QURAN HADIS
Fiqih

Hukum Mengunakan Sisa Dana Qurban untuk Masjid

Melaksanakan kurban merupakan bentuk pengabdian umat Islam pada Allah, sesuai dengan syari’at yang diajarkan Islam tentang hikmah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk berkurban.

Kurban mengandung nilai sosial dan spritual. Nilai spiritual tentu berkaitan dengan mendapatkan amal kebaikan dari Allah dan berharap pahala.

Sementara itu, nilai sosialnya terletak pada pembagian daging yang merata ke semua anggota masyarakat, terutama yang kekurangan. Dengan berkurban, mereka yang kekurangan secara ekonomi bisa merasakan makan daging.

Menurut Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Ustadz Fauzan Amin, kurban tidak boleh dianggap remah-temeh dan harus serius menanganinya.

Seperti dijelaskan dalam ayat Alquran berikut ini:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Artinya, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS.Surat Al-Hajj Ayat 34)

Ustadz Fauzan melanjutkan, berkurban tidak hanya memberikan hewan kurban secara instan, akan tetapi boleh memberikan uang untuk dibelikan hewan kurban kepada takmir masjid atau yang lainnya.

Pertanyaannya, bagaimana jika uang untuk membeli kurban tersebut ada sisanya, apakah harus dikembalikan ke orang pertama yang hendak berkurban atau boleh langsung diinfakkan ke masjid?

Untuk lebih afdhal, terang Ustadz Fauzan, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu kepada orang yg berkurban. Jika sulit menghubunginya, boleh menggunakannya kepada sesuatu yg mendekati tujuan pertama.

Seperti dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut ini:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا

Artinya, “Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mengurus hewan kurbannya, dan agar aku menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan bulunya serta tidak memberikan kepada tukang jagal darinya.” (Muttafaq ‘alaih dengan lafadz milik Muslim)

“Hadits di atas menjelaskan begitu sakralnya hewan kurban sehingga pengelolanya tidak boleh sembarangan, menyalahgunakannya, apalagi menjualnya dan menyalurkannya untuk operasional masjid. Sekalipun niatnya sama-sama berpahala, namun keluar dari tujuan pertama,” terang Ustadz Fauzan.

Related posts

Pelet Cinta, Bolehkah?

adminISQH

Bila Perut Lapar Dahulukan Salat Atau Makan

adminISQH

Hukum Sholat Bercampur Laki Laki dengan Perempuan Bukan Mahrom

adminISQH

Leave a Comment