Hukum Sholat Bercampur Laki Laki dengan Perempuan Bukan Mahrom

Pagi, saat subuh tiba, para pendukung salah satu calon presiden sudah meramaikan Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta Pusat. Mereka datang untuk mendukung paslon pilihan mereka dan menggelar beberapa aksi lainnya.

Dalam agenda kegiatan, tertera di sana salat Subuh berjamaah. Area GBK pun diubah menjadi “tempat” salat berjamaah dan saat salat berlangsung, terjadi hal yankg tak biasa. Laki-laki dan perempuan dalam satu saf. Hal ini membuat kegaduhan baik di media sosial maupun kehidupan nyata.

Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Fauzan Amin mengatakan “Salat dalam kondisi laki-laki dan perempuan satu saf itu tidak diperbolehkan dalam Islam, ini terkait dengan kekhawatiran munculnya syahwat di antara mereka dan ini juga mempengaruhi pahala salat yang mereka kerjakan, kecuali dalam kondisi darurat” terang Amin, Senin (8/4/2019).

Gus Amin juga menjelaskan “sebetulnya Allah SWT membeda bedakan status hambanya baik laki-laki dan perempuan itu adalah sama, namun hal itu tidak diberlakukan dalam salat.

Rasulullah mencontohkan kepada umatnya, dalam urusan menunaikan ibadah salat, untuk memisahkan diri dari selain jenisnya (jenis kelamin). Itu karena laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim adalah dua jenis insan yang diciptakan untuk bisa saling bersyahwat satu sama lain. “Maka, seyogyanya mereka dipisah dalam barisan shalat,” tegasnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf (barisan di dalam shalat) bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik saf bagi perempuan adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang paling depan (HR. Muslim 132, Tirmidzi, no. 224, dan Ibnu Majah, no. 1000)

Hadis ini merupakan aturan ideal untuk posisi saf lelaki dan perempuan, bahwa yang lebih sesuai sunah, saf perempuan berada di belakang lelaki. Semakin jauh dari lelaki, semakin baik.

Terkait dengan 5 hadis yang menjadi landasan Fauzan, Okezone coba menuturkan kembali hadis-hadis tersebut dan berikut penjelasannya;

1. Menurut keterangan Syaikhul Islam,

وقوف المرأة خلف صف الرجال سنة مأمور بها، ولو وقفت في صف الرجال لكان ذلك مكروهاً، وهل تبطل صلاة من يحاذيها؟ فيه قولان للعلماء في مذهب أحمد وغيره:

”Posisi saf perempuan di belakang laki-laki adalah aturan yang diperintahkan. Sehingga ketika perempuan ini berdiri di saf lelaki (sesejar dengan lelaki) maka statusnya dibenci. Apakah solat lelaki yang berada di sampingnya itu menjadi batal? Ada dua pendapat dalam madzhab hambali dan madzhab yang lainnya.”

Kemudian, Syaikhul Islam menyebutkan perselisihan mereka,

أحدهما: تبطل، كقول أبي حنيفة وهو اختيار أبي بكر وأبي حفص من أصحاب أحمد. والثاني: لا تبطل، كقول مالك والشافعي، وهو قول ابن حامد والقاضي وغيرهما

Pendapat pertama, solat lelaki yang di sampingnya adalah batal, ini pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr dan Abu Hafsh di kalangan ulama hambali.

Pendapat kedua, solat tidak batal. Ini pendapat Malik dan as-Syafii, pendapat yang dipilih Abu Hamid, al-Qadhi dan yang lainnya. (al-Fatawa al-Kubro, 2/325). As-Sarkhasi – ulama hanafi – (w. 483 H) mengatakan,

بأن حال الصلاة حال المناجاة، فلا ينبغي أن يخطر بباله شيء من معاني الشهوة، ومحاذاة المرأة إياه لا تنفك عن ذلك عادة، فصار الأمر بتأخيرها من فرائض صلاته، فإذا ترك تفسد صلاته

Ketika shalat, manusia sedang bermunajat dengan Allah, karena itu tidak selayaknya terlintas dalam batinnya pemicu syahwat. Sementara sejajar dengan perempuan, umumnya tidak bisa lepas dari syahwat. Sehingga perintah untuk memposisikan perempuan di belakang, termasuk kewajiban solat dan jika ditinggalkan maka solatny batal. (al-Mabsuth, 2/30).

