
  • Negara Asal : Yaman
  • Tahun Wafat : 132 H
  • Golongan : Tabi’in Kalangan Tua
  • Guru : Abdul Rahman bin Sakhr, Abu Abdullah, Abu Al-Khattab, dan lain sebagainya
  • Murid : Muhammad bin Sinan, Abu Daud, Ayyub bin Kisan, Ma’mar, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Yahya bin Ma’in, Al ‘Ajli, dan Ibnu Hajar Al-Atsqalani berpendapat bahwa beliau adalah seorang yang tsiqah

e. Abu Hurairah

  • Nama Lengkap : Abdul Rahman bin Sakhr
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abu Hurairah
  • Negara Asal : Madinah, Arab Saudi
  • Tahun Wafat : 57 H
  • Golongan : Sahabat
  • Guru : Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan lain sebagainya
  • Murid : Hammam bin Munabbih, Abu Ishaq, Abdullah bin Fairuz, dan lain sebagainya

f. Imam Bukhori

  • Nama : Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Farisi
  • Negara Asal : Uzbekistan
  • Tahun Wafat : 256 H
  • Guru : Ali bin Al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf  Al-Firyabi, Maki bin Ibrahim Al-Balkhi, Muhammad bin Yusuf Al-Baykandi, dan lain sebagainya
  • Murid : Muslim Ibn al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Kuzaimah, Ibn Abu Dawud, Ibrahim Ibn Mi’yal al-Nasafi, Hammad Ibn Syakir al-Nasawi Mansyur Ibn Muhammad al-Bazdawi, dan lain sebagainya
  • Karya : Shahih al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Khalq Af’al al-‘Ibad, Juz’ Raf’ al-Yadain fi ad-Du’a, Juz’ al-Qiraah kalfa al-Imam, Tarikh al-Bukhari, dan beberapa kitab lainnya.

g. Imam Muslim

  • Nama Lengkap : Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Wardi al-Qusyairi an-Naisaburi 
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abul Husain
  • Negara Asal : Iran
  • Tahun Wafat : 261 H
  • Guru : Imam al-Bukhari, Yahya bin Yahya an-Naisaburi, Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Rohawayh, Muhammad bin ‘Amr, dan lain sebagainya
  • Murid : Yahya bin Sha’id, Muhammad bin Makhlad, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Abdulwahhab al-Farro`, Abu Bakar al-Jarudi, At-Tirmidzi, dan lain sebagainya
  • Karya : kitab al-Jami’ ash-Shahih (Shahih Muslim)kitab al-Asma` wa al-Kunakitab at-Tamyiz, kitab al-`Ilal wa al-Wahdan, kitab al-Afrad, kitab al-Aqron, kitab ath-Thobaqot dan beberapa kitab lainnya.

            Berikut ini merupakan bagan alur diterimanya hadis mulai dari Nabi Muhammad SAW sampai ke perawi hadis.

2.1.3 Hukum Sanad

            Hukum sanad dari hadis ini adalah shahih karena diriwayatkan oleh peraw-perawi yang tsiqah yang artinya kuat, adil dan terpercaya. Selain itu, sanadnya bersambung sampai pada Nabi Muhammad SAW., tanpa terputus.

2.2 Analisis Matan

            Dalam hadis tersebut menyatakan bahwa kewajiban bagi setiap manusia untuk bersedekah adalah setiap hari, tidak ada pengucualian dari satu sama lain. Karena ada beberapa cara untuk menunaikan kewajiban sedekah,seperti mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkan di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya , kalimat yang baik juga termasuk sedekah,  langkah yang ditempuh menuju shalat, dan membuang gangguan dari jalan adalah sedekah. Begitu agungnya ajaran Islam, yang bukan hanya sangat penting untuk kehidupan orang Muslim, tetapi juga untuk seluruh umat manusia dan bahkan makhluk-makhluk Allah yang lain. Oleh karena itu disebut Islam disebut agama rahmatan lil ‘alamin, yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam, walaupun tak semua penganutnya mau melaksanakannya.

2.2.1 Komparasi dengan Hadis Lain

            Hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 adalah bukan satu-satunya yang memuat tentang perbuatan-perbuatan yang dianggap sebagai sedekah. Ada hadis lain yang serupa dari segi matan, yakni sama-sama membahas pelbagai perbuatan manusia yang dianggap sebagai sedekah, sebagai alternatif lain dari sedekah yang menurut sebagian orang adalah harus berupa uang. Maka dari itu, sangatlah disayangkan apabila umat Nabi Muhammad SAW. Tidak melakukan amalan baik berupa sedekah sejak terbitnya matahari setiap harinya. Sungguh sebuah kesia-siaan dalam hiduP.Berikut ini lafadz hadis yang dimaksud.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba`i] telah menceritakan kepada kami [Mahdi yaitu Ibnu Maimun] telah menceritakan kepada kami [Washil] mantan budak Abu ‘Uyainah dari [Yahya bin ‘Uqail] dari [Yahya bin Ya’mar] dari [Abul Aswad Ad Du`ali] dari [Abu Dzarr] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.(H.R. Muslim no. 1181)

            Hadis tersebut secara keseluruhan dari segi matan hampir sama, hanya terdapat perbedaan dari redaksi matan dan tujuan hadis tersebut. Diawal sama-sama membahas bahwa setiap persendian ada sedekahnya, dan hal tersebut dimulai dari pagi hari. Dalam hal ini ada sedikit perbedaan dalam penyampaian redaksi, namun pada intinya sama. Setelah kalimat tersebut juga menyebutkan macam-macam perbuatan yang dianggap sebagai sedekah. Jika pada hadis hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 disebutkan bahwa mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkan di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya, kalimat yang baik juga termasuk sedekah,  langkah yang ditempuh menuju shalat, dan membuang gangguan dari jalan adalah sedekah, maka dalam hadis riwayat muslim no. 1181 ini dijabarkan bahwa setiap tasbih, setiap tahmid,  setiap tahlil, setiap takbir (kalimat-kalimat yang baik) adalah sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi mungkar, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha. Bisa disimpulkan, untuk hadis riwayat muslim no.1181 ini bahwa melakukan sholat dua rakaat sudah mencukupi dari sedekah-sedekah anggota tubuh ini karena shalat adalah amalan untuk semua anggota tubuh. Jika ia mengerjakan shalat, maka semua anggota tubuh melakukan tugasnya.

          Dalam hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667, isi hadis tersebut lebih menekankan pada hubungan antar manusia atau hablun minan naas. Sedangkan pada hadis riwayat muslim no. 1181, lebih berkonsentrasi pada realisasi interaksi antara manusia dengan Allah atau hablun minallah, yang diwujudkan dalam dzikir dan juga sholat.

