QURAN HADIS
Tafsir

Makna Sosial di Balik Isro’ dan Mi’roj

Selama ini, Anda mungkin bertanya-tanya apa makna dan asal usul Isra’ Mi’raj? Perayaan yang dilaksanakan setiap malam 27 Rajab ini ternyata memiliki sejarah Panjang. Secara singkat, Isra’ Mi’raj adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi sejarah Islam di dunia. Pasalnya, pada peristiwa inilah Rasulullah mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra’ Mi’raj sebetulnya memiliki makna sosial, hal tersebut disampaikan oleh Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia, Ustadz Fauzan Amin. Berkaitan dengan kejadian luar biasa ini, Fauzan mengutip firman Allah SWT, 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” Al-Isra ayat 1.

Dalam konteks tersebut, Isra’ Mi’raj mengandung pesan sekaligus makna yang sangat luar biasa (khariqun lil ‘adzah).

“Setiap orang mempunyai refleksi yang berbeda-beda, tergantung kedalaman melihat dari berbagai sudut pandang masing-masing kira-kira apa yang bisa di ambil hikmah dari kejadian di atas,” tutur Ustadz Fauzan Amin.

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan, perjalanan Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ada dua sesi. Dari Makkah ke Masjid al- Aqsho di Palestina, sementara sesi kedua dari Baitul Maqdis menuju langit.

Pada saat Nabi melakukan perjalanan dari Makkah menuju Palestina inilah Allah anugerahkan keberkahan di sekitar rute perjalanan istimewa tersebut. الذى بارَكْنا حَوْلَه. Hingga kini keberkahan itu bisa dirasakan oleh semua orang seperti di kota-kota di sekitar Makkah, Madinah dan Masjidil Al Aqsho.

“Begitupun saat Nabi Muhammad ‘naik’ dan bertemu dengan Allah adalah sebuah gambaran seorang yang sedang atau telah berada pada posisi atas, baik dalam hal rohani atau lainnya seperti status sosial, ekonomi, dan pangkat jabatan. Sedang turunnya beliau ke bumi adalah cerminan sikap tidak melalaikan dan mau berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kebetulan berada pada posisi bawah,” kata Ustadz Fauzan Amin.

Sumber: Okezone.com

Related posts

Apa Itu MaʻRûf dan Apa Itu Munkar

adminISQH

Menelaah Makna Kafir dalam Al-Qur’an

adminISQH

Kaum Agama Mengharapkan Negara Aman

adminISQH

Leave a Comment