2. Imam Nawawi

وإنما فضل آخر صفوف النساء الحاضرات مع الرجال لبعدهن من مخالطة الرجال ورؤيتهم وتعلق القلب بهم عند رؤية حركاتهم وسماع كلامهم ونحو ذلك

“Diutamakannya saf akhir bagi para perempuan yang hadir bersamaan dengan lelaki dikarenakan hal tersebut menjauhkan mereka dari bercampur dengan laki-laki, melihatnya lelaki (pada mereka), dan menggantungnya hati para perempuan kepada lelaki ketika melihat gerakan lelaki dan mendengar ucapan lelaki dan semacamnya.” (Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, juz 13, hal. 127)

3. Imam al-Ghazali

ويجب أن يضرب بين الرجال والنساء حائل يمنع من النظر فإن ذلك أيضا مظنة الفساد والعادات تشهد لهذه المنكرات

“Wajib untuk menempatkan penghalang antara laki-laki dan perempuan yang dapat mencegah pandangan, sebab hal tersebut merupakan dugaan kuat (madzinnah) terjadinya kerusakan dan norma umum masyarakat memandang ini sebagai bentuk kemungkaran.” (Al-Ghazali, Ihya’ ulum ad-Din, juz 3, hal. 361)

4.Imam al-Mawardi

Dalam kitab al-Hawi al-Kabir beliau menjelaskan:

وإن كان معه رجال ونساء الامام فى الصلاه ثبت قليلا لينصرف النساء ، فإن انصرفن وثب لئلا يختلط الرجال بالنساء

“Ketika terdapat laki-laki dan perempuan yang bersamaan dengan imam dalam solat, maka imam menetap (di tempatnya) sejenak agar jamaah perempuan bubar terlebih dahulu, ketika jamaah perempuan sudah bubar maka imam berdiri (untuk bubar). Hal tersebut dilakukan agar tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan.” (Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, juz 23, hal. 497)

5. Menurut mazhab Hanafi

Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah:

وصرح الحنفية بأن محاذاة المرأة للرجال تفسد صلاتهم . يقول الزيلعي الحنفي : فإن حاذته امرأة مشتهاة في صلاة مطلقة – وهي التي لها ركوع وسجود – مشتركة بينهما تحريمة وأداء في مكان واحد بلا حائل ، ونوى الإمام إمامتها وقت الشروع بطلت صلاته دون صلاتها ، لحديث : أخروهن من حيث أخرهن الله (2) وهو المخاطب به دونها ، فيكون هو التارك لفرض القيام ، فتفسد صلاته دون صلاتها .

وجمهور الفقهاء : (المالكية والشافعية والحنابلة) يقولون : إن محاذاة المرأة للرجال لا تفسد الصلاة ، ولكنها تكره ، فلو وقفت في صف الرجال لم تبطل صلاة من يليها ولا من خلفها ولا من أمامها ، ولا صلاتها ، كما لو وقفت في غير الصلاة ، والأمر في الحديث بالتأخير لا يقتضي الفساد مع عدمه

“Mazhab Hanafiyah menegaskan, sejajarnya posisi perempuan dengan barisan saf laki-laki dapat merusak (membatalkan) solat mereka (para laki-laki). Imam Az-Zayla’i al-Hanafi mengatakan, ‘Jika perempuan yang (berpotensi) mendatangkan syahwat sejajar dengan lelaki dalam solat mutlak yakni solat yang terdapat rukun ruku’ dan sujud, dan keduanya bersekutu dalam hal keharaman dan melaksanakan solat di satu tempat yang tidak ada penghalangnya, lalu imam niat mengimami perempuan tersebut pada saat melaksanakan solat, maka solat lelaki tersebut batal, tapi tidak batal bagi perempuan.’