2.2.2 Komparasi dengan Al-Qu’an

            Selain disebutkan dalam hadis, berbuat kebaikan dalam bentuk sedekah juga terdapat pada ayat Al-Qur’an, tepatnya pada surat An-Nisa’ ayat 14, yang berbunyi :

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka,kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian diatara manusia.” ( An Nisa’: 114)

            Makna dari ayat diatas adalah tidak ada kebaikan pada sebagian besar bisikan dan perbincangan manusia apabila tidak terdapat kebaikan padanya. Bisikan dan perbincangan yang tidak ada manfaatnya tersebut bisa saja kebanyakan perbincangan yang mubah, ataupun jenis bisikan dan perbincangan yang mengandung keburukan dan mudharat yang merupakan perkataan yang telah diharamkan dengan berbagai macam bentuknya. Kemudian Allah Ta’ala memberikan pujian “kecuali orang yang menyerukan manusia untuk bersedekah”. Sedekah yang dimaksud meliputi sedekah dengan harta, ilmu yang bermanfaat, dan juga tercakup di dalamnya berbagai macam ibadah yang mudah seperti tasbih, tahmid dan semisalnya.

            Persamaan pada ayat di atas dengan hadis adalah harus adanya adanya kesadaran dari diri sendiri (yang berupa niat) untuk melakukan sedekah maupun kebaikan-kebaikan lain, karena hal tersebut sudah diperintahkan oleh Allah, juga disabdakan oleh utusan-Nya.

            Jika kita bandingkan terhadap hadis yang menjadi inti pembahasan pada makalah ini maka bisa dibedakan bahwa adanya perintah dan larangan pada surat An-Nisa : 114, yakni untuk menghindari bisikan atau perbincangan yang kurang ada manfaatnya. Maka salah satu cara yang paling tepat adalah dengan melakukan sedekah. Selain itu juga dianjurkan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan juga menginisiasi perdamaian diantara manusia. Sedangkan bisa kita lihat dalam hadis, hanya ada perintah saja untuk melakukan amal-amal kebaikan yang lebih bervriatif, yang salah satunya juga dalam bentuk sedekah.Maka, hadis disini mempunyai fungsi Bayan At-taqrir atau memperjelas isi Al-Qur’an.

2.2.3 Pandangan Ulama terkait dengan Kandungan Hadits

            Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sedekah di sini adalah sedekah yang dianjurkan, bukan sedekah wajib. Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih al-Bukhari menambahkan bahwa manusia dianjurkan untuk senantiasa menggunakan anggota tubuhnya untuk kebaikan. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Subhahanu wa Ta’ala.Penulis kitab ‘Umdatul Qari Badruddin al-Ayni berpendapat bahwa segala amal kebaikan yang dilakukan atas dasar keikhlasan, ganjaran pahalanya sama dengan pahala sedekah. Sebab itu, seluruh bagian dari anggota tubuh kita yang digunakan untuk kebaikan, dinilai oleh Allah SWT sebagai sedekah berdasarkan hadis yang disebutkan di atas.Bahkan dalam kitab Adab al-Mufrad, al-Bukhari meriwayatkan, apabila seorang tidak mampu untuk melakukan perbuatan yang disebutkan di atas, minimal ia menahan dirinya untuk tidak menganggu orang lain. Karena secara tidak langsung, ia sudah memberi (sedekah) kenyamanan dan menjaga kesalamatan orang banyak. Selama kita mampu melakukan banyak hal, peluang untuk bersedekah masih terbuka luas. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga memanfaatkan anggota tubuh kita untuk orang banyak. Para ulama mengatakan, amalan-amalan yang disebutkan dalam hadis di atas hanya sekedar contoh, bukan membatasi. Penafsiran hadis ini masih bisa diperluas cakupannya.
Singkatnya, segala bentuk amalan yang dilakukan anggota tubuh kita, akan dinilai sebagai sedekah oleh Allah SWT bila dilakukan dengan penuh keikhlasan

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 setelah diteliti secara mendalam telah memnuhi persyaratan untuk menjadi  shahih. Hal ini disebabkan karena terpenuhinya syarat-syarat hadis shahih antara lain: Sanandnya bersambung dan diterima langsung dari Nabi Muhammad SAW., kemudian matannya tidak syadz , yakni tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat atau tsiqah terbukti dari hadis yang dikomparasikan bahwa satu sama lain saing berhubungan erat dari segi matannya, hanya saja beda redaksi penyampaiannya.Setelah itu perawinya dhabit dan juga adil, terbukti dari track record para perawi hadis yang sangat berkompeten pada bidangnya. Kemudian syarat yang terakhir yaitu tidak ada illat  dalam hadis yang dibahas dalam makalah ini, karena tidak ada hal yang menciderai dari awal hadis sampai perawinya.Maka sudah tidak diragukan lagi bahwa hadis sedekah riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 bisa dijadikan hujjah atau dasar hukum oleh umat islam untuk melakukan sedekah tanpa mengeluarkan uang, dengan cara mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkan di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya , kalimat yang baik juga termasuk sedekah,  langkah yang ditempuh menuju shalat, dan membuang gangguan dari jalan adalah sedekah. Hikmah yang terkandung dalam hadits yang dibahas adalah Senantiasa mensyukuri ciptaan Allah, karena tidaka ada ciptaan-Nya yang sia-sia,  janganlah merasa hebat, bangga akan diri sendiri, karena semua yang didapat adalah semua sedekah dari Tuhan sang pencipta yakni Allah, berbuat baik harus dibarengi dengan niat yang ikhlas, berikhlas dalam membantu sesama, serta berbuat adil kepada sesama manusia.

3.2 Saran

            Dengan penelitian hadis ini, diharapkan hadis dapat berguna dan menjadi rujukan bagi pelajar maupun mahasiswa dalam meneliti hadis. Harapan pemakalah kedepannya lewat penelitian hadis ini, umat muslim lebih terpacu lagi untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang banyak mendatangkan manfaat untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak

Kiai Bisri Mustofa

Hari ini, muslim Indonesia mana yang tidak mengenal sosok karismatik nan rendah hati, K.H. Mustofa Bisri atau yang kerap disapa dengan Gus Mus. Keluwesan dan kedalaman ilmunya seakan tak terbatas. Tidak saja mampu mengayomi santri-santri yang berada disekelilingnya, akan tetapi juga seluruh muslim di Indonesia, terutama Jawa. Namanya yang santer dibicarakan orang, seolah telah sejajar dengan ketenaran Sang Ayahanda K.H. Bisri Mustafa. Salah seorang ulama kenamaan asal Rembang yang sekaligus juga merupakan ahli tafsir di tanah Nusantara.

Nama Bisri Mustafa sendiri pada awalnya bukanlah nama asli dari penulis Tafsir Al-Ibriz itu. Memiliki nama asli Mashadi, pasca kepulangannya menunaikan ibadah haji pada tahun 1923 namanya berganti Bisri Mustafa. Lahir pada tahun 1915 M di Kampung Sawahan, Rembang, Jawa Tengah, beliau dikenal sebagai intelektual muslim yang demokratis, moderat, berperan dalam dunia politik dan organisasi, serta produktif dalam menulis karya. Ayahnya adalah KH. Zainal Mustofa, sedangkan ibunya Siti Khodijah.

Tanah Rembang adalah tempat pertama Bisri Mustofa bergulat dengan ilmu. Mendapat pendidikan dasar dari sekolah jawa “Ongko Loro” (Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar untuk bumi putera), beliau kemudian meneruskan tradisi menekuni ilmu-ilmu keislaman di Pondok Pesantren Kasingan asuhan KH. Cholil. Selain itu, beliau juga pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Tremas, asuhan KH. Dimyati, meski hanya sedekar tabarukkan (minta berkah) dari Sang Kyai.

