QURAN HADIS
Takhrij

Takhrij

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Kenikmatan dunia membuat manusia sering lupa diri akan kewajibannya untuk melakukan pelbagai macam kebaikan. Dunia diciptakan memang tanpa batas, tetapi manusia diciptakan Allah SWT. Dengan berbagai batasan-batasan dan juga keterbatasan. Oleh karena itu, agar manusia tidak melampaui batas tersebut, maka manusia diperintahkan untuk melakukan Ibadah kepada Allah SWT. dan juga kebaikan-kebaikan terhadap sesama manusia dan juga alam. Ada banyak macam cara yang bisa dilakukan sebagai realisasi perintah tersebut, salah satu diantaranya yakni sedekah. Menurut KBBI, sedekah berarti pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat sesuai dengan kemampuan pemberi. Bisa disimpulkan dari pengertian diatas bahwasanya hakikat dasar sedekah adalah memberi. Namun banyak dari kita yang masih mempunyai mindset bahwa memberikan sedekah harus berupa uang. Akibatnya, kita sering kali menunda-nunda untuk melakukan sedekah akibat tidak adanya uang yang dikeluarkan sebagai suatu persyaratan untuk melakukan sedekah. Padahal kalau ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata sedekah tidak hanya dengan uang saja. Islam memang agama yang tidak pernah memberatkan bagi para penganutnya. Ternyata ada 5 alternatif lain dalam melakukan sedekah yakni : mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya, kalimat yang baik, langkah yang ditempuh menuju shalat, dan  membuang gangguan dari jalan adalah termasuk sedekah. Poin-poin tersebut disandarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim

            Maka hadis diatas yang mendasari pemakalah untuk melakukan takhrij atau penelitian hadis mengenai apakah kedudukan hadis tersebut shohih atau hasan atau juga dloif. Dengan demikian kita bisa mengetahui apakah hadis tersebut layak untuk dijadikan dasar untuk melakukan sedekah selain uang.

1.2 Rumusan Masalah                  

  1. Bagaimana kualitas sanad dan matan pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah?
  2. Apakah ada keterkaitan dengan Al-Qur’an pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah?
  3. Apakah ada keterkaitan dengan hadis lain pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah?
  4. Apakah hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah layak untuk dijadikan hujjah bagi umat islam?

1.3 Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui bagaimana kualitas sanad dan matan pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah
  2. Untuk mengetahui apakah ada keterkaitan dengan Al-Qur’an pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah
  3. Untuk mengetahui apakah ada keterkaitan dengan hadis lain pada hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah
  4. Untuk mengetahui apakah hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah layak untuk dijadikan hujjah bagi umat islam?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Analisis sanad

            Sanad hadis dinyatakan mempunyai kedudukan yang sangat penting, sebab utamanya dapat dilihat dari dua sisi, yakni dari sisi kedudukan hadis dalam sumber ajaran islam dan dilihat dari sejarah hadis.

2.1.1 Metode Transformasi

            Dalam pembahasan ini, hadis yang akan dianalisa adalah hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667

وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ ، قَالَ : هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ ” ، قَالَ : تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، قَالَ : وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

Artinya :

            Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ bahwa telah menceritakan Abdurrazzaq bin Hammam kepada kami Ma’mar dari Hammam ibn Munabbih berkata : Ini dari apa yang diceritakan Abu Hurairah dari Muhammad Rasulullah SAW.  Dan menyebutkan beberapa hadis darinya, dan  Rasulullah SAW bersabda:”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.”(HR.al-Bukhari ,no.2989 dan Muslim, no 1667)

   Metode transformasi hadis yang digunakan dalam hadis diatas adalah metode Al-sima’  karena terdapat kata  حَدَّثَنَا yang memiliki arti : Telah menceritakan kepada kami.

Metode Al-sima’ ini dilakukan dengan cara seorang murid mendengarkan bacaan atau kata-kata dari gurunya, baik didektekan maupun tidak, baik bersumber dari hafalan maupun tulisannya.