Hal ini berdasarkan hadits, ‘Kalian akhirkan mereka (perempuan) seperti halnya Allah mengakhirkan mereka.’ Lelaki pada hadits tersebut merupakan objek yang terkena tuntutan syara’ (al-mukhatab) bukan para perempuan, maka lelaki dianggap meninggalkan kewajiban menegakkan tuntutan tersebut hingga solatnya menjadi rusak (batal) namun tidak bagi solat para perempuan.

a

Tulisan ini telah di muat sebelumnya di:

Okezone.com & penasantri.com

Kembali ke Al Quran & Sunah Tanpa Faham Kitab Kuning, Mampukah Kita?

Bagi sebagian kelompok, sebagai pedoman menjalani kehidupan agar sesuai dengan apa yang dikehendaki syariat, umat Islam diharuskan untuk kembali ke Alquran dan hadis saja, tanpa harus membaca kita kitab karya para ulama’ yang justru di anggap semakin jauh jarak dengan zaman nabi maka akan semakin di khawatirkan orsinilitas teks ajaran islam.

Menurut golongan ini, hanya kedua dalil inilah yang bisa digunakan karena masih murni (ma’shum) tidak ada campur tangan siapapun. Berbeda dengan kitab kuning yang oleh mereka disinyalir tidak akan lepas dari pengaruh pengarangnya, baik dalam sisi latar belakang, pemikiran, kondisi sosial, bahkan situasi politik ketika sang musonnif memulai mengarang kitab.

Secara pelan tapi pasti, kelompok ini sudah berhasil meracuni pikiran kebanyakan masyarakat. Terlebih masyarakat awam. Coba saja pembaca renungkan. Di daerah saudara, lebih berkesan ‘spesial’ mana antara penceramah atau narasumber sebuah diskusi, ketika yang satu lebih banyak mengutip kitab kuning, dan satunya lagi mengutip langsung Alquran dan hadis?
Padahal ketika kita bicara kembali ke Alquran dan hadis, berarti kita sedang membicarakan pekerjaan yang amat sangat sulit: menjadi seorang mujtahid. Sulit karena sebelum menjadi mujtahid, seseorang harus menyiapkan banyak hal.

Karena jangankan kita sebagai orang yang awam, ulama sendiri pun, tidak semuanya dikategorikan mujtahid (mujtahid mutlak). Dalam hal kemampuan intelektual, sebagian dari kategori ulama adalah: Pertama, para ulama yang mampu menggali hukum langsung dari Alquran dan hadis dengan menggunakan teori ushul fikih yang dibuat sendiri, seperti para imam madzhab (Maliki, Hambali, Syafi’i dan Hanafi). Kedua, mereka para ulama yang sudah memenuhi persyaratan sebagai mujtahid, namun belum mampu membuat teori ushul fikih sendiri. Dalam menggali hukum, mereka ini memakai teori ushul fikihnya imam madzhab (Dari kalangan Malikiyah ada Ibnu Qasim, Hanabilah ada Abu Bakr Al Atsram, Syafi’iyah ada Al Buwaithi, dan dari kalangan Hanafiyah ada nama Abu Yusuf).

Selain kedua kategori ulama tersebut, ada beberapa kategori yang lain. Mulai dari mereka yang mencetuskan hukum yang belum pernah dijelaskan oleh imam madzhab dengan tetap berpegang teguh dengan undang-undang ushul imam madzhab, sampai pada kategori ulama yang hanya mampu menganalisa dan meneliti perbedaan tarjih (memberi penilaian kuat dan lemah) yang terjadi di kalangan mujtahid fatwa.
Adanya kategori ulama seperti ini, tidak lebih karena memang untuk memahami agama (mencetuskan hukum) langsung dari Alquran dan hadis itu butuh kemampuan khusus. Karena untuk memahami bahasa Arab dengan benar saja, butuh waktu lama. Karena Alquran dan hadis menggunakan bahasa Arab dengan mutu yang sangat tinggi, maka menjadi keharusan untuk terlebih dahulu memahami bahasanya. Untuk mendalaminya, ‘calon mujtahid’ itu setidaknya harus menguasai dahulu gramatika bahasa Arab, sastra Arab/ Balaghoh, logika bahasa, sejarah bahasa, dll. Hal ini penting untuk meminimalisir kesalahan mengidentifikasi makna yang dikehendaki syari’at dari sumbernya secara tekstual, juga untuk mengidentifikasi dalil-dali yang bersifat ‘am, khosh, berlaku hakiki, majazi, dan seterusnya.