Tidak hanya di tanah Jawa, perjalanannya dalam menapaki ilmu-ilmu keislaman juga sampai di tanah suci Makkah. Di tanah kelahiran Nabi itu, beliau belajar kitab Lubbil Ushul, ‘Umdatul Abrar, Tafsir al-Kasysyaf pada Syaikh Baqir, kitab hadis Shahih Bukhori dan Shahih Muslim pada Syaikh Umar Hamdan al-Maghriby, kitab al-Asybah wa al-Nadha’ir, al-Aqwaal al-Sunnan al-Sittah pada Syaikh Ali Maliki, kitab Ibnu Aqilpada Sayid Amin, kitab Minhaj Dzawin Nadhar pada Syaikh Hassan Massath, kitab Tafsir Jalalain pada Sayid Alwi, dan kitab Jam’ul Jawami’ pada KH. Abdullah Muhaimin.

Bisri Mustofa wafat pada hari Rabu, I7 Februari 1977 M di Rembang. Beliau meninggalkan banyak karya dalam bentuk tulisan. Pada bidang tafsir, beliau menulis Tafsir al-Ibriz, dan Tafsir Surat Yasin. Pada bidang hadits, al-Azwad al-Musthofawiyah dan Syarh al-Mandhomatul Baiquny. Pada bidang aqidah, Rawihatul Aqwamdan Durarul Bayan. Pada bidang akhlak, Washaya al-Abaa’ lil Abna dan Qashidah al-Ta’liqatul Mufidah. Pada bidang sejarah, an-Nibrasy, Tarikhul Anbiya, dan Tarikhul Awliya.

Bisri Mustofa dikenal sebagai salah satu ahli tafsir berpengaruh di Nusantara melalui karya monumentalnya yang berjudul al-Ibriz li Ma’rifat Tafsir al-Qur’an al-Aziz yang berjumlah 30 juz. Beliau menulis tafsir tersebut selama kurang lebih 4 tahun (1957 M-1960 M) di Rembang. Setelah dirasa telah usai, beliau pun kemudian menyerahkan tafsirnya untuk ditashih oleh KH. Arwani Amin, KH. Abu Amar, KH. Hisyam, dan KH. Sya’roni Ahmadi.

Penulisan tafsir tersebut konon dilatarbelakangi oleh Al-Qur’an yang telah banyak diterjemahkan oleh beberapa ahli terjemah dengan bahasa yang beragam. Seperti bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahasa Indonesia. Bahkan juga diterjemahkan menggunkan bahasa daerah, seperti bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Tujuannya tidak lain adalah agar umat Islam dari berbagai penjuru menjadi paham tentang makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Berangkat dari hal tersebut, kemudian lahirlah sebuah kitab bernama Tafsir al-Ibriz yang ditulis menggunakan bahasa Jawa aksara Arab pegon.

Sebagaimana tertuang dalam muqaddimahnya beliau menulis bahwa “Al-Qur’an al-Karim sampun katah ingkang dipun terjemah daning para ahli terjemah, wonten ingkang mawi boso Walandi, Inggris, Jerman, Indonesia lan sanes-sanesipun. Malah ingkang mawi tembung daerah, jawi, sunda, lan sakpanunggalanipun ugi sampun katah. Kanti terjemah-terjemah wau, umat Islam saking sedoyo bongso lan suku-suku lajeng katah ingkang saged mangertosi makna lan tegesipun.” (Al-Qur’an sudah banyak diterjemahkan oleh para ahli terjemah, ada yang menggunakan bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Indonesia dan bahasa yang lain. Malah ada yang menggunakan bahasa daerah Jawa, Sunda dan bahasa lain yang sudah banyak. Berdasarkan terjemah-terjemah tersebut, umat Islam dari seluruh bangsa dan suku mampu memahami makna dan maksud dari Al-Quran tersebut).

Selain itu, tujuan lainnya adalah sebagai bentuk ta’dzim terhadap kaum muslimin, khususnya kaum muslim Jawa. Al-Quran dengan begitu akan lebih mudah dipahami oleh kaum muslim yang menggunakan bahasa Jawa. Beliau menuturkan dalam muqaddimahnya bahwa “Kangge nambah khidmah lan usaha ingkang sae lan mulyo puniko, dumateng ngersanipun para mitra muslim ingkang mangertos tembung daerah jawi, kawulo segahaken terjemah tafsir al-Qur’an al-Aziz mawi cara ingkang persaja, enteng, serto gampil pahamanipun”

Sumber penafsiran yang digunakan dalam tafsir al-Ibriz sendiri adalah lebih cenderung bi al-Ra’yikarena dalam mejelaskan makna suatu ayat al-Qur’an, beliau, KH. Bisri Mustafa kerap menggunakan banyak ijtihad. Walaupun pada beberapa tempat beliau menafsirkan ayat dengan menggunakan bi al-ma’tsur atau riwayat-riwayat. Sedangkan dalam bentuk aplikasi penafsirannya lebih condong ringkas (ijmali).

Kenyataan tersebut setidaknya dapat dilihat dari penjelasannya yang sangat umum dan tidak bertele-tele sehingga mudah untuk dipahami oleh para pembacanya. Akan tetapi, pada beberapa tempat terkadang beliau juga menjelaskan makna suatu ayat dengan uraian-uraian penafsiran yang cukup panjang dan penjelasan deskriptif. Lain halnya, jika dilihat dari penyusunannya yang mengikuti mushaf utsmani yaitu dari surat al-Fatihah sampai dengan surat al-Nas serta menafsirkan Al-Qur’an secara lengkap 30 juz, maka tafsir al-Ibriz bisa dikatakan mengikuti metode tahlili.

Rujukan yang digunakannya dalam menulis tafsir al-Ibriz adalah kitab-kitab tafsir mu’tabarah. Seperti, Tafsir Jalalain, Tafsir Baidhowi, Tafsir Khozin, dan lain sebagainya. Sebagaimana dikatakan dalam muqaddimahnya: “Dene bahan-bahanipun terjemah tafsir ingkang kawulo suguhaken puniko, amboten sanes inggih namung metik saking tafsir-tafsir mu’tabarah kados Tafsir Jalalain, Tafsir Baidhowi, Tafsir Khozin, lan sakpanunggalinipun”

Setiap kitab tafsir umumnya memeiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya berbeda dengan kitab yang lainnya. Begitu juga dengan Tafsir al-Ibriz yaitu Al-Qur’an ditulis di tengah dengan makna gandul, terjemah tafsirnya ditulis di samping dengan menggunakan tanda nomor ayat yang terletak di akhir, sedangkan nomor terjemah terletak di awal, keterangan-keterangan lain menggunakan tanda: tanbih, faidah, muhimmah.

Selain itu, beberapa karakteristik lain yang tidak disebutkan dalam kitabnya, yaitu: menyebutkan jumlah ayat dan tempat surat diturunkan serta pengecualian pada ayat yang tidak diturunkan di tempat yang sama, terkadang menyebutkan arti dan nama lain surat, ditulis dengan urutan mushaf ustmani, menjelaskan nasikh mansukh dengan istilah tanbih, walaupun terkadang tanbih digunakan untuk peringatan. Menjelaskan asbab nuzul dengan istilah faidah, walaupun terkadang istilah faidah digunakan untuk nasihat. Menjelaskan kisah-kisah para nabi, umat terdahulu, atau peristiwa hari akhir dengan istilah Qishosh dan Hikayat.

