QURAN HADIS
Fiqih

Tidak Membaca Basmalah di Awal Shalat, Bolehkah?

PERNAHKAH Anda menunaikan salat berjamaah di masjid, namun sang imam tidak membaca basmalah dengan jelas saat hendak memasuki surat Al-Fatihah? Hal tersebut rupanya berkaitan erat dengan perbedaan mazhab yang dianut oleh sebagian besar umat Muslim di Indonesia.

Menurut penuturan Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Ustadz Fauzan Amin, mayoritas umat Muslim Indonesia menganut mazhab Syafi’i. Dalam arti lain, sebelum membaca surat Al-Fatihah, para imam selalu mendahulukan membaca basmalah dengan nada yang jelas (jahr).

Lain halnya dengan mazhab Maliki di Mekkah yang tidak men-jahrkan basmalah pada awal surat tersebut.

“Jadi pada mazhab Syafi’i basmalah itu termasuk dalam bagian surat Al-Fatihah, sedangkan pada mazhab Maliki bacaan tersebut tidak masuk di dalamnya,” terang Ustadz Fauzan Amin saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, belum lama ini.

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan, dalam ketentuannya surat Al-Fatihah itu berjumlah 7 ayat. Pada mazhab Syafi’i yang diketahui menjahirkan basmalah, ayar terakhir pada Al-Fatihah cenderung disambung.

Sementara mazhab Maliki justru memisah ayat terakhir, sehingga mereka cenderung tidak menjahirkan bacaan basmalah pada awalan surat Al-Fatihah.

“Secara garis besar perdebatan ulama membicarakan hal itu. Selain itu, pada mazhab Syafi’i jika tidak menjahirkan basmalah salatnya dianggap tidak sah. Sebaliknya dengan mazhab Maliki, salat mereka tetap dianggap sah meski tidak membaca basmalah dengan jelas,” tambah Ustadz Fauzan Amin.

Mengutip situs resmi NU, Ibnu Rusyd mengatakan bahwa perbedaan yang paling menonjol adalah dalam penilaian dan pemahaman hadits. Hadits tentang bacaan basmalah Rasulullah secara jahr beberapa di antaranya diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwasanya beliau menyebutkan Nabi membaca basmalah dalam shalat secara jahr.

Hadits dengan maksud serupa juga diriwayatkan oleh Ummu Salamah sebagai berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَرَأَ فِي الصَّلَاةِ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَعَدَّهَا آيَةً، وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اثْنَيْنِ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi membaca ‘bismillahirrahmanirrahim’, dan menganggapnya sebagai satu ayat, dan ‘alhamdu lillahi rabbil ‘alamin’ sebagai yang kedua.” (HR. Abu Dawud)

Kalangan mazhab Maliki, sebagaimana disebutkan Ibnu Rusyd, salah satunya merujuk hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dan Ibnu Abdullah bin Mughaffal, bahwa Nabi dan beberapa sahabat tidak membaca basmalah Surat al-Fatihah saat shalat.

…وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ، وَمَعَ عُمَرَ، وَمَعَ عُثْمَانَ، فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُولُهَا، فَلاَ تَقُلْهَا، إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ: “الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ”.

Artinya: “… Aku pernah shalat bersama Nabi, Abu Bakar, Umar dan Utsman, namun aku belum pernah mendengar mereka membacanya (basmalah). Maka jangan ucapkan itu, dan jika melaksanakan shalat maka baca, ‘alhamdulillahirabbil ‘alamin’ (maksudnya Surat al-Fatihah, tanpa basmalah).” (HR. Tirmidzi).

Diskusi basmalah ini tentu terdengar rumit untuk orang awam atau kalangan yang tidak mengkaji hal tersebut. Oleh karenanya, masyarakat diminta untuk menyesuaikan diri dengan ajaran yang diamalkan sehari-hari.

Related posts

Hukum Sholat Bercampur Laki Laki dengan Perempuan Bukan Mahrom

adminISQH

Bila Perut Lapar Dahulukan Salat Atau Makan

adminISQH

Hukum Mengunakan Sisa Dana Qurban untuk Masjid

adminISQH

Leave a Comment