Selain penguasaan memahami bahasa Arab, seseorang yang hendak menggali hukum langsung dari Alquran dan hadis juga, setidaknya dia harus hafal seluruh isi Alquran dan sekurang-kurangnya seratus ribu hadis. Belum lagi dia harus menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya, seperti asbabunnuzul dari setiap ayat dan juga asbabulwurud dari setiap hadis, juga penguasaan atas kaidah istinbath para imam mujtahid.
Lantas ketika faktanya demikian, solusi terbaik agar kita tetap berada pada rel agama tidak lain adalah harus mengikuti salah satu madzhab atau taklid saja. Bukankah pada umumnya orang itu tidak akan memilih yang sulit ketika ada yang mudah?

Kata taklid sendiri secara secara bahasa merupakan mashdar/ akar kata dari kata qallada yang berarti mengikatkan/ mengalungkan sesuatu di leher seseorang. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana yang dikatakan DR. Said Ramadhan al Buthi, taklid adalah mengikuti ucapan seseorang tanpa mengetahuihujjah/ dalil keabsahan ucapan tersebut, meskipun pengetahuan tentang hujjah atas keabsahan taklid itu sendiri dia mengetahuinya. Seorang muqallid (orang yang bertaklid) terkadang tahu dalil atas keabsahan taklidnya kepada orang alim (mujtahid), namun dia tidak tahu apakah dalil itu pula yang dipakai oleh mujtahid untuk mencetuskan hukum yang dia ikuti.

Taklid terhadap ulama yang memiliki ilmu agama adalah perintah dari Allah SWT. Sebagaimana firmannya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui,” (An Nahl 43). Ayat ini disepakati oleh para ulama sebagai dalil perintah agar orang yang tidak mengerti hukum mengikuti orang yang memahaminya, dalil dasar pertama kewajiban orang awam agar taklid pada mujtahid. Sesungguhnya taklid sendiri berlaku dalam berbagai persoalan. Misalnya saja taklid atau kepercayaan seorang pasien pada resep yang diberikan seorang dokter.

Jika di amati, sejatinya mereka para kelompok yang menolak taklid itu membingungkan. La mereka ngomong apa, kelakuan mereka sendiri seperti apa. Terbukti ketika mereka mengungkapkan sebuah hadis, sering kali dibarengi dengan mengungkapkan bahwa hadisnya sahih karena telah di teliti dan di kritisi oleh ahli hadis (misalnya oleh Bukhari). Mungkin mereka tidak sadar atau lupa bahwa hal tersebut bagian dari bertaklid dalam bidang hadis. Mungkin juga mereka tidak tahu, Imam Bukhari adalah salah satu ulama pengikut madzhab Syafi’i.

Walhasil, di penghujung tulisan yang singkat ini, ada baiknya kita renungkan betapa sulitnya kita bersyukur menerima apa yang Allah SWT berikan pada kita. Kita selalu meminta lebih dan lebih dalam segala hal. Padahal sudah menjadi hukum alam bahwa manusia itu (terkait dengan tema ini) terbagi menjadi dua kelompok: pandai dan tidak. Dalam kaitannya dengan menggali hukum, pandai berarti mereka yang memiliki kemampuan menggali hukum dari Alquran dan hadis. Sedangkan selebihnya, adalah kita yang sejatinya tidak bisa apa-apa. Bagi kita dengan segala keterbatasannya ini, mari kembali kepada para ulama, kembali pada pondok pesantren, kembali pada kitab-kitab kuning yang mu’tabarah.

Wallahu A’lam…

Sumber: Ngaji Web

Keajaiban Nyata Bagi yang Tak Pernah Tinggalkan Salat 5 Waktu

UMAT Islam diwajibkan menjalankan salat lima waktu sebagai bekal ke surga dan diselamatkan hidupnya saat di dunia. Tapi sayang, masih banyak orang mengabaikan keajaiban salat lima waktu di kehidupan sehari-hari.