Tafsir al-Ibriz mendapatkan pujian dari beberapa ulama seperti Hasby Ash-Shiddiqi, Khadijah Nasution dan sarjana belanda Martin Van Bruinessen. Ada juga seorang profesor muda ahli tafsir dan hadis keturunan India kelahiran singapura yang bernama Muhammad Shahab Ahmed yang menyatakan ketertarikannya mempelajari Tafsir al-Ibriz. Bahkan, beliau merekomendasikan Tafsir al-Ibriz ini sebagai salah satu koleksi di perpustakaan Universitas Harvard.

Wallahu A’lam.

Syaikh Nawawi al-Bantani dan Marah Labid

  1. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika aktivitas intelektualitas di Indonesia berupa kajian-kajian ke-Islaman banyak dilakukan dan mengalami perkembangan yang cukup memuaskan dan membanggakan. Baik di bidang Fiqih, Tasawuf, hingga kajian Tafsir al-Qur’an. Terukirnya banyak nama tokoh ulama dan intelektual muslim dengan segala prestasinya dalam catatan sejarah adalah bukti konkret dari hal di atas. Sebut saja dalam bidang tafsir, salah satu tokoh yang menjadi kebanggaan umat Islam Indonesia bahkan dunia hingga saat ini adalah Syekh Nawawi al-Banteni “tanpa mengabaikan kehaliannya dalam disiplin ilmu lainnya” dengan karya tafsirnya yang monumental dan terus menjadi rujukan dalam diskursus tafsir hingga saat ini yang juga merupakan objek kajian pada makalah sederhana ini dengan segala keterbatasan penyaji.

Oleh karena itu, jika nantinya dalam pembahasan makalah ini terdapat hal-hal yang perlu diluruskan, ditambahkan informasinya bahkan mungkin terdapat informasi yang terkesan berlebihan sehingga harus dikurangi penyaji dengan apresiatif membuka lebar pintu kebaikan demi tercapainya pemahaman yang lebih baik.

  1. PEMBAHASAN

a. Mengenal Syekh Nawawi al-Banteni

  1. Biografi

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar. Pada tahun 1230 H., bertepatan dengan tahun 1814 M., di Desa Tara, Kecamatan Tirtayasa, Banten bagian utara, lahir seorang anak laki-laki bernama Muhammad Nawawi. Dia adalah keturunan Maulana Sultan Hasanuddin, Sultan Banten yang pertama.[1] Julukan ‘al-Banteni’ dinisbahkan kepada daerah asalnya, Banten. Di samping itu juga untuk membedakan dirinya dengan Imam Nawawi yang juga seorang ulama yang produktif dalam mengarang kitab. Di kalangan ulama dan pengarang Islam, dikenal dua nama Nawawi yang keduanya sama-sama ulama dan pengarang Islam.[2]

Ayahnya yang bernama K.H. Umar bin Arabi adalah seorang pejabat penghulu yang memimpin masjid. Dilacak dari segi silsilah, Nawawi merupakan keturunan ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati, Cirebon), yaitu cucu dari Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyaras (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad SAW. melalui jalur Imam Ja’far ash-Shiddiq, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah az-Zahrah.

Banten pada masa kelahiran Syekh Nawawi sedang berada pada fase kemunduran. Sultan Banten yang memerintah pada waktu itu adalah Muhammad Rafiudin. Periode pemerintahan Sultan Rafiuddin ini (1813-1820 M) merupakan periode terakhir kesultanan Banten. Sejak bercokolnya kekuasaan Hindia-Belanda di Indonesia, berakhir pula era Kesultanan Banten yang didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati pada abad ke-16 M. Masa kejayaan kesultanan tersebut mulai redup dan berganti dengan masa penjajahan Belanda. Meskipun demikian, semangat dan fanatisme keagamaan yang ditanamkan oleh Sunan Gunung Djati tidak pernah sirna dari kesadaran masyarakat Banten. Pada masa kemunduran Banten yang seperti itulah, Syekh Nawawi lahir. Kelahiran Syekh Nawawi ternyata membawa semangat baru untuk masyarakat dan perkembangan agama Islam di Indonesia, terutama di tanah Banten.[3]

b. Perjalanan al-Banteni dalam Menuntut Ilmu

Sejak kecil, Syekh Nawawi memang telah diarahkan ayahnya untuk menjadi seorang ulama. Setelah ditempa oleh sang ayah, Nawawi lantas berguru kepada K.H. Sahal, seorang ulama kharismatik di Banten. Usai dari Banten, ia berguru kepada ulama besar Purwakarta, yaitu Kyai Yusuf.[4]

Pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi bersama dua saudaranya mendapat kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci guna menunaikan Ibadah Haji. Di sana dia tinggal selama kurang lebih 3 tahun. Di Tanah Suci ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu Kalam, Bahasa dan Sastra Arab, Ilmu Hadits, Tafsir dan terutama Ilmu Fiqih. Setelah itu dia kembali ke Tanah Air pada tahun 1833 M. dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayahnya mengajar para santri.[5]

Akan tetapi kondisi Nusantara pada saat itu sedang tidak kondisif. Penjajahan Belanda sendang menggila. Kondisi tersebut memaksa dia untuk kembali ke Makkah untuk yang kedua kalinya guna memperdalam ilmunya. Kesempatan ini tidak disia-siakan olehnya. Bahkan, lantaran ketajaman otaknya, ia tercatat sebagai salah satu murid terpandang di Masjidil Haram. Sewaktu Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur sebagai Imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk sebagai pengganti. Sejak saat itulah ia dikenal dengan julukan Syekh Nawawi al-Jawi.[6]

Nawawi mendapat bimbingan pertama kali dari Syekh Khatib Sambas (Penggabung Tarekat Qadariyah dan Naqsyabandiyah) dan Syekh Abdul Ghani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di Tanah Haram. Setelah itu, beliau belajar kepada Syekh Sayyid Ahmad Dimyati dan Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya juga merupakan ulama asal Indonesia yang bermukim di Makkah, beliau digembleng oleh Muhammad Khatib al-Hanbali. Syekh Nawawi kemudian melanjutkan studinya kepada ulama besar di Mesir dan Syam (Suriah). Menurut penuturan Abdul Jabbar yang dikutip oleh Saiful Amin Ghofur, Syekh Nawawi juga pernah merantau sampai ke Mesir untuk menuntut ilmu. Guru sejatinya pun berasal dari negeri piramida ini, seperti Syekh Yusuf Sumbulawi dan Syekh Ahmad Nahrawi.[7]

Kehidupan Syekh Nawawi penuh dengan kesederhanaan. Kesederhanaannya sangat terkesan sehingga seakan-akan beliau bukanlah seorang Syekh dan Guru Besar. Kerendahan hatinya tidak saja nampak pada sikap pergaulan kesehariannya tetapi jelas terlihat juga dari sikapnya dalam setiap diskusi ilmiah. Dalam setiap dialog ilmiah ia lebih banyak bersikap menjadi pendengar yang baik, tidak pernah mendominasi percakapan. Ia hanya berbicara ketika didesak untuk berpendapat saja.[8]