Menurut para ahli hadis, cara ini adakah cara terbaik (tertinggi) dari cara-cara yang lain karena kemungkinan kesalahan sangat kecil. Di samping itu,, pada masa Rasulullah saw. para sahabat banyak yang menggunakan cara ini saat menerima hadis dari Rasulullah saw. setelah para sahabat mendengarkan penjelasan dari Rasulullah saw., mereka melakukakn konfirmasi dengan mencocokkan antara seiorang sahabat dengan sahabat lainnya.

2.1.2 Biografi Perawi

            Hadis diatas diriwayatkan sebanyak 7 orang yang tertulis dalam kitab shahih Bukhari dan Shohih Muslim. Mereka diantaranya adalah : Muhammad bin Rafi’, Abdurrazzaq bin Hammam, Ma’mar, Hammam bin Munabbih, Abu Hurairah, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Berikut biografi ketujuh perawi hadis tersebut yang disajikan dalam bentuk poin-poin :

            a.   Muhammad bin Rafi’

  • Nama Lengkap : Muhammad bin Rafi’ bin Sabur
  • Nama  Panggilan (Kuniyah) : Abu Abdullah
  • Negara : Yaman
  • Tahun Wafat : 245 H
  • Golongan : Tabi’in kalangan pertengahan
  • Guru : Hammad bin Usamah bin Zaid, Umar bin Sa’id bin Ubaid, Syababah bin Suwar, Abdurrazzaq bin Hammam bin Nafi ,dan lain sebagainya.
  • Murid : imam Muslim, Ahmad bin Al Mubarak, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Muslim bin Hajjaj, Muhammad bin Sa’dan, adalah sosok yang tsiqah.
  •  b.  Abdurrazzaq bin Hammam
  • Nama Lengkap : Abdurrazzaq bin Hammam bin Nafi
  • Nama  Panggilan (Kuniyah) : Abu Bakar
  • Negara Asal : Yaman
  • Tahun Wafat : 211 H
  • Golongan : Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa
  • Guru : Abubakar bin Ayyas bin Salim, Abu Sa’id bin Habib, Ma’mar bin Rasyid, dan lain sebagainya
  • Murid  : Abu Al-Arqam, Abu Masy’ar, Ahmad bin Tsabit, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Abu Daud dan Ibnu Hibban mengatakan bahwa beliau adalah sosok yang tsiqah. Sedangkan menurut An-Nasa’i adalah Tsabat

c.   Ma’mar

  • Nama Lengkap : Ma’mar bin Rasyid
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abu ‘Urwah
  • Negara Asal : Yaman
  • Tahun Wafat : 154 H
  • Golongan : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
  • Guru : Abu Utsman, Abu Umar, Tsa’labah bin Zaid Manat, Hammam bin Munabbih, dan sebagainya
  • Murid : Ahmad bin Hamid, Abu Abdul Ghaffar, Ahmad bin Al-Furat bin Khalid, Abdurrazzaq bin Hammam, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Yahya bin Ma’in, Al ‘Ajli, dan Ya’kub bin Syu’bah menyatakan bahwa beliau adalah sosok yang tsiqah.

d.  Hammam bin Munabbih

  • Nama Lengkap : Hammam bin Munabbih bin Kamil bin Syaikh
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abu ‘Uqbah
  • Negara Asal : Yaman
  • Tahun Wafat : 132 H
  • Golongan : Tabi’in Kalangan Tua
  • Guru : Abdul Rahman bin Sakhr, Abu Abdullah, Abu Al-Khattab, dan lain sebagainya
  • Murid : Muhammad bin Sinan, Abu Daud, Ayyub bin Kisan, Ma’mar, dan lain sebagainya
  • Pendapat Ulama : Yahya bin Ma’in, Al ‘Ajli, dan Ibnu Hajar Al-Atsqalani berpendapat bahwa beliau adalah seorang yang tsiqah

e. Abu Hurairah

  • Nama Lengkap : Abdul Rahman bin Sakhr
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abu Hurairah
  • Negara Asal : Madinah, Arab Saudi
  • Tahun Wafat : 57 H
  • Golongan : Sahabat
  • Guru : Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan lain sebagainya
  • Murid : Hammam bin Munabbih, Abu Ishaq, Abdullah bin Fairuz, dan lain sebagainya