Padahal ketika Anda rajin salat akan banyak mengalami keajaiban hidup yang sempurna semasa di dunia. Bahkan, pahalanya berlipat-lipat ganda kalau Anda menunaikan salat secara berjamaah.

Allah berfiman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS, An-Nisa: 103)

Suatu ketika dalam perjalanan mir’ajnya, nabi melewati suatu kaum yang sedang bercocok tanam, lalu menuai pada hari itu juga. Setiap kali mereka tuai, setiap itu pula tanaman tersebut tumbuh kembali, seperti sebelum menuai.

Lalu Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka itu ya Jibril? Jibril menjawab, “Mereka adalah kaum mujahidin fi sabilillah. Pahala yang diberikan kepada mereka berlipat ganda hingga 700 kali lipat.”

Kemudian, Rasulullah juga melihat seorang wanita tua. Pada kedua lengannya berderet perhiasan yang mempesona. Rasulullah bertanya lagi kepada Jibril, lalu Jibril menjawab, “Ia adalah dunia dengan berbagai perhiasan yang ada padanya.”

Selanjutnya, Rasulullah melihat orang yang sedang memukul kepala dengan batu hingga pecah. Dari pecahan kepala itu mengucur banyak darah. Ajaibnya, kepala itu kembali sediakala.

Ada pula sebagian orang yang kembali memukul kepalanya dengan batu hingga berdarah dan seterusnya, hingga berkali-kali. Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka ya Jibril? Jibril menjawab, mereka adalah orang yang bermalas-malasan dalam menunaikan salat wajibnya.”

Dari dua contoh kisah tersebut, apakah Anda masih tetap mengabaikan salat. Sementara salat lima waktu hukumnya wajib, kalau tidak dilakukan akan dapat dosa Allah.

Sumber: Okezone.com

Makna Sosial di Balik Isro’ dan Mi’roj

Selama ini, Anda mungkin bertanya-tanya apa makna dan asal usul Isra’ Mi’raj? Perayaan yang dilaksanakan setiap malam 27 Rajab ini ternyata memiliki sejarah Panjang. Secara singkat, Isra’ Mi’raj adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi sejarah Islam di dunia. Pasalnya, pada peristiwa inilah Rasulullah mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra’ Mi’raj sebetulnya memiliki makna sosial, hal tersebut disampaikan oleh Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia, Ustadz Fauzan Amin. Berkaitan dengan kejadian luar biasa ini, Fauzan mengutip firman Allah SWT, 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” Al-Isra ayat 1.

Dalam konteks tersebut, Isra’ Mi’raj mengandung pesan sekaligus makna yang sangat luar biasa (khariqun lil ‘adzah).

“Setiap orang mempunyai refleksi yang berbeda-beda, tergantung kedalaman melihat dari berbagai sudut pandang masing-masing kira-kira apa yang bisa di ambil hikmah dari kejadian di atas,” tutur Ustadz Fauzan Amin.

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan, perjalanan Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ada dua sesi. Dari Makkah ke Masjid al- Aqsho di Palestina, sementara sesi kedua dari Baitul Maqdis menuju langit.

Pada saat Nabi melakukan perjalanan dari Makkah menuju Palestina inilah Allah anugerahkan keberkahan di sekitar rute perjalanan istimewa tersebut. الذى بارَكْنا حَوْلَه. Hingga kini keberkahan itu bisa dirasakan oleh semua orang seperti di kota-kota di sekitar Makkah, Madinah dan Masjidil Al Aqsho.

“Begitupun saat Nabi Muhammad ‘naik’ dan bertemu dengan Allah adalah sebuah gambaran seorang yang sedang atau telah berada pada posisi atas, baik dalam hal rohani atau lainnya seperti status sosial, ekonomi, dan pangkat jabatan. Sedang turunnya beliau ke bumi adalah cerminan sikap tidak melalaikan dan mau berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kebetulan berada pada posisi bawah,” kata Ustadz Fauzan Amin.

Sumber: Okezone.com