Di Indonesia murid-murid Syekh Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan aktif selain dalam dakwah Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya, K.H. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur (Pendiri Organisasi Nahdhatul Ulama), K.H. Khalil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, K.H. Asy’ari dari Bawean, K.H. Asnawi dari Kudus, K.H. Tubagus Bakri. Salah satu muridnya K.H. Daud yang berasal dari Perak Malaysia, juga menjadi ulama kenamaan di tempat asalnya.[9]

Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Syekh Nawawi al-Banteni menghembuskan nafas terakhirnya di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la di dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mu’minin isteri Nabi Muhammad SAW.[10]

c. Karir Akademik

Sejak muda Syekh Nawawi dikenal sebagai seorang yang tekun dan ulet dalam mencari ilmu. Dengan kecerdasannya, dalam usia 8 tahun beliau sudah mampu mengahafal seluruh isi al-Qur’an. Setelah ia memutuskan untuk menetap di Makkah dan memilih untuk meninggalkan kampung halamannya, ia menimba ilmu pengetahuan lebih dalam lagi selama 30 tahun. Baru kemudian pada tahun 1860 M. ia mulai mengajar di Masjidil Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman ilmu agamanya, sehingga beliau tercatat sebagai Guru Besar di sana. Namu karena beliau merasa dirinya bukan termasuk orang Arab di tengah-tengah Guru Besar yang berbangsa Arab ia lebih banyak mengajar di rumahnya. Menurut pengakuannya dia tidak pantas ada di sana lantaran pakaiannya tidak berpenampilan seorang Syekh.[11]

Namun pada tahun 1870 M. kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawa, karena dibutuhkan untuk kemudian dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Dari sisi ini seakan-akan aktifitas Syekh Nawawi dalam menulis bukan atas kehendaknya sendiri.

Menjadi penulis di tengah-tengah suasana yang masih dicirikan dengan tradisi lisan dalam mentransmisikan ilmu merupakan propesi yang langka. Wajar kalau kapasitas keilmuannya membuat teman dekat Syekh Nawawi mempercayainya untuk menulis beberapa kitab. Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan murid-murid senior untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di Pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung kepada Kiyai agar proses pembelajaran dengan Kiyai tidak mendapat kesulitan.[12]

d. Karya-karyanya

Kurang lebih 15 tahun sebelum wafat, Syekh Nawawi sangat subur dalam membuahkan kitab. Waktu mengajarnya pun sengaja ia kurangi untuk menambah kesempatan menulis. Maka tak heran jika Syekh Nawawi mampu melahirka puluhan, bahkan –menurut sebuah sumber- ratusan karya tulis meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti Tauhid, Ilmu Theologi, Sejarah, Syari’ah, Tafsir dan lainnya. Yusuf Alias Sarkis mencatat 34 karya Syekh Nawawi dalam Dictionary of Arabic Printed Books.[13]

Karya-karya itu antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:

  • Dalam cabang Tafsir, karyanya yang menonjol adalah kitab Tafsir Marah Labid.
  • Dalam bidang Tasawuf di antaranya Salalim al-Fudhala yang merupakan syarah dari kitab Hidayah al-Azkiya, Mishbah al-Zhalam, dan Bidayah al-Hidayah.
  • Dalam bidang Hadits, antara lain Thariq al-Qaul yang merupakan syarah dari kitab Lubab al-Hadits karangan Imam al-Suyuthi.
  • Dalam bidang Tauhid, antara lain kitab Fath al-Majid syarah kitab al-Durr al-Faraid fi al-Tauhid dan Tijan al-Dararisyarah dari kitab fi al-Tauhid karya al-Bajuri.
  • Dalam bidang Sejarah, antara lain kitab al-Ibriz al-Dani, Bughiyah al-Awwam, dan Fath al-Samad.
  • Dalam bidang Fiqih, antara lain kitab Sullam al-Munajah, al-Tausyikh syarah dari kitab Fath al-Qarib al-Mujib karya Ibnu Qasim al-Ghazi, al-Tsimar al-Yani’ah dan al-Fath al-Mujib.
  • Dalam bidang Bahasa dan Kesusastraan Arab, antara lain kitab Fath al-Ghafr al-Khathiyah dan Lubab al-Bayan.[14]
  1. Mengenal Kitab Tafsir Marah Labid

a. Arti Nama dari ‘Marah dan Labid

Marah Labid li Kasyfi Ma’ana Qur’anil Majidadalah kitab tafsir yang ditulis oleh Syekh Nawawi al-Banteni yang lebih dikenal dengan nama al-Tafsir al-Munir. Syekh Nawawi mengemukakan bahwa kitab tafsir ini ditulis sebagai jawaban terhadap permintaan beberapa koleganya agar ia menulis sebuah kitab tafsir sewaktu berada di Makkah. Kitab yang ditulis dalam bahasa Arab ini diselesaikan pada periode terakhir masa hidupnya yakni pada tahun 1305 H/1884 M dan diterbitkan pertama kali di Makkah setelah terlebih dahulu diserahkan kepada ulama-ulama Makkah untuk diteliti dan dikomentari pada tahun 1887 M. Tidak ada kepastian kenapa tafsir ini memiliki dua nama Marah Labid dan al-Munir. Tetapi yang jelas tafsir ini dicetak ulang pada tahun 1887 oleh penerbit al-Halabi, Kairo dengan lay out yang disertai di bagian margin dengan tafsir Kitab al-Wajiz fi Tafsir al-Qur’an al-Aziz,karya al-Wahidi (w. 468/1076). Tafsir ini lebih dikenal dengan Tafsir al-Wahidi. Susunan tafsir yang sangat ringkas dan simple.

Tujuan penamaan kitab dengan istilah Marah Labid, dari sudut bahasa Marah Labid adalah susunan kata yang berbahasa Arab yang terdiri dari dua kata مراح dan لبيد. Dalam kamus Munjid kata المراح berasal dari kata رواحا – يروح – راح  yang memiliki arti datang dan pergi di sore hari untuk berkemas dan mempersiapkan kembali untuk berangkat. Kata Marah adalah kata benda yang menunjukkan tempat, di sana diartikan الموضع يروح لقوم منه او اليه (suatu tempat peristirahatan bagi orang-orang yang datang dan pergi). Sedangkan لبيد seakar kata dengan لبد – يلبد yang memiliki arti berkumpul mengitari sesuatu. Kemudian istilah Labid sendiri termasuk suatu istilah dalam ilmu hayawan (zoologi), sama dengan kata  اللبادى – اللبادى yang berarti jenis burung yang senang di daratan dan hanya terbang bila diterbangkan. Jadi menurut penelusuran arti kata, Marah Labid secara harfiyah memiliki arti “Terminal Burung”, atau dengan istilah lain “tempat peristirahatan yang nyaman bagi orang-orang yang datang dan pergi”.[15]

b. Karakteristik Tafsir

Untuk mensosialisasikan karyanya ini Syekh Nawawi sendiri masih sempat melakukan pengajaran langsung kepada murid-muridnya tentang tafsir ini selama 10 tahun sejak cetakan pertama diterbitkan sampai ia meninggal. Kemasyhuran kitab yang ditulis oleh ulama Jawi ini tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga di Timur Tengah. Hal itu ditandai dengan penghargaan dari ulama Mesir dan Makkah setelah dipublikasikan di dua negeri Islam tersebut. Di kalangan umat Islam Nusantara Tafsir Marah Labid memiliki arti penting tersendiri. Di beberapa lembaga pendidikan pesantren tafsir ini dijadikan sebagai kitab pegangan dan pegangan pokok kurikulum setelah Tafsir Jalalain, yakni dianggap sebagai tafsir tingkat lanjutan. Terlebih bagi kalangan pelajar yang banyak menggunakan karya-karyanya, kitab tafsir ini sangat berarti karena dari segi isinya tafsir ini merupakan standar dasar pemikiran Syekh Nawawi yang melandasi seluruh ide pemikirannya di beberapa karyanya yang lain.[16]

