QURAN HADIS
Mufassir

Asghar Ali Enginer

Ashgar Ali Engineer dilahirkan di Rajastan, dekat Udaipur, India, pada tanggal 10 Maret 1940 dalam keluarga yang berafiliasi ke Syi’ah Isma’iliyah. Dalam hal ini, ayahnya (Sheikh Qurban Husain) merupakan seorang pemuka agama yang mengabdi kepada pemimpin keagamaan Bohra. Melalui ayahnya, Asghar Ali Engineer mempelajari ilmu-ilmu keislaman seperti teologi, tafsir, hadis dan fiqh. Dalam karir inteketualnya, ia pernah berkelana dari satu daerah kedaerah lain seperti Hoshangabad, Wardha, Dewas dan Indore. Pada tahun 1962, ia memperoleh gelar Doktor dalam bidang teknik sipil dari Vikram University, Ujjain (India) [baca: M. Agus Nuryatno, Islam, Teologi Pembebasan dan Kesetaraan Gender]

Di samping itu, Asghar Ali Engineer juga menguasai berbagai bahasa, seperti Inggris, Arab, Urdu, Persia, Gujarat, Hindi dan Marathi. Sedangkan untuk tafsir al-Qur’an, dia telah selesai membaca karya tokoh-tokoh Islam seperti Sair Sayyid Ahmad Khan (meninggal 1898), Maulana Abu al-Kalam (meninggal 1958) dan Rasa’il Ikhwanus Safa—sebuah sintesis antara akal dan wahyu—turut mempengaruhi berbagain pemikirannya di kemudian harim [baca: Djohan Effendi, Memikirkan Kembali Asumsi Pemikiran Kita].

Di samping sebagai pemikir, Engineer juga adalah seorang aktifis. Dan oleh karena ia telah memenuhi kualifikasi pendidikan, kualifikasi administratif, kualifikasi moral dan kualifikasi keluarga, dalam catatan Effendi, India mengakuinya sebagai Da‘i—yang abasah—yang memimpin sekte Syi‘ah Isma‘iliyah, Daudi Bohras yang berpusat di Bombay India. Predikat yang disandangnya, Da’i telah mewajibkandirinya untuk tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Baginya, harus ada keseimbangan antara refleksi dan aksi. Oleh karenya, maka tak ayal apabila ia senantiasa selalumemperjuangkan dan menyuarakan pembebasan, amsal hak asasi manusia, hak-hak wanita, pembelaan rakyat tertindas, perdamaian etnis budaya dan agama meskipun terkadang harus bertentangan dengan generasi tua yang cenderung bersikap konservatif, dan pro status qou (lihat situasi dan kondisi pinpinan Da’i Sayyidina Muhammad Burhanuddin sebagai absolute preacher). Didalam merespon keterbelekangan umat beraga, Engineer menyerukan perlunya tafsir liberal terhadap Islam yang dapat mengakomodasi hak-hak individu, martabat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan [baca sejarah Calcutta 8 Nopember 1977 dan Heiderabad 26 Desember 1977].

Teologi Pembebasan

Seruan Engineer yang demikian bukan berarti gerakan konyol yang tidak punya alasan. Pengamatannya terhadap realitas sosial yang terjadi, khususnya di India sebagai tempat tinggalnya, terdapat gejolak sosial yang luar biasa, dimana agama-agama tersebar secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Persoalan sejarah dialektika tentang agama (religion) sebagai pedoman (way of life) yang diwacana kaum klasik hanya menempatkan agama sebagai suatu yang absolute dan diyakini sakral, untouchable dengan berbagai alasan. Cara memahami agama secara doktriner telah melahirkan kesan kaku, tidak menciptakan ruang bebas-kritis bagi manusia dan hanya membuat manusia terkungkung dari perubahan yang dinamis.

Agama yang hanya difahmi sebagai prihal yang given dan lebih hanya menonjolkan sisi hubungan vertikal, menurut Engineer fanatisme yang demikian yang menjadi sebab utama ketertinggalan dan keterbelakangan peradabann umat muslim ketimbang barat. Sehingganya wajib ada keseimbangan terhadap sisi normativitas agama(pemahaman agama berorietasi pada hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan mengedepankan sisi rasionalitas) dengan tidak melupakan sisi historisitas agama(memahami teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya serta gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya). Maka menurut Enginer, langkah taktis yang harus dilakukan adalah sebuah revolusi teologis menuju teologi transformative. Ideologi inilah yang menjadi concern serila pemikiran dan gerakan Asghar Ali Engineer.

Sebagai prwujudan dari concern pemikiran dan ideologi yang Engineer tawarkan ia donorkan teologi pembebasan yang berlandaskan pada pertama, melihat manusia dari dua sisi mata uang yang tak trpisahkan. Antara agama dan manusia harus trjadi tawar menawar. Agama tidak lagi difahami sebagai hal yang given dan absolut belaka. Dengan demikian manusia mulai sedikit terbebaskan dari doktrin agama yang—dalam epistimologi Engineer—cendrung mengekang. Agama harus juga dapat memahami sosio cultural dan dinamika yang terjadi pada pemluknya.

Gerakan ini Engineer dasarkan pada statement fiddunya hasan ah wa fil akhiroti hasanah.Sepertinya ia menaruk arti penting dan respon positif pada sabda Nabi antum a’lamu biumuri dunyakum.Bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah karunia akal baginya, telah terejawantahkan dalam gerakannya yang prtama ini. Gerakan ini menjadi penyadur dari maqalah Ariestofan addinu aqlun la dina limanakla laha. Sehingganya agama harus difahami dari dua jalur, normatifitas dan historitas tanpa melangkahi sisi rasionalitas dalam beragama.

Kedua, mengusahakan teologi anti kemapanan (establishment). Dan ketiga, agama harus peduli rakyat kecil. Agama tidak hanya peduli terhadap satu golongan stratifikasi social saja. Agama harus bisa mendamaikan, mensinergiskan antara yang miskin dan yang kaya, antara yang lemah danyang kuat, antara yang duduk di atas (borjuis) dan merka yang masih bawah (proleteral), antara kyai dan masyarakat awam serta berbagai etnis dan kelompok yangn berbda. Agama harus bisa menjawab seluruh permasalahan bangsa. Agama yang benar-benar  menjadi rahmatan lil alamin.

Keempat, teologi pembebasan tidak hanya agama tidak hanya terfokus pada masalah metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam, namun juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri. Ayat  innallaha la yuwayyiru ma biqaumin hatta yuwayyiru ma bi anfusihim, Engineer jadikan penyemat kebangkitan bahsa dari keterbelakangannya. Usaha yang diiringi doa adallah suatu keniscayaan.

Oleh karena Enginer menganggap keterblakangan muslimin disebabkan kesalahan mereka dalam menafsiri agama, maka ia juga turut mengajukan teori interpretasi teks Agama. Hermeneutika dan teori intrpretsi yang dinakan untuk memperolah pemahaman yang sebenar-benarnya serta dapat menjawab permasahalan  umat, maka melihat teks agama dengan tiga persepsi mendasar.

Pertama, al-Qur’an itu mempunyai dua aspek, yaitu normatif dan kontekstual [baca: Asghar Ali Engineer, Hak-hak,,,,]. Normatif berarti merujuk kepada sistem nilai dan prinsip dasar Qur’anik, seperti prinsip persamaan, kesetaraan dan keadilan (aspek internal teks). Aspek kontekstual berkaitan dengan ayat apa dan mengapa ayat tersebut yang diturunkan utuk merespon problem-problem sosial pada masa itu. Dialektika antara das sollen dan das sein membuat al-Quran tetap bisa diterima sepanjang masa di setiap tempat oleh seluruh kalangan. Karena kitab suci ini mesti mempertimbangkan realitas empiris, atau ”apa yang terjadi”.

Kedua, nilai-nilai yang hendak dipetik dari ayat-ayat al-Qur’an sangatlah tergantung pada persepsidunia, pengalaman dan latar belakang sosio-kultural di mana si penafsir itu berada. Hal ini karena semua orang memiliki semacam weltanschauung(apriori) yang berbeda-beda tersebabkan permasalahan yang dihadapinya juga berbeda. Dari dua konsep penafsiran ini Asghar ingin mengatakan bahwa agama tidak akan berdiri tegak tanpa manusia dan manusia tanpa agama akan tersesat. Maka dari itu, benar tesis Asghar “antara manusia dan agama perlu adanya tawar menawar demi kemaslahatan”.

Dankonsep yangKetiga, makna ayat-ayat al-Qur’an itu terbuka untuk sepanjang waktu. Yang ini meyebabkan kewajaran jika terdapat perbedaan penafsiran di antara para penganut agama terhadap teks itu sendiri. Semangat ini membenrkan terhadap gagasan Quraisy Syihab untuk “membumikan al-Qur’an” sepanjang sejarah umat manusia di bergai belahan dunia.

Bila meliahat gagasan Asghar Ali Engineer ini, seakan Angineer bersekongkol dengan Rifffat Hasan, Fatima Marnisi dan Hassan Hanafi di dalam epistimologi pembangunan peradaban bangsa melaluiTeologi Pembebasan. Selebihnya silahkan renungkan sendiri!

Related posts

Syaikh Nawawi al-Bantani dan Marah Labid

adminISQH

Kiai Bisri Mustofa

adminISQH

Leave a Comment