f. Imam Bukhori

  • Nama : Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Farisi
  • Negara Asal : Uzbekistan
  • Tahun Wafat : 256 H
  • Guru : Ali bin Al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf  Al-Firyabi, Maki bin Ibrahim Al-Balkhi, Muhammad bin Yusuf Al-Baykandi, dan lain sebagainya
  • Murid : Muslim Ibn al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Kuzaimah, Ibn Abu Dawud, Ibrahim Ibn Mi’yal al-Nasafi, Hammad Ibn Syakir al-Nasawi Mansyur Ibn Muhammad al-Bazdawi, dan lain sebagainya
  • Karya : Shahih al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Khalq Af’al al-‘Ibad, Juz’ Raf’ al-Yadain fi ad-Du’a, Juz’ al-Qiraah kalfa al-Imam, Tarikh al-Bukhari, dan beberapa kitab lainnya.

g. Imam Muslim

  • Nama Lengkap : Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Wardi al-Qusyairi an-Naisaburi 
  • Nama Panggilan (Kuniyah) : Abul Husain
  • Negara Asal : Iran
  • Tahun Wafat : 261 H
  • Guru : Imam al-Bukhari, Yahya bin Yahya an-Naisaburi, Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Rohawayh, Muhammad bin ‘Amr, dan lain sebagainya
  • Murid : Yahya bin Sha’id, Muhammad bin Makhlad, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Abdulwahhab al-Farro`, Abu Bakar al-Jarudi, At-Tirmidzi, dan lain sebagainya
  • Karya : kitab al-Jami’ ash-Shahih (Shahih Muslim)kitab al-Asma` wa al-Kunakitab at-Tamyiz, kitab al-`Ilal wa al-Wahdan, kitab al-Afrad, kitab al-Aqron, kitab ath-Thobaqot dan beberapa kitab lainnya.

            Berikut ini merupakan bagan alur diterimanya hadis mulai dari Nabi Muhammad SAW sampai ke perawi hadis.

2.1.3 Hukum Sanad

            Hukum sanad dari hadis ini adalah shahih karena diriwayatkan oleh peraw-perawi yang tsiqah yang artinya kuat, adil dan terpercaya. Selain itu, sanadnya bersambung sampai pada Nabi Muhammad SAW., tanpa terputus.

2.2 Analisis Matan

            Dalam hadis tersebut menyatakan bahwa kewajiban bagi setiap manusia untuk bersedekah adalah setiap hari, tidak ada pengucualian dari satu sama lain. Karena ada beberapa cara untuk menunaikan kewajiban sedekah,seperti mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkan di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya , kalimat yang baik juga termasuk sedekah,  langkah yang ditempuh menuju shalat, dan membuang gangguan dari jalan adalah sedekah. Begitu agungnya ajaran Islam, yang bukan hanya sangat penting untuk kehidupan orang Muslim, tetapi juga untuk seluruh umat manusia dan bahkan makhluk-makhluk Allah yang lain. Oleh karena itu disebut Islam disebut agama rahmatan lil ‘alamin, yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam, walaupun tak semua penganutnya mau melaksanakannya.

2.2.1 Komparasi dengan Hadis Lain

            Hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 adalah bukan satu-satunya yang memuat tentang perbuatan-perbuatan yang dianggap sebagai sedekah. Ada hadis lain yang serupa dari segi matan, yakni sama-sama membahas pelbagai perbuatan manusia yang dianggap sebagai sedekah, sebagai alternatif lain dari sedekah yang menurut sebagian orang adalah harus berupa uang. Maka dari itu, sangatlah disayangkan apabila umat Nabi Muhammad SAW. Tidak melakukan amalan baik berupa sedekah sejak terbitnya matahari setiap harinya. Sungguh sebuah kesia-siaan dalam hiduP.Berikut ini lafadz hadis yang dimaksud.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba`i] telah menceritakan kepada kami [Mahdi yaitu Ibnu Maimun] telah menceritakan kepada kami [Washil] mantan budak Abu ‘Uyainah dari [Yahya bin ‘Uqail] dari [Yahya bin Ya’mar] dari [Abul Aswad Ad Du`ali] dari [Abu Dzarr] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.(H.R. Muslim no. 1181)

            Hadis tersebut secara keseluruhan dari segi matan hampir sama, hanya terdapat perbedaan dari redaksi matan dan tujuan hadis tersebut. Diawal sama-sama membahas bahwa setiap persendian ada sedekahnya, dan hal tersebut dimulai dari pagi hari. Dalam hal ini ada sedikit perbedaan dalam penyampaian redaksi, namun pada intinya sama. Setelah kalimat tersebut juga menyebutkan macam-macam perbuatan yang dianggap sebagai sedekah. Jika pada hadis hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 disebutkan bahwa mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkan di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya, kalimat yang baik juga termasuk sedekah,  langkah yang ditempuh menuju shalat, dan membuang gangguan dari jalan adalah sedekah, maka dalam hadis riwayat muslim no. 1181 ini dijabarkan bahwa setiap tasbih, setiap tahmid,  setiap tahlil, setiap takbir (kalimat-kalimat yang baik) adalah sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi mungkar, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha. Bisa disimpulkan, untuk hadis riwayat muslim no.1181 ini bahwa melakukan sholat dua rakaat sudah mencukupi dari sedekah-sedekah anggota tubuh ini karena shalat adalah amalan untuk semua anggota tubuh. Jika ia mengerjakan shalat, maka semua anggota tubuh melakukan tugasnya.

          Dalam hadis riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667, isi hadis tersebut lebih menekankan pada hubungan antar manusia atau hablun minan naas. Sedangkan pada hadis riwayat muslim no. 1181, lebih berkonsentrasi pada realisasi interaksi antara manusia dengan Allah atau hablun minallah, yang diwujudkan dalam dzikir dan juga sholat.

2.2.2 Komparasi dengan Al-Qu’an

            Selain disebutkan dalam hadis, berbuat kebaikan dalam bentuk sedekah juga terdapat pada ayat Al-Qur’an, tepatnya pada surat An-Nisa’ ayat 14, yang berbunyi :

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka,kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian diatara manusia.” ( An Nisa’: 114)

            Makna dari ayat diatas adalah tidak ada kebaikan pada sebagian besar bisikan dan perbincangan manusia apabila tidak terdapat kebaikan padanya. Bisikan dan perbincangan yang tidak ada manfaatnya tersebut bisa saja kebanyakan perbincangan yang mubah, ataupun jenis bisikan dan perbincangan yang mengandung keburukan dan mudharat yang merupakan perkataan yang telah diharamkan dengan berbagai macam bentuknya. Kemudian Allah Ta’ala memberikan pujian “kecuali orang yang menyerukan manusia untuk bersedekah”. Sedekah yang dimaksud meliputi sedekah dengan harta, ilmu yang bermanfaat, dan juga tercakup di dalamnya berbagai macam ibadah yang mudah seperti tasbih, tahmid dan semisalnya.

            Persamaan pada ayat di atas dengan hadis adalah harus adanya adanya kesadaran dari diri sendiri (yang berupa niat) untuk melakukan sedekah maupun kebaikan-kebaikan lain, karena hal tersebut sudah diperintahkan oleh Allah, juga disabdakan oleh utusan-Nya.

            Jika kita bandingkan terhadap hadis yang menjadi inti pembahasan pada makalah ini maka bisa dibedakan bahwa adanya perintah dan larangan pada surat An-Nisa : 114, yakni untuk menghindari bisikan atau perbincangan yang kurang ada manfaatnya. Maka salah satu cara yang paling tepat adalah dengan melakukan sedekah. Selain itu juga dianjurkan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan juga menginisiasi perdamaian diantara manusia. Sedangkan bisa kita lihat dalam hadis, hanya ada perintah saja untuk melakukan amal-amal kebaikan yang lebih bervriatif, yang salah satunya juga dalam bentuk sedekah.Maka, hadis disini mempunyai fungsi Bayan At-taqrir atau memperjelas isi Al-Qur’an.