Dalam tafsirnya dikatakan bahwa sebenarnya sebelum menulis tafsir ini dia ragu melakukannya, ia berpikir lama karena khawatir termasuk dalam kelompok orang yang sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW. “Barang siapa berkata tentang al-Qur’an dengan pikirannya walaupun benar tetap dinyatakan salah. Barang siapa berkata tentang al-Qur’an dengan pikirannya, sama dengan mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan tempat di dalam Neraka.”[17]

Mempertimbangkan kekhawatiran tersebut lalu Syekh Nawawi tidak berambisi menjadikan tafsir sebagai target transmisi ilmu yang baru, tetapi dengan ketawaduannya ia hanya akan mengikuti contoh para pendahulunya dalam menafsirkan al-Qur’an. Sejak awal di pendahuluannya ia mengatakan bahwa dalam menafsirkan ayat al-Qur’an dirujuk beberapa kitab tafsir standar yang menurutnya otoritatif dan kompeten, di antaranya adalah al-Futuhat al-Ilahiyahkarya Sulaiman al-Jamal (w.1790), Mafatih al-Ghaib karya Fakhr al-Din al-Razi (w.1209), Siraj al-Munir karya al-Syarbini (w.1570) dan Irsyad al-‘Aql al-Salim karya Ibnu Su’ud (w.1574), juga merujuk pada Tanwir al-Miqbas karya al-Firuzzabadi (w.1415). kitab-kitab ini sebenarnya bisa dibilang jarang beredar dan tidak mudah didapatkan, tetapi saat itu Syekh Nawawi memperoleh dan menggunakannya sebagai refrensi.[18]

c. Corak Penafsiran

Adapun kecendrungan corak penafsirannya Marah Labid termasuk penganut Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bidang Theologi dan Syafi’iyah dalam bidang Fiqih. Dalam ilmu Kalam terlihat pandangannya tentang Ru’yah, Arsy, Pelaku dosa besar, al-Jabr, al-Ikhtiyar dan sebagainya yang cenderung kepada Asy’ariyah.

Selain juga dalam bidang ilmu yang disebutkan di atas, Syekh Nawawi juga dalam tafsirnya menggunakan corak penafsiran Isyari. Suatu teknik penafsiran yang bisa dilakukan oleh ulama tasawuf falsafi. Di sana ketika beliau menafsirkan الر ia mencoba mengungkapkan rahasia di balik huruf yang berada di awal surat. Model penafsiran ini dilakukan juga di tempat lain misalnya di ayat pertama surat al-Syu’ara dia mengatakan:

Tha Sin Mim…..Ahlu Isyarat mengatakan ini adalah Isyarat bahwa Tha adalah Thuluhu Ta’ala (luasnya Allah ta’ala) dalam hal sempurna keagungannya, Sin adalah Salamatuhu ta’ala (bersihnya Allah ta’ala) dari aib dan sifat kurang, artinya dengan sendirinya Allah bersih dari semua itu, Mimadalah majduhu (tingginya Allah) dalam kemaha Muliaannya dan mulia tanpa batas. Dan merupakan isyarat juga bahwa thaadalah (thaharah) bersihnya hati Nabi Muhammad SAW. dari mengada-ngada, sinberarti sayyidatuna (kepemimpinan Nabi) atas para Nabi dan Rasul, dan mim berarti musyahadatuhu (kesaksiannya Nabi) terhadap keindahan Tuhan Semesta Alam.”[19]

Dalam menafsirkan huruf-huruf terpisah di awal surat, Syekh Nawawi memiliki tiga sikap: pertama, ia akan mengatakan bahwa huruf-huruf tersebut menunjukkan nama suatu surat, kedua, mencoba menjelaskan rahasia di balik huruf-huruf tersebut yang terkadang merujuk kepada Ahli Isyari, ketiga,seringkali ia tawaquf dan mengatakan bahwa Allahlah yang Maha Mengetahui rahasianya. Di sana seringkali dia berspekulasi mencoba menjelaskan makna rahasia tersebut.

Singkatnya Tafsir Marah Labid merupakan tafsir yang ringkas penjelasannya dimana penulisnya menganggap penting untuk tidak keluar dari alur kontek lafazh, menjelaskan makna dan tafsirnya, menyebutkan riwayat Qira’at, keutamaan membacanya, menyebutkan riwayat-riwayat asal yang membantu pemahaman makna serta menyebut Asbabun Nuzul.

3. PENUTUP

Tafsir Marah Labid adalah sebuah karya seorang putra bangsa asal Banten yaitu Syekh Nawawi al-Banteni yang merupakan salah saltu kitab tafsir yang dikaji bukan saja di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Hingga saat ini tafsir Marah Labid di berbagai pesantren di Nusantara merupakan tafsir terpopuler setelah tafsir Jalalain. Ini menunjukkan bahwa posisi tafsir ini mendapat tempat yang istimewa dalam kajian ke-Islaman. Hal ini juga tidak lepas dari ukurannya yang sederhana, penafsirannya yang singkat namun mencakup seluruh bidang Ilmu Agama, serta susunan bahasanya yang mudah dimengerti. Wal hasil kitab tafsir Marah Labid adalah merupakan kontribusi yang sangat berharga dalam Khazanah kajian tafsir Nusantara bahkan dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Syekh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi (2006), Marah Labid li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, Bairut: Dar al-Fikr.

Samsul Munir Amin (2009), Sayyid Ulama Hijaz; Biografi Syekh Nawawi al-Banteni,Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang.

Mamat S. Burhanuddin (2009), Hermeneutika al-Qur’an ala Pesantren (Analisis Terhadap Tafsir Marah Labid Karya K.H. Nawawi Banten),Yogyakarta: UII Pres.

Saiful Amin Ghofur (2008), Profil Para Mufassir al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.

Ahmad Barmawi (2006), 108 Tokoh Muslim Genius Dunia, Jakarta: Restu Agung.

Salman Iskandar (2011), 55 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh, Solo: Tinta Medina.

[1] Samsul Munir Amin (2009), Sayyid Ulama Hijaz; Biografi Syekh Nawawi Al-Banteni, Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang. Hal. 9.

[2] Samsul Munir (2009). Sayyid Ulama Hijaz. Hal. 10.

[3] Samsul Munir (2009), Sayyid Ulama Hijaz, hal. 11.

[4] Saiful Arif Ghofur (2008), Profil Para Mufassir Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, hal. 189

[5] Mamat S. Burhanuddin (2006), Hermeneutika Al-Qur’an ala Pesantren (Analisis Terhadap Tafsir Marah Labid Karya K.H. Nawawi Banten), Yogyakarta: UII Pres, hal. 21.

[6] Saiful Amin (2008), Profil Para Mufassir Al-Qur’an, hal. 191.

[7] Saiful Amin Ghofur (2008), Profil Para Mufassir Al-Qur’an, hal. 190.

[8] Mamat S. Burhanuddin (2006), Hermeneutika Al-Qur’an ala Pesantren, hal. 24.

[9] Ahmad Barmawi (2006), 108 Tokoh Muslim Genius Dunia, Jakarta: Restu Agung, hal. 108-109.

[10] Salman Iskandar (2011), 55 Tokoh Muslim Indonesia paling Berpengaruh, Solo: Tinta Medina, hal. 67.

[11] Mamat S. Burhanuddin (2006), Hermeneutika Al-Qur’an ala Pesantren, hal. 27.

[12] Mamat S. Burhanuddin (2006), Hermeneutika Al-Qur’an ala Pesantren, hal. 28-30.

[13] Saiful Amin Ghofur (2008), Profil Para Mufassir Al-Qur’an, hal. 192.

[14] Ahmad Barmawi (2006), 108 Tokoh Muslim Genius Dunia, hal. 107-108.

[15] Mamat S. Burhanuddin (2006), Hermeneutika Al-Qur’an ala Pesantren, hal. 41-42.

[16] Mamat S. Burhanuddin (2006), Hermeneutika Al-Qur’an ala Pesantren, hal. 43.

[17] Muhammad Nawawi al-Bantani (2006), Marah Labid fi Kasyfi Ma’ani Qur’an Majid,Bairut: Dar al-Fikr, jilid 1, hal. 2

[18] Mamat S. Burhanuddin (2006), Hermeneutika Al-Qur’an ala Pesantren, hal.43.

[19] Nawawi al-Banteni (2006), Tafsir Marah Labid, Jilid 2, hal. 104.

Asghar Ali Enginer

Ashgar Ali Engineer dilahirkan di Rajastan, dekat Udaipur, India, pada tanggal 10 Maret 1940 dalam keluarga yang berafiliasi ke Syi’ah Isma’iliyah. Dalam hal ini, ayahnya (Sheikh Qurban Husain) merupakan seorang pemuka agama yang mengabdi kepada pemimpin keagamaan Bohra. Melalui ayahnya, Asghar Ali Engineer mempelajari ilmu-ilmu keislaman seperti teologi, tafsir, hadis dan fiqh. Dalam karir inteketualnya, ia pernah berkelana dari satu daerah kedaerah lain seperti Hoshangabad, Wardha, Dewas dan Indore. Pada tahun 1962, ia memperoleh gelar Doktor dalam bidang teknik sipil dari Vikram University, Ujjain (India) [baca: M. Agus Nuryatno, Islam, Teologi Pembebasan dan Kesetaraan Gender]

Di samping itu, Asghar Ali Engineer juga menguasai berbagai bahasa, seperti Inggris, Arab, Urdu, Persia, Gujarat, Hindi dan Marathi. Sedangkan untuk tafsir al-Qur’an, dia telah selesai membaca karya tokoh-tokoh Islam seperti Sair Sayyid Ahmad Khan (meninggal 1898), Maulana Abu al-Kalam (meninggal 1958) dan Rasa’il Ikhwanus Safa—sebuah sintesis antara akal dan wahyu—turut mempengaruhi berbagain pemikirannya di kemudian harim [baca: Djohan Effendi, Memikirkan Kembali Asumsi Pemikiran Kita].

Di samping sebagai pemikir, Engineer juga adalah seorang aktifis. Dan oleh karena ia telah memenuhi kualifikasi pendidikan, kualifikasi administratif, kualifikasi moral dan kualifikasi keluarga, dalam catatan Effendi, India mengakuinya sebagai Da‘i—yang abasah—yang memimpin sekte Syi‘ah Isma‘iliyah, Daudi Bohras yang berpusat di Bombay India. Predikat yang disandangnya, Da’i telah mewajibkandirinya untuk tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Baginya, harus ada keseimbangan antara refleksi dan aksi. Oleh karenya, maka tak ayal apabila ia senantiasa selalumemperjuangkan dan menyuarakan pembebasan, amsal hak asasi manusia, hak-hak wanita, pembelaan rakyat tertindas, perdamaian etnis budaya dan agama meskipun terkadang harus bertentangan dengan generasi tua yang cenderung bersikap konservatif, dan pro status qou (lihat situasi dan kondisi pinpinan Da’i Sayyidina Muhammad Burhanuddin sebagai absolute preacher). Didalam merespon keterbelekangan umat beraga, Engineer menyerukan perlunya tafsir liberal terhadap Islam yang dapat mengakomodasi hak-hak individu, martabat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan [baca sejarah Calcutta 8 Nopember 1977 dan Heiderabad 26 Desember 1977].

Teologi Pembebasan

Seruan Engineer yang demikian bukan berarti gerakan konyol yang tidak punya alasan. Pengamatannya terhadap realitas sosial yang terjadi, khususnya di India sebagai tempat tinggalnya, terdapat gejolak sosial yang luar biasa, dimana agama-agama tersebar secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Persoalan sejarah dialektika tentang agama (religion) sebagai pedoman (way of life) yang diwacana kaum klasik hanya menempatkan agama sebagai suatu yang absolute dan diyakini sakral, untouchable dengan berbagai alasan. Cara memahami agama secara doktriner telah melahirkan kesan kaku, tidak menciptakan ruang bebas-kritis bagi manusia dan hanya membuat manusia terkungkung dari perubahan yang dinamis.

Agama yang hanya difahmi sebagai prihal yang given dan lebih hanya menonjolkan sisi hubungan vertikal, menurut Engineer fanatisme yang demikian yang menjadi sebab utama ketertinggalan dan keterbelakangan peradabann umat muslim ketimbang barat. Sehingganya wajib ada keseimbangan terhadap sisi normativitas agama(pemahaman agama berorietasi pada hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan mengedepankan sisi rasionalitas) dengan tidak melupakan sisi historisitas agama(memahami teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya serta gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya). Maka menurut Enginer, langkah taktis yang harus dilakukan adalah sebuah revolusi teologis menuju teologi transformative. Ideologi inilah yang menjadi concern serila pemikiran dan gerakan Asghar Ali Engineer.

Sebagai prwujudan dari concern pemikiran dan ideologi yang Engineer tawarkan ia donorkan teologi pembebasan yang berlandaskan pada pertama, melihat manusia dari dua sisi mata uang yang tak trpisahkan. Antara agama dan manusia harus trjadi tawar menawar. Agama tidak lagi difahami sebagai hal yang given dan absolut belaka. Dengan demikian manusia mulai sedikit terbebaskan dari doktrin agama yang—dalam epistimologi Engineer—cendrung mengekang. Agama harus juga dapat memahami sosio cultural dan dinamika yang terjadi pada pemluknya.

