QURAN HADIS
Artikel

Semangat Mencintai Al-Quran

Alquran adalah mata rantai terakhir kitab-kitab suci yang diturunkan Allah swt kepada para utusan-Nya. Diturunkan kepada Rasul pemungkas, Nabi Muhammad saw, dengan bahasa Arab yang sempurna. Allah mewahyukan Alquran dalam 23 tahun, setara dengan masa belajar sejak TK sampai dengan doktor, yakni TK 2 tahun ditambah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 4 tahun, S2 2 tahun, dan S3 3 tahun.

Alquran adalah Kitab Petunjuk Tuhan sepanjang masa. Untuk mencapai petunjuk itu kita harus menafsirkannya melalui kode dan ‘saluran’ berupa bahasa Arab. Alquran adalah teks poetik terstruktur dengan banyak fungsi. Demikian, kata Navid Kermani.

Alquran adalah lautan tak bertepi, sumur tanpa dasar. Memahami Alquran ibarat menempuh perjalanan. Seseorang memerlukan bekal wawasan Alquran dan pengetahuan tentang rambu-rambu yang niscaya diperhatikan dalam menempuh perjalanan itu.

Sebagai sebuah proses, tafsir merupakan upaya memahami maksud firman Allah swt sesuai dengan kadar kemampuan manusia. Sedangkan sebagai produk, tafsir adalah buah pemahaman atas ayat-ayat Alquran yang diungkapkan dengan lisan, tulisan, sikap, maupun perbuatan, baik secara individu maupun kolektif.

Setiap orang berhak memahami Alquran dan mengungkapkan buah pemahamannya kepada orang lain. Sungguhpun demikian, untuk kemaslahatan umat, bila seseorang hendak menyebarluaskan penafsirannya atas ayat-ayat Alquran, seyogianya mendialogkan hasil pemahamannya tersebut dengan orang-orang yang diakui kepakarannya. Demikian pesan mufasir perempuan terkemuka, ‘Aisyah Abdurrahman bintusy Syathi`.

Menurut Ustadz M. Quraish Shihab, penyebab kesalahan penafsiran Alquran ialah, pertama, subjektivitas mufasir. Kedua, kesalahan metode penafsiran. Ketiga, kedangkalan ilmu alat bahasa Arab. Keempat, kedangkalan pengetahuan tentang pembicaraan ayat. Kelima, tidak memperhatikan konteks asbabun-nuzul. Keenam, tidak memperhatikan siapa pembicara dan kepada siapa pembicaraan itu.

Allah swt menggambarkan keluasan kandungan Alquran dengan firman-Nya sebagai berikut (ditulis maknanya). Katakanlah, “Sekiranya lautan tinta untuk menuliskan kata-kata Tuhanku, pasti lautan akan habis sebelum habis kata-kata Tuhanku, sekalipun mesti Kami tambahkan tinta sebanyak itu. (QS 18:109); Sekiranya pohon-pohon di bumi adalah pena dan samudera adalah tinta dan sesudah itu ditambah dengan tujuh samudera, firman Allah tidak akan habis ditulis. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS 31:27).

Allah swt mewariskan Alquran kepada orang-orang yang beriman sepanjang sejarah. Sikap dan respons mereka pun berbeda-beda satu dari yang lain, sebagaimana difirmankan dalam Alquran, Kemudian Kami wariskan Kitab (Alquran) itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat amal kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar. (QS 35:32).

Di antara ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut. Orang yang menganiaya diri sendiri ialah orang yang lebih banyak keburukannya ketimbang kebaikannya. Orang yang pertengahan ialah orang yang kebaikannya sebanding dengan keburukannya. Sedangkan orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang yang kebaikannya amat banyak dan jarang berbuat keburukan.

Mufasir lain menjelaskan, bahwa orang yang menganiaya diri sendiri ialah orang yang lebih banyak diberi daripada memberi. Orang yang pertengahan ialah orang yang suka diberi dan suka pula memberi. Adapun orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang yang lebih banyak memberi tinimbang diberi.

Seseorang dengan kritis mengajukan pertanyaan, mengapa orang-orang yang menganiaya diri sendiri justru disebutkan lebih dahulu, sedangkan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan disebutkan kemudian? Jawabnya, karena orang-orang yang menganiaya diri sendiri adalah mayoritas dari umat ini, sedangkan orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan adalah minoritasnya.

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman, Rasul berkata, “Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah bersikap meninggalkan Alquran ini.” (QS 25:30). Ibnu Taimiyyah menafsirkan ayat itu demikian. Siapa yang tidak membaca Alquran ia telah meninggalkan Alquran; siapa yang membaca Alquran tetapi tidak memahami isinya ia telah meninggalkan Alquran; siapa yang membaca Alquran dan memahami isinya tetapi tidak mengamalkannya ia telah meninggalkan Alquran.

Rasulullah saw bersabda, “Alquran adalah jamuan Tuhan. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuan-Nya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya.”

Para ulama dan cendekiawan dari berbagai penjuru dunia memerikan Alquran sebagai berikut. “Alquran adalah pengantin wanita yang menyembunyikan wajahnya. Bila engkau membuka cadarnya dan tidak mendapatkan kebahagiaan, itu karena caramu membuka cadar telah menipu dirimu sendiri. Apabila engkau mencari kebaikan darinya, ia akan menunjukkan wajahnya, tanpa perlu kaubuka cadarnya.” (Jalaluddin Rumi).

“Ayat-ayat Alquran bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang telah Anda lihat.” (Abdullah Darraz).

“Ayat Alquran itu seperti buah kurma. Setiap kali kamu mengunyahnya, rasa manisnya akan terasa.” (Basyar bin as-Sura);“Tiada seorang pun dalam 1500 tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad: Alquran.” (H.A.R. Gibb).

“Rasakanlah keagungan Alquran sebelum engkau menyentuhnya dengan nalarmu.” (Muhammad Abduh); “Alquran adalah jaring untuk menangkap jiwa manusia. Seperti ikan, manusia berenang dari satu tempat ke tempat lain, dan Tuhan memasang jaring ke dalam mana manusia terjerat, demi kebahagiaannya sendiri.” (Fritjof Schuon).

“Alquran memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk interpretasi baru dan tidak tertutup dalam interpretasi tunggal.” (Mohammed Arkoun); “Tak seorang pun dalam Islam yang berhak mengklaim sebagai otoritas atas dan penjaga pemahaman yang tepat atas Alquran. Seluruh umat Islam bertanggung jawab terhadap pengabadian dan implementasi ideal-ideal Alquran.” (Muhammad ‘Ata al-Sid).

“Alquran memiliki keampuhan bahasa yang tak tertandingi karena bentuk atau gayanya dan isi pesan yang dikandungnya. Kekuatan penggerak bahasa Alquran terletak pada kemampuan menghadirkan ide-ide ketuhanan, kemanusiaan dan wawasan kosmik yang tak dapat diingkari.” (Komaruddin Hidayat).

“Persilakanlah Alquran berbicara – istanthiq Alquran.” (Ali bin Abi Thalib);  “Bacalah Alquran seakan-akan ia diturunkan kepadamu.” (Muhammad Iqbal); “Untuk mengantarkanmu mengetahui rahasia ayat-ayat Alquran, tidak cukup engkau membacanya empat kali sehari.” (Abul A’la Maududi).

“Alquran mengandung prinsip-prinsip umum sains; orang dapat menurunkan pengetahuan tentang perkembangan fisik dan spiritual manusia dengan prinsip-prinsip tersebut.” (Musthafa al-Maraghi); “Orang tak dapat memahami Alquran dan hadis kalau tak berpengetahuan umum. Bagaimana orang bisa mengerti bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh-Nya ‘berjodoh-jodohan’ [QS 51:49] kalau tak mengetahui biologi, positif dan negatif, aksi dan reaksi.” (Bung Karno).

Tak seorang pun tahu rahasia

Hingga seorang mukmin

Ia tampak sebagai pembaca

Namun Kitab itu ialah dirinya sendiri.

(Mohammad Iqbal)

Cintailah Alquran, niscaya Allah swt mencintaimu. Rengkuhlah Alquran, niscaya Pemilik Alquran merengkuhmu. Jadikan Alquran GPS hidupmu.

Related posts

Enam Keterasingan Beragama Yang Diperingatkan Nabi

adminISQH

Hukum Muslim Ucapkan Imlek

adminISQH

Tuhan dalam Gemuruh Politik

adminISQH

Leave a Comment