2.2.3 Pandangan Ulama terkait dengan Kandungan Hadits

            Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sedekah di sini adalah sedekah yang dianjurkan, bukan sedekah wajib. Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih al-Bukhari menambahkan bahwa manusia dianjurkan untuk senantiasa menggunakan anggota tubuhnya untuk kebaikan. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Subhahanu wa Ta’ala.Penulis kitab ‘Umdatul Qari Badruddin al-Ayni berpendapat bahwa segala amal kebaikan yang dilakukan atas dasar keikhlasan, ganjaran pahalanya sama dengan pahala sedekah. Sebab itu, seluruh bagian dari anggota tubuh kita yang digunakan untuk kebaikan, dinilai oleh Allah SWT sebagai sedekah berdasarkan hadis yang disebutkan di atas.Bahkan dalam kitab Adab al-Mufrad, al-Bukhari meriwayatkan, apabila seorang tidak mampu untuk melakukan perbuatan yang disebutkan di atas, minimal ia menahan dirinya untuk tidak menganggu orang lain. Karena secara tidak langsung, ia sudah memberi (sedekah) kenyamanan dan menjaga kesalamatan orang banyak. Selama kita mampu melakukan banyak hal, peluang untuk bersedekah masih terbuka luas. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga memanfaatkan anggota tubuh kita untuk orang banyak. Para ulama mengatakan, amalan-amalan yang disebutkan dalam hadis di atas hanya sekedar contoh, bukan membatasi. Penafsiran hadis ini masih bisa diperluas cakupannya.
Singkatnya, segala bentuk amalan yang dilakukan anggota tubuh kita, akan dinilai sebagai sedekah oleh Allah SWT bila dilakukan dengan penuh keikhlasan

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Hadis mengenai perbuatan-perbuatan yang dianggap sedekah riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 setelah diteliti secara mendalam telah memnuhi persyaratan untuk menjadi  shahih. Hal ini disebabkan karena terpenuhinya syarat-syarat hadis shahih antara lain: Sanandnya bersambung dan diterima langsung dari Nabi Muhammad SAW., kemudian matannya tidak syadz , yakni tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat atau tsiqah terbukti dari hadis yang dikomparasikan bahwa satu sama lain saing berhubungan erat dari segi matannya, hanya saja beda redaksi penyampaiannya.Setelah itu perawinya dhabit dan juga adil, terbukti dari track record para perawi hadis yang sangat berkompeten pada bidangnya. Kemudian syarat yang terakhir yaitu tidak ada illat  dalam hadis yang dibahas dalam makalah ini, karena tidak ada hal yang menciderai dari awal hadis sampai perawinya.Maka sudah tidak diragukan lagi bahwa hadis sedekah riwayat Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1667 bisa dijadikan hujjah atau dasar hukum oleh umat islam untuk melakukan sedekah tanpa mengeluarkan uang, dengan cara mendamaikan di antara dua orang, membantu seseorang untuk menaikkan di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya , kalimat yang baik juga termasuk sedekah,  langkah yang ditempuh menuju shalat, dan membuang gangguan dari jalan adalah sedekah. Hikmah yang terkandung dalam hadits yang dibahas adalah Senantiasa mensyukuri ciptaan Allah, karena tidaka ada ciptaan-Nya yang sia-sia,  janganlah merasa hebat, bangga akan diri sendiri, karena semua yang didapat adalah semua sedekah dari Tuhan sang pencipta yakni Allah, berbuat baik harus dibarengi dengan niat yang ikhlas, berikhlas dalam membantu sesama, serta berbuat adil kepada sesama manusia.

3.2 Saran

            Dengan penelitian hadis ini, diharapkan hadis dapat berguna dan menjadi rujukan bagi pelajar maupun mahasiswa dalam meneliti hadis. Harapan pemakalah kedepannya lewat penelitian hadis ini, umat muslim lebih terpacu lagi untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang banyak mendatangkan manfaat untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak

Leave a Comment