Gerakan ini Engineer dasarkan pada statement fiddunya hasan ah wa fil akhiroti hasanah.Sepertinya ia menaruk arti penting dan respon positif pada sabda Nabi antum a’lamu biumuri dunyakum.Bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah karunia akal baginya, telah terejawantahkan dalam gerakannya yang prtama ini. Gerakan ini menjadi penyadur dari maqalah Ariestofan addinu aqlun la dina limanakla laha. Sehingganya agama harus difahami dari dua jalur, normatifitas dan historitas tanpa melangkahi sisi rasionalitas dalam beragama.

Kedua, mengusahakan teologi anti kemapanan (establishment). Dan ketiga, agama harus peduli rakyat kecil. Agama tidak hanya peduli terhadap satu golongan stratifikasi social saja. Agama harus bisa mendamaikan, mensinergiskan antara yang miskin dan yang kaya, antara yang lemah danyang kuat, antara yang duduk di atas (borjuis) dan merka yang masih bawah (proleteral), antara kyai dan masyarakat awam serta berbagai etnis dan kelompok yangn berbda. Agama harus bisa menjawab seluruh permasalahan bangsa. Agama yang benar-benar  menjadi rahmatan lil alamin.

Keempat, teologi pembebasan tidak hanya agama tidak hanya terfokus pada masalah metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam, namun juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri. Ayat  innallaha la yuwayyiru ma biqaumin hatta yuwayyiru ma bi anfusihim, Engineer jadikan penyemat kebangkitan bahsa dari keterbelakangannya. Usaha yang diiringi doa adallah suatu keniscayaan.

Oleh karena Enginer menganggap keterblakangan muslimin disebabkan kesalahan mereka dalam menafsiri agama, maka ia juga turut mengajukan teori interpretasi teks Agama. Hermeneutika dan teori intrpretsi yang dinakan untuk memperolah pemahaman yang sebenar-benarnya serta dapat menjawab permasahalan  umat, maka melihat teks agama dengan tiga persepsi mendasar.

Pertama, al-Qur’an itu mempunyai dua aspek, yaitu normatif dan kontekstual [baca: Asghar Ali Engineer, Hak-hak,,,,]. Normatif berarti merujuk kepada sistem nilai dan prinsip dasar Qur’anik, seperti prinsip persamaan, kesetaraan dan keadilan (aspek internal teks). Aspek kontekstual berkaitan dengan ayat apa dan mengapa ayat tersebut yang diturunkan utuk merespon problem-problem sosial pada masa itu. Dialektika antara das sollen dan das sein membuat al-Quran tetap bisa diterima sepanjang masa di setiap tempat oleh seluruh kalangan. Karena kitab suci ini mesti mempertimbangkan realitas empiris, atau ”apa yang terjadi”.

Kedua, nilai-nilai yang hendak dipetik dari ayat-ayat al-Qur’an sangatlah tergantung pada persepsidunia, pengalaman dan latar belakang sosio-kultural di mana si penafsir itu berada. Hal ini karena semua orang memiliki semacam weltanschauung(apriori) yang berbeda-beda tersebabkan permasalahan yang dihadapinya juga berbeda. Dari dua konsep penafsiran ini Asghar ingin mengatakan bahwa agama tidak akan berdiri tegak tanpa manusia dan manusia tanpa agama akan tersesat. Maka dari itu, benar tesis Asghar “antara manusia dan agama perlu adanya tawar menawar demi kemaslahatan”.

Dankonsep yangKetiga, makna ayat-ayat al-Qur’an itu terbuka untuk sepanjang waktu. Yang ini meyebabkan kewajaran jika terdapat perbedaan penafsiran di antara para penganut agama terhadap teks itu sendiri. Semangat ini membenrkan terhadap gagasan Quraisy Syihab untuk “membumikan al-Qur’an” sepanjang sejarah umat manusia di bergai belahan dunia.

Bila meliahat gagasan Asghar Ali Engineer ini, seakan Angineer bersekongkol dengan Rifffat Hasan, Fatima Marnisi dan Hassan Hanafi di dalam epistimologi pembangunan peradaban bangsa melaluiTeologi Pembebasan. Selebihnya silahkan renungkan sendiri!

Apa Itu MaʻRûf dan Apa Itu Munkar

Kedua kata maʻrûf dan munkar merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab. Kemudian keduanya diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga penulisan keduanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dibakukan menjadi makruf dan mungkar. Menurut KBBI makruf diartikan dengan perbuatan baik atau jasa. Sementara mungkar dimaknai dengan durhaka dengan melanggar perintah Tuhan.

Dalam memahami suatu makna alangkah baiknya kita telusuri ke dalam bahasa asalnya. Dalam bahasa Arab setiap kata yang berakar dari huruf ʻainrâ’, dan fâ’ mempunyai dua makna asal yaitu: pertama, urutan sesuatu yang saling menyambung satu dengan lainnya. Kedua, tenang dan diam. Dari makna kedua inilah muncul kata maʻrûf. Disebut demikian karena siapapun pasti akan merasa tenang dengan suatu ke-maʻrûf-an. Sebaliknya orang manapun pasti akan lari dari ke-munkar-an. Demikian terang pakar bahasa Arab, Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah.

Makruf adalah sebuah sebutan bagi tindakan yang baik menurut akal dan syariat. Sehingga siapapun pasti menerimanya. Ketenangan dan kedamaian yang dihasilkannya. Tidak ada siapapun yang bakal menolak dan membencinya. Itulah namanya makruf.

Makruf dalam al-Quran mempunyai beragam makna sesuai konteks pembicaraan masing-masing ayatnya, kata maʻrûf diartikan dengan empat makna, yaitu:

  1. Ganti (lihat QS al-Nisa’ [4]: 6 & 114)
  2. Berhias pasca habisnya masa iddah (lihat QS al-Baqarah [2]: 234)
  3. Memberi nafkah sesuai dengan kemampuan suami (lihat QS al-Baqarah [2]: 235 263 dan QS al-Nisa’ [4]: 5 & 8)
  4. Janji yang baik (lihat QS al-Baqarah [2]: 241 & 233)

Sebaliknya sebagai lawan dari kata maʻrûfmunkar mempunyai arti asal lawan dari pengetahuan yang dapat menenangkan hati. Munkar dan ingkar masih dari satu akar yang sama. Menurut al-Ashfihani asal makna keduanya adalah terlintasnya sesuatu yang tidak dibayangkan oleh hati. Dalam kaitannya dengan redaksi munkar, al-Ashfihani memaknai munkar sebagai suatu perbuatan yang dianggap buruk oleh akal sehat atau dinilai buruk oleh syariat meski dinilai baik oleh akal manusia biasa. Al-Munawi menambahkan bahwa mungkar adalah suatu tindakan atau ucapan yang tidak diridai oleh Allah swt.

Dari pemaparan makna makruf dan mungkar di atas semoga menjadi jelas bagi kita umat Nabi Muhammad saw. Sehingga kita bisa beramar makruf dan nahi mungkar dengan baik. Sebab Allah swt mencap kita umat Muhammad saw sebagai umat terbaik karena senantiasa menjalankan amar makruf dan nahi mungkar. Bukan umat yang merasa terbaik tapi belum melakukan yang terbaik bagi nama baik Islam dan umat Muslim di manapun berada. Semoga amar makruf dan nahi mungkar kita membawa ketenangan dan kedamaian bukan penolakan dan pengusiran. Amin. (Ali Fitriana)