Nilai Kemuliaan yang Hakiki dan yang Palsu Setelah al-Quran menggugurkan keutamaan dengan menggunakan nasab dan kabilah, ia mengarahkan pada standar nilai yang hakiki dengan mengatakan: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”.

Demikianlah al-Quran mencoret dengan tinta merah semua keistimewaan-keistimewaan fisik dan materi seraya memberikan kepastian terhadap permasalahan takwa dan takut kepada Allah dengan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih utama dan mulia dari takwa yang merupakan karakter jiwa dan batin yang harus menancap dalam hati dan jiwa sebelum hal apapun.

Dalam kitab tafsir al-Mizan deisebutkan bahwa ayat “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” menjelaskan apa yang menjadi kemuliaan di sisi Allah SWT, yakni sebagaimana yang telah dijelaskan di awal ayat bahwa manusia mereka semuanya sama tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya dan tidak ada yang lebih utama dari yang lainnya, dan bahwa perbedaan dari segi bangsa atau suku itu hanyalah agar mereka saling mengenal dan dengan demikian juga bisa menjadi masyarakat yang kokoh dan tolong menolong dan inilah tujuan dari penciptaan bangsa dan suku yang berbeda-beda bukan untuk membanggakan diri dengan nasab dan mengaku lebih utama karena hal-hal seperti kulit putih atau hitam sehingga sebagiannya memperbudak sebagian yang lainnya dan menyebabkan munculnya kerusakan di muka bumi dan kehancuran.

Pada ayat tersebut Allah SWT menjelaskan apa yang menjadi kemuliaan di sisi-Nya dan ini adalah hakikat dari kemuliaan. Yakni bahwa manusia tercipta untuk mencari suatu kemuliaan yang membedakannya (menjadikannya istimewa) dari yang lainnya, dan kebanyakan manusia karena keterikatan mereka dengan dunia memandang bahwa kemuliaan ada pada keutamaan meterial berupa harta, kecantikan nasab, kemuliaan leluhur dan lain sebagainya, sehingga mereka mencurahkan daya upaya mereka untuk mendapatkannya untuk kemudian membanggakannya atas yang lainnya.

Keutamaan tersebut semuanya adalah palsu dan tidak memberikan kemuliaan apapun bagi mereka kecuali kesengsaraan dan kehancuran.

Kemuliaan yang hakiki adalnah yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hakiki yakni kehidupan yang baik dan abadi di sisi Tuhannya dan kemuliaan ini adalah takwa kepada Allah SWT dan ini merupakan satu-satunya cara untuk sampai kepada kebahagiaan di akhirat dan kebahagiaan di dunia juga akan mengikutinya.

Allah SWT berfirman:

تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). (Qs. al-Anfal: 67)

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى

Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa

(Qs. al-Baqarah: 197)

Jika kemuliaan itu diukur dengan takwa maka paling mulianya manusia adalah yang paling bertakwa di antara mereka sebagaimana firman dari Allah. Dan tujuan yang dipilih oleh Allah dengan ilmu-Nya ini adalah tujuan bagi manusia yang tidak akan menemui benturan dan tidak akan ada saling dorong-mendorong antara pihak yang terlibat dengannya, berbeda dengan tujuan-tujuan dan kemuliaan-kemuliaan yang dituju manusia berdasarkan khayalan mereka seperti kekayaan, kepemimpinan, kecantikan dan lain sebagainya.

Dan firman Allah: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”adalah penekanan untuk ayat ini dan sebagai isyarat bahwa kemuliaan yang Allah pilihkan untuk manusia adalah kemuliaan hakiki yang Ia pilih dengan ilmu dan pengetahuan-Nya berbeda dengan kemuliaan yang dipilih oleh manusia untuk diri mereka sendiri yang merupakan khayalan palsu  dan hanyalah hiasan dunia belaka. Allah SWT berfirman:

وَما هذِهِ الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوانُ لَوْ كانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (Qs. al-Ankabut: 64)

Pada ayat ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan hidupnya manusia wajib mengikuti perintah Tuhan-nya dan memilih apa yang telah dipilih oleh-Nya dan Allah telah memilihkan untuk mereka takwa.

Bisa jadi banyak orang yang mengklaim bahwa dirinya telah bertakwa sedangkan nyatanya yang menyandang ketakwaan itu lebih sedikit maka al-Quran menambahkan di akhir ayat dengan kata-kata: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Allah mengenal orang-orang yang benar-benar bertakwa dan Dia mengetahui derajat ketakwaan mereka serta keikhlasan niat mereka dan kesucian mereka maka Dia memuliakan mereka sesuai dengan pengetahuan-Nya. Adapun para pengklaim palsu mereka juga akan dihisab dan dibalas atas kebohongannya.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan:

Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang dengan fitrahnya ingin menjadi wujud yang memiliki nilai dan kebanggaan, oleh karenya dia berusaha dengan segala eksistensinya untuk memperoleh nilai tersebut, hanya saja pengetahuan tentang standar dari nilai tersebut berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kebudayaan dan bisa jadi nilai yang palsu mengambil tempat yang lebih jelas sehingga tidak tersisa lagi tempat untuk nilai yang benar.

Karenanya sekelompok orang memandang bahwa nilai mereka yang hakiki adalah dinisbatkan kepada kabilah yang terkenal oleh karenanya demi mengangkat reputasi kabilah dan kelompok mereka, mereka menampakkan aktifitas-aktifitas umum untuk menjadi pemimpin karena keluhuran dan ketinggian pangkat kabilah mereka.

Perhatian terhadap kabilah dan kebanggaan yang dinisbatkan kepada hal tersebut merupakan hal yang tidak nyata di mana kabilah tertentu menganggap dirinya lebih mulia dari kabilah yang lain, dan sangat disayangkan malapetaka Jahiliyah ini kita temukan dalam banyak jiwa individu masyarakat.

Kelompok lain menganggap harta sebagai standar dari nilai kemuliaan  seseorang, mereka berusaha menumpuk-numpuk harta untuk mendapatkan kemuliaan tersebut, sedangkan kelompok yang lain menganggap bahwa politik dan sosial yang tinggi merupakan standar kemuliaan seseorang.

Demikianlah setiap kelompok memiliki jalan masing-masing, mereka mencari nilai-nilai tertentu dan menganggapnya sebagai standar kemuliaan seseorang. Karena semua hal ini bersifat materi dan palsu, Islam memberikan standar hakiki sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang yakni ketakwaan, kesucian hati dan keteguhan agama. Sehingga dia tidak memperhatikan tema-tema penting seperti ilmu pengetahuan dan kebudayaan jika hal itu tidak berada dalam jalur keimanan, ketakwaan dan akhlak.

Takwa kepada Allah serta memerangi syahwat dan berpegang teguh kepada kebenaran, kejujuran, kesucian dan keadilan adalah tolok ukur dari nilai kemanusiaan itu sendiri bukan yang lainnya, hanya saja nilai-nilai asli ini seringkali terlupakan oleh masyarakat dan digantikan oleh nilai-nilai palsu.

Dalam lingkungan orang-orang Jahiliyah yang meyakini bahwa nilai kemuliaan seseorang ada pada kebanggaan pada leluhur mereka, harta dan anak-anak mereka muncul para perampok dan perampas, sebaliknya dalam lingkungan orang-orang yang berlandaskan ayat “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” muncul orang-orang seperti Salman, Abu Dzar, Ammar, Yasir dan Miqdad.

Kedua: Hakikat dari ketakwaan seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa al-Quran memberikan keistimewaan terbesar untuk ketakwaan dan menganggapnya sebagai satu-satunya tolok ukur untuk mengenal nilai kemuliaan seseorang dan juga menganggapnya sebaik-baiknya bekal seraya mengatakan:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى

Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (QS. al-Baqarah: 197)

Adapun dalam surat al-A’raf al-Quran mengumpamakannya dengan pakaian:

وَلِباسُ التَّقْوى ذلِكَ خَيْرٌ

 Dan pakaian takwa itulah yang paling baik”. (QS. al-A’raf: 26) 

Sebagaimana al-Quran juga mengumpamakan dalam ayat lain bahwa takwa adalah salah satu dasar dakwah awal para Nabi dan  meninggikannya dalam beberapa ayat sampai-sampai al-Quran mengumpamakan Allah sebagai ahlu taqwa:

هُوَ أَهْلُ التَّقْوى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun. (QS. al-Mudatsir: 56)

Al-Quran menganggap takwa sebagai nur (cahaya) dari Allah (QS. al-Baqarah : 282) dan menggandengkan takwa dengan kebaikan (QS. al-Maidah: 2) dan keadilan (QS. al-Maidah: 8).

Sekarang kita harus melihat hakikat takwa yang merupakan modal maknawiyah paling besar dan kebanggaan bagi manusia. Al-Quran telah memberikan isyarat yang mengungkap hakikat takwa dan menyebutkan dalam sejumlah ayat bahwa hati adalah tempat bagi ketakwaan:

أُولئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوى

Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa”.(QS. al-Hujurat: 3)

Dan al-Quran menjadikan takwa sebagai lawan dari kefasikan:\

فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (QS. as-Syams: 8)

Al-Quran juga menganggap setiap amalan yang muncul dari jiwa yang beriman dan ikhlas serta niat yang jujur merupakan dasar ketakwaan sebagaimana ia mensifati masjid Quba (di Madinah) yang dibangun oleh orang-orang munafik yang berlawanan dengan masjid Dhirar:

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu solat di dalamnya”. (QS. at-Taubah: 108)

Makna Taqwa dari keseluruhan ayat-ayat di atas dapat kita pahami bahwa ketakwaan adalah kesadaran tentang tanggung jawab dan janji yang menetapkan keberadaan manusia, hal itu adalah hasil dari keteguhan iman dalam hatinya yang ia hindarkan dari kefasikan dan dosa serta mengajaknya untuk beramal soleh dan membersihkan amalan-amalan manusia dari berbagai kotoran dan menjadikan pikiran dan niatnya bersih dari berbagai noda.

*Fairozi, Pengiat ISQH Nasional, sedang menyelesaikan studi